• Latest

Buku Diary Ungu

Desember 29, 2018
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Buku Diary Ungu

Redaksiby Redaksi
Desember 29, 2018
Reading Time: 8 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 Oleh : Sitti Zahara Tarmizi
Siswi SMA Negeri 1 Ule Gle, Bandar Dua, Pidie jaya
Sayup-sayup terdengar suara azan subuh berkumandang di sebuah masjid dekat rumahku. Udara dingin menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamarku. Tampaknya malam telah beranjak pergi dan sang matahari akan segera keluar. Suara-suara kesibukan di dapur mulai terdengar.
Suara langkah kaki ibu menghampiri kamarku. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu kamarku beberapa kali. Ia membangunkanku dengan caranya yang begitu lembut. Sebenarnya, mataku masih mengantuk. Ingin rasanya kembali menarik selimut dan terbang ke alam mimpi.
“Zahara! bangun nak, salat subuh dulu dan siap-siap ke sekolah. Jangan lupa mandi dulu” ibu selalu mengingatkanku. Sebenarnya, aku telah jadi remaja, tapi bagi ibuku, aku adalah seorang anak kecil yang selalu merengek dan ingin dimanjanya. Aku perkenalkan diriku dulu. Namaku Sitti Zahara Tarmizi. Karena terlalu panjang, orang tua dan teman-teman memanggilku Zahara. Tarmizi nama ayahku. Aku putri kedua dari 4 bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak perempuan yang kini dia mahasiswa di Universitas Syiahkuala Banda Aceh. Aku juga punya  3 orang adik. Umurku kini hampir memasuki 18 tahun. Kini aku duduk di bangku SMA kelas 3. Nama sekolahku SMA N 1 Bandar dua yang berada di Pidie Jaya, Aceh.
Pintu kamar kubuka perlahan, dengan rasa malas ku menuju ke kamar mandi. Setelah itu mengerjakan salat subuh. Jam menunjukkan pukul 07:00 menit. Semua perlengkapan sekolah telah aku siapkan semalam. Ibu selalu menyuruhku sarapan pagi.
  “Zahara.. jangan lupa makan ya nak, ibu antarin adik dulu ke sekolah, uang jajan di atas meja jangan lupa diambil”
“Iya bu, hati-hati ” ( sahutku dari dalam hati).
Semenjak ayahku sakit, ibuku yang menafkahi aku sekeluarga. Sering air mata membasahi pipinya ketika tidak ada jajan untuk kami.
Jam tujuh lewat aku ke sekolah dengan temanku, Waddah. Ibuku belum mampu membelikan aku kendaraan untuk ke sekolah. Mulai dari pertama masuk SMA sampai sekarang aku ke sekolah dengannya.
Sesampai di sekolah, banyak siswa yang sudah datang. Linda menghampiriku ” Zahara.. kamu sudah sembuh ya, aku pikir kamu tidak hadir lagi” 
“Alhamdulillah sudah mendingan Lin. Aku rindu pelajaran fisika, makanya aku sekolah” sahutku sambil menuju tempat duduk ( fisika pelajaran favoritku). 
Bel tanda masuk berbunyi menandakan kami siap mengikuti pelajaran. Saat jam istirahat tiba, salah seorang siswi kelasku keserupan. Aku mulai takut. Dadaku sakit, perutku kembung, napas mulai tertahan. Aku sesak. Jantungku terlalu lemah. Kata doktor kenaikan asam lambung terlalu tinggi. Aku mengalami penyakit ini sejak aku kelas 3 SMP. Semenjak itu aku tidak bisa terlalu capek, berat beban pikiran dan banyak makanan yang harus ku jauhi. Aku sering sesak, busa dikatakan sebulan sekali harus dirawat. Nama penyakitku Gastritis.
“Teman-teman Zahara sesak lagi” (kata Linda teman sebangku ku)
“Apa? Zahara sesak lagi?(Dewy mulai panik)
Liya berkata ” lebih baik kita bawa dulu ke kantor”
Waddah tak tinggal diam ” iya.. biar aku yang kemasin perlengkapannya”.
Sesampai di kantor aku dibawa pukesmas terdekat.
Hari demi hari, bulan demi bulan berganti tiba saatnya ujian. Aku belajar tanpa henti. Bahkan aku sering menangis ketika ada yang tidak kupahami.
Saat pembagian rapor tiba. Dengan jantung berirama aku ke sekolah. Kepala sekolah mengumumkan siswa-siswa yang berprestasi. Dengan rasa tak percaya dan hampir pingsan ketika namaku tak disebutkan. Tanpa terasa air mataku jatuh. Aku menangis. Teman-teman terus menghiburku. Tapi tidak ada seorang pun yang bisa menghapus rasa sedih kehilangan prestasi di hatiku.
Hari-hari, ku jalani seperti biasanya. Kehilangan prestasi membuatku tertekan, aku pun sering sakit. Aku mulai lelah dengan penyakitku. Aku ingin menumpahkan segala isi hatiku dalam buku diary ungu yang telah kusimpan beberapa tahun yang lalu. Sengaja aku belikan warna ungu karena ungu kesukaanku.
Aku menarik napas panjang, lalu mencoret pena di lembaran diary ungu.
” Dear diary… aku sedih sekali. Aku telah lelah menghadapi penyakitku, prestasi kini tinggal mimpi. Aku tahu ini cobaan Ilahi untuk diriku, tapi aku tidak sanggup menahannya lagi..
  ” Dear diary… aku juga kasihan melihat ibuku membanting tulang sendirian demi kami bisa makan, yang selalu menjagaku ketika sakit. Ayahku juga sakit, tidak bisa kemana-mana lagi. Terkadang tanpa terasa air mataku jatuh ketika mendengar rintihan ayah.
“Dear diary.. aku rindu kesembuhan ayahku dan diriku..
(Tanpa terasa air mata jatuh..)
Tuhan…
Jikaku pergi menghadap-Mu nanti
Tabahkanlah hati orang yang menyayangiku
Tuhan ..
Jika penyakitku gak bisa diobati lagi, 
Jemputkanlah aku
Tuhan..
Sebelumku pergi menghadap-Mu izinkan aku membalas jasa orang tuaku
Tuhan…
Aku ingin mereka bahagia
Tuhan….
Hanya kepadaMulah ku dapat meminta”
Dengan berderaian air mata, ku menutup buku diary unguku dan ku simpan pada tempat semula .

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

Discussion about this post

Next Post

Tidak Ada Gunanya Menjadi Anak Nakal di Sekolah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com