POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Menjelang Ramadhan Rindu Kampung Halaman Tempatku Dilahirkan

RedaksiOleh Redaksi
March 17, 2023
Menjelang Ramadhan Rindu Kampung Halaman Tempatku Dilahirkan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hamdani Mulya

Di desa nan jauh dari hiruk pikuk perkotaan, di sebuah kampung kecil nan indah, semilir angin berhembus sepoi-sepoi. Kampung itu bernama Paya Bili, Kec. Meurah Mulia, Kab. Aceh Utara. Di desa itulah Aku dilahirkan pada 10 Mai 1979, dari seorang ibu bernama Ummi Manauyah dan ayahku bernama Tgk. Ibrahim PMTOH seorang seniman hikayat Aceh. Di desa yang sejuk dikelilingi sawah membentang dan alami ini, aku banyak menyimpan kenangan masa kecil.

Di desa ini aku sejak usia dini belajar membaca Al-Qur’an kepada nenekku Hj. Anduwah dan kakekku Tgk. Budiman Musa seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan RI. Di kampung Paya Bili juga aku sekolah SD, lalu di SMPN 1 Meurah Mulia di Kuta Bate desa tetangga Jungka Gajah, dan melanjutkan SMAN 1 Samudra Geudong di kota kecil daerah jejak Kerajaan Islam Samudra Pasai, Kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Aku tak bisa melupakan bayangan kenangan masa kecilku shalat tarawih bersama Tgk. Sulaiman imam meunasah, yang sering kami panggil Abi. Kadang kala imamnya Tgk. Erwin Ilyas imam cilik yang sudah alim sejak remaja. Aku hanya bertindak sebagai muazzin jika bilal berhalangan hadir.
“Ayo kita mengaji di meunasah,” seru Tgk. Amir yang kini menjadi salah seorang guru di sebuah madrasah.

Senda gurau bersama teman-teman masa kecil masih melekat dalam ingatanku sampai sekarang. Kami hampir saban hari buka puasa bersama di meunasah (surau).

Tahun 1998 aku berangkat ke ibu kota provinsi, Banda Aceh, kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala. Setelah wisuda tahun 2003 aku kembali ke kampung. Beberapa tahun aku tinggal di kampung sambil menjadi guru di beberapa sekolah. Akhir bulan Desember 2007 aku meminang seorang gadis bernama Sri Wahyuni SY dan kami menikah. Sampai hari ini aku tinggal di kampung isteriku, desa Sumbok Rayeuk, Kec. Nibong, Kab. Aceh Utara.

📚 Artikel Terkait

Jalan Kaki Hingga 6 Km, Direktur CCDE Bantu Dua Sepeda untuk Dua Siswi MAN 4 Aceh Selatan

Falsafah Perang adalah Penentu Kemenangan

5 Sepeda untuk Program 1000 Sepeda

Jati Diri

Setiap menjelang ramadhan, aku selalu merindukan Ibuku, teringat kampung halaman tempat aku dibesarkan. Kadang kala terkenang di jiwaku senyum si Nazar teman satu SD dan kawan satu balai pengajian. Kadang teringat si Zulkarnaini teman seperjuangan persatuan sepak bola clup bola kaki tim anak-anak.

Di jendela jiwaku kadang terkenang sawah nenekku yang sedang menguning. Aku sering dapat tugas kumit tuloe (mengusir burung pipit). Aku sering tertidur di rangkang blang (dangau), karena sejuknya angin yang berhembus membelai wajah luguku saat itu. Nenekku sering membangunkan Aku yang tertidur di rangkang blang.

Ada sedikit lagi ceritaku, rupanya aku dulu sering menabuh bedug (peh tambo) membangun insan terpilih makan sahur.

Aku juga waktu itu menabung uang di celeng yang terbuat dari pohon bambu, sebagai bekal uang di hari raya. Wajah bibiku yang  li panggil Mak A dan pamanku yang  Lu panggil Pak A sering muncul dan terbayang saat menjelang bulan suci Ramadhan. Aku sering datang menonton TV ke rumah bibiku untuk menghibur diri. Jika hari raya tiba anak-anak senang dan riang, banyak dapat uang dari sanak kerabat saat berkunjung.

Ibu dan bibiku setiap menjelang hari raya Idul Fitri sibuk menumbuk tepung dengan jeungki, sejenis alat teknik penumbuk tepung tradisional made in Aceh. Kue-kue tradisional pun dibuatkan seperti keukarah, nyap, dan timphan untuk dihidangkan kepada tamu yang berkunjung di hari raya.
Ada 1001 kenangan yang tak mungkin aku ceritakan semua. Kisah remajaku yang penuh suka dan duka. Kini 19 tahun sudah lebih kurang menjadi guru di berbagai sekolah, semoga melahirkan murid-muridku yang berguna bagi agama Islam, nusa, dan bangsa. Salam cinta untuk Ibu dan Ayahku, untuk guruku, dan teman teman semua.

Penulis : Hamdani Mulya
Otobiografi Singkat
Catatan : Dulu meunasah ini terbuat dari kayu dan papan, sekarang sudah direnovasi menjadi permanen.

Paya Bili-Sumbok Rayeuk, 16 Maret 2023

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 70x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 57x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
150
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Kucari Jejakmu

Kucari Jejakmu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00