Rabu, April 22, 2026

LAJULAH BIDUKKU LAJU, ACEH LON SAYANG

Juni 2021
Oleh: Redaksi

 

     (Khayalis: Syam S)

Ada harapan yang asyik diam-diam muncul

Ketika kurengkuh dayung bidukku hari ini

Melepas beban berat menindih

Ombak yang tersibak tak lagi merenggut

Bidukku laju mengharungi laut berpindah jejak

Aku harap bidukku tiba di tepian pantai

Labuhan hati nyiur melambai cemara berderai

Bertatahkan pasir yang kemarin kering

Membayang lagi tsunami menerjang berang

Lajulah bidukku laju

Jauh nun diseberang sana

Padang alang-alang menunggu sawit kebun palawija

Pohon-pohon besar di hulu dan di hilir

Daunnya gugur dalam pergantian musim, hijau dan menawan

Lupa lelah merengkuh dayung dan lelap sesaat

Lalu dibuai mimpi indah sekejap

Tiba-tiba bidukku terguncang

Laut menggelora disingkap layar merah darah

Jerit burung laut membangunkan mimpi sebelum malam

Gemuruh dada dan detak hati di putih jantung

Ada kaki-kaki yang berpindah jejak, mengangkangi janji

Ketika senasib mengayuh biduk di laut lepas

Ditunggangi nafsu hedonis

Mengupas dan menguras laut mengering

Aduhai, bidukku tak lagi melaju

Terbayang lagi kancah yang dulu berang

Terbayang lagi ciap anak ayam kehilangan induk

Terbayang dentuman peluru hingar bingar

Terbayang api ruang tak berbatas ini

Karena di tengah kancah ada yang bernyanyi ria

Independensi dan demokrasi

Padahal bensin paling peka dalam genggamnya

Kurengkuh lagi dayung bidukku hari ini

Selagi beban berat tetap menindih

Laut yang menggelora memutar buritan

Bidukku terguncang

Sebelum bidukku tersesat di laut kembara

Aku bertanya untuk penghabisan tanya padamu

Di mana kau berdiri dan menunai janji ?

Lihatlah tanah ini tempat kita berdiri

Aceh loun sayang (tanah Aceh yang kusayang)

Bersemi konflik dan konflik lagi

Dari regulasi bakal berbuah petaka negeri

Aku telah bulat tekat

Tak kubiarkan cinta sirna kehabisan darah

Demi nama Tuhan, berkatalah sebenar kata

Jangan biarkan lumpur hitam mengalir, laut merah membara

Di laut ada nelayan

Di sawah petani berladang

Guru berdiri didepan kelas

Anak mungil di depan rumah

Jangan biarkan mereka berduka

Jangan biarkan mereka sengsara

Jangan biarkan ayahnya tiada

Jangan berikan mereka nestapa

(Dahlia 11, Bna 24 Nov 2011. Dedikasiku buat nanggroe Aceh)

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist