• Latest
Sajak-sajak Bussairi D. Nyak Diwa

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Juni 30, 2022
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Redaksiby Redaksi
Juni 30, 2022
Reading Time: 2 mins read
Sajak-sajak Bussairi D. Nyak Diwa
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Bagian 2 Bussairi D. Nyak Diwa Seandainya tak ada dorongan dari guruku untuk bersekolah, mungkin tak sedikitpun ada keinginan dalam diriku untuk bersekolah. Tapi begitulah perhatian dan kecintaan seorang guru terhadap muridnya saat itu, seperti tak ada bedanya dengan anak kandungnya sendiri. Kenapa demikian? Ini mungkin karena kami sebagai murid kala itu sungguh-sungguh sangat hormat […]

Bagian 2

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Bussairi D. Nyak Diwa

Seandainya tak ada dorongan dari guruku untuk bersekolah, mungkin tak sedikitpun ada keinginan dalam diriku untuk bersekolah. Tapi begitulah perhatian dan kecintaan seorang guru terhadap muridnya saat itu, seperti tak ada bedanya dengan anak kandungnya sendiri. Kenapa demikian? Ini mungkin karena kami sebagai murid kala itu sungguh-sungguh sangat hormat dan mencintai guru. Kami juga menganggap guru seperti orang tua sendiri.

Bapak M. Din Samsuddin, guru sekaligus kepala sekolah yang sangat kuhormati itu sungguh-sungguh sangat perhatian kepadaku. Aku masih ingat, saat aku mulai duduk di kelas V, Beliau memberikan kebebasan dan keleluasaan kepadaku untuk mengelola perpustakaan sekolah. Mulai dari membersihkan, mengatur buku di rak-rak buku, hingga proses peminjaman buku. Aku juga bebas meminjam buku, sehingga aku dapat memanfaatkan perpustakaan sekolah itu kapan saja. Terlebih-lebih karena kunci ruang perpustakaan sekolah itu aku yang pegang. Mungkin Beliau tahu bahwa aku sangat hobi membaca buku. Baru setelah aku lulus dari sekolah yang bernama SD Negeri Beutong itu, dengan perasaan sedih kunci ruang perpustakaan kuserahkan kepada Beliau.

“Bus, jika kamu melanjutkan sekolah, Bapak yakin engkau akan menjadi orang yang berguna nanti. Dan jika kamu sukses kelak, kamu tidak mesti bekerja membanting tulang, sebab tubuhmu tidak akan mampu kau tempa untuk bekerja bertat,” begitu argumen Beliau padaku di suatu hari.

“Kau takkan sanggup menjadi petani, kau takkan mampu menjadi pelaut, apalagi menjadi pekerja dengan mengandalkan tenaga tubuhmu.”

“Oleh karena itu sekolahlah. Sebab kelak jika kamu berhasil, kamu akan bekerja dengan menggunakan pikiranmu….”

Aku bingung, sebab kala itu aku belum mengerti dengan kata-kata nasihat yang disampaikan guruku itu. Barulah puluhan tahun kemudian aku mengerti, itu pun setelah guru yang sangat kucintai itu kembali ke haribaan Ilahi Rabbi (alfatihah).

Begitulah, ketika sebulan kemudian Ayah meminta aku untuk menjawab pilihan antara mengaji   atau sekolah, tanpa ragu sedikitpun aku menjawab sekolah. Ayah tidak mengulang pertanyaannya.

“Baik, tapi kamu harus sungguh-sungguh dalam belajar,” ayah mengiyakan keinginanku bernada menasihati. Setelah itu Ayah tak pernah bertanya lagi padaku tentang sekolah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
KEPADA PARA GURU KAMI

KEPADA PARA GURU KAMI

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com