• Latest

Oh Mama

Oktober 23, 2018
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Oh Mama - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Oh Mama

Redaksi by Redaksi
Oktober 23, 2018
in Cerpen, Kisah, Petuah, Potret Remaja, Sastra
Reading Time: 6 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
Ilustrasi : TribunJabar
Oleh Cut Alya Allyva
Kelas VIII SMP Negeri Bandar Dua, Pidie Jaya, Aceh
Sore itu, di kala hujan turun, membahsai daun-daun, langit ditutupi awan, berkabut tebal menurunkan butiran-butrian air nan jernih. Sesosik gadis berparas cantil dan anggun baru saja pulang sekolah. Liza namanya. Tidak salah kalau orang-orang menyebutnya cantik. Namun, agak aneh, karena mukanya terlihat masam, ya amat masam.
Ya, wajahnya cemberut, pucat dan marah, seraya  melepaskan jaket merahnya yang basah karena hujan. Ia melemparkan jaket itu ke lantai dan memanggil ibunya, “ Mak” dengan nada suara yang keras. Tak lama kemudian, di balik pintu kayu yang bermotif bunga, keluarlah sosok perempuan tua dengan wajah yang amat teduh dan senyuman yang amat hangat. Ia berjalan membungkuk dan memegang pundak putrinya sambil bertanya. “ Ada apa rembulan hatiku?”
Bukannya menjawab pertanyaan manis itu, malahan ia berbalik bertanya kepada wanita tua itu. “ kemanakah baju-bajuku Mak?” Tanya Liza dengan nada agak membentak. Wanita tua itu hanya diam sejenak, lalu berkata. “ Bajumu belum kering Liza, dikarenakan hujan yang sudah mngguyur selama dua hari, tiada henti”
Hmmm, bukannya ia mengerti  dengan perkataan ibunya, justru Liza terlihat kesal dari sebelumnya. Ia langsung beranjak pergi, meninggalkan ruangan, lalu pergi ke kamarnya. Sementara wanita tua itu hanya bisa menyaksikan apa yang dibuat oleh anaknya. Ia hanya terdiam membisu, lalu pergi ke dapur untuk memasak.
Khuk khuk khuk, suara pertikaian batuk terdengar di langit-langi rumah bambu sederahana itu. Liza barusan keluar dari  kamar untuk mengambil air putih hangat di dapur, langsung mengerenyitkan kening dan berkata, Mak, tidak bisakah Mak tidak batuk saat memasak? Virus dan bakteri batuknya Mak dapat menular dan termakan lagi!
Kata dan kalimat itu lansgung terlontar begitu saja, keluar dari bibir kecil ranum Liza. Mulut manis berbisa, kata dan kalimat itu singkat dan jelas, namun beracun. Lagi-lagi wanita tua itu terdiam membisu. Itu semua dikarenakan Liza adalah segala-galanya . Ia tidak mempunyai anggota keluarga lain. Suaminya sudah lama tiada. Kini ia hanya punya satu-satunya rembulan kasih sayangnya.
Sekarang, wanita tua itu tidak lagi berada di dapur. Ia mencuci baju. Walau dengan rasa penat dan lelah,  seakan-akan itu semu dalam pikirannya. Senyum kehancuran. Semua ia tutupi, walaupun hatinya terkikis. Ia tetap menganggap senyum adalah obat bagi hatinya yang rindu akan saat suaminya masih ada, masih dapat menjaga dirinya dan Liza anak satu-satunya. Namun itu semua adalah masa silam. Ia tahu benar bahwa waktu terus berjalan dan tak menunggu dirinya. Ia tak bisa terus terbuai dalam mimpinya. Ia harus terus berusaha semaksinal mungkin  agar dapat menghidupi Liza.
Sementara itu di dalam kamar, bernuansa sepi, Liza seorang diri asyik membaca komik. Ia tidak peduli apa-apa. Justeru ia lebih memilih berbaring di dalam empuknya Kasur dan terbuai mimpi dan membuarkan terus waktu berjalan,
Tanpa terasa, sebulan berlalu dan waktu berjalan begitu cepat. Penyakit kronis infeksi pernafasan pun terus menggerogoti tubuh perempuan tua renta tersebut. Liza sendiri, sebenarnya tidak tahu bahwa ibunya sudah sakit separah itu. Ibu sengaja tidak memberi tahu Liza, karena Liza sendiri pasti sukar mendengarnya.
Pukul 03.30 WIB
Usai salah tahajut untuk terakhir kalinya, wanita tua itu berjalan membungkuk, ia terjatuh dan tersungkur, terkapar di lantai, di samping sajadah satu-satunya. Ia pun pergi meninggalkan anak satu-satunya, Liza.
Sungguh ia sudah melakukan tugasnya sebagai sosok ibu yang amat tabah. Semua rasa kecewa ia hempaskan. Semua makian milik tutur kata anaknya. Ia telan semuanya. Ia hanyutkan ke lautan dalam bilik hatinya.
Sementara itu, di kala fajar pagi meremang. Liza pun terbangun dari lamunan. Kicau burung bernyanyi, semilir angina membawa harum rerumputan, sejuk menyapu wajah paginya saat wudhu, Liza pun termenung dan bertanya dalam hati. Mengapa pagi ini rumah sangat sepi? Hanya dengungan hembusan angina sejuk yang menyertai.
“ Kemanakah Ibu?” tanya Liza dalam hati. Liza lalu ke kamar ibu dan melihat sesosok tubuh tergelatak di lantai. Tubuh yang tidak berdaya, tak bernyawa. Tidak ada lagi detak jantung. Ia sudah pergi. Suasana hening, tak bersuara.
Seketika hati Liza membuncah dengan sejuta rasa. Hati yang tercampur aduk. Hati yang berkeora bagaikan ombak, pecah menyisir pantai. Tubuh Liza terjerembab. Suara Liza tertahan. Nada suaranya serak, kantung matanya seakan sepeti bendungan yang tidak hanya mengalir dari matanya. Namun, jelas ke seluruh tubuhnya dan jiwanya terdalam.
Liza sekarang antara sadar dan tidak. Ia justru sedang duduk berlutut. Baju  garis-garis merahnya terkena lumpur tanah merah. Ya, lumpur tersebut adalah lumpur tanah merah dari tenpat pemakaman barusan. Kini ia tersadar sambil terisak, batinnya begitu pedih dan pahit. Ia kini sudah tidak bisa lagi melihat wajah teduh Mak, tiada lagi suara Mak yang lembut. Tiada lagi senyuman dan hangatnya pelukan tangan Mak yang keriput. Mak, yang biasanya membelai hati Liza dengan kasih sayang.
Kini ia tersadar benar bahwa selama ini ternyata lebih banyak tangisan di hati Mak, dibandingkandi matanya. Ia telah merobek hati Mak. Tanpa disadarinya, ia telah berbuat salah. Tutur katanya yang ia ucapkan setiap hari bagaikan meludahi hati Mak.
Entahlah. Namun sekaranf Liza sedang memanggil-manggil, Ooo Mak!!!
Tidak ada lagi kasih sayang Mak
Kini hanya gemburan tanah yang hanya bisa Liza tangisi

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
SummarizeShare234Tweet146
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Next Post

Pengembara Jalanan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com