
Oleh Zulkifli Abdy
Kincir-kincir waktu terus
saja berputar
Tak pernah berhenti walau
pun sebentar
Menghela nafas musafir
yang kian terengah
Gemericik air gemuruh di
dalam labirin yang acuh
Dari suara detak alu yang
bertalu silih berganti
Tenggelamkan imaji ke
palung yang dalam
Relung dimana kesunyian
itu pernah kita semai
Di kaki lembah yang basah
kita saling melerai rindu
Rindu yang menitis di helai
daun-daun randu
Seketika mata-hati saling
memandang
Di belantara keping-keping
asa yang telah hilang
Inilah episode kehidupan
yang tak pernah usang
Laksana senandung renyuh
nyanyian abadi.
(Z.A -Kutaradja, 7 September 2022).
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 361x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 297x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 226x dibaca (7 hari)
Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa
28 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.










