• Latest

YANG TAK MAU TERKUBUR DI DAPUR

Maret 12, 2018
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

YANG TAK MAU TERKUBUR DI DAPUR

Redaksiby Redaksi
Maret 12, 2018
Reading Time: 2 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Melintasi jalan-jalan di pasar Thamel, Katmandu, Nepal menjelang malam
Jum’at, 7 Mai 2010, beberapa perempuan, berpakaian agak kumal, berjualan di
emperan toko dan tembok bangunan yang tinggi. Sebuah gerobak kecil yang
berisi dagangan yang kalau dihitung-hitung nilai dagangannya tidak lebih
dari Rp 500.000,-. Hanya ada barang berupa sejumlah permen, beberapa botol
air mineral dan makanan kecil. Orang-orang yang membelipun hanya dari
kalangan kelas bawah.

Melongok keadaan itu, sontak pikiran penulis berjalan menerawang pada para
perempuan usaha kecil yang di beberapa negara lain. Sebut sajalah di
Philipina, Thailand bahkan juga di Malaysia. Di tahun 2006, penulis pernah
melihat para perempuan yang berbisnis di Manila bay, yang terletak di
pinggir pantai, di ibu kota Philipina, yakni Manila. Di sepanjang jalan itu
banyak orang berjualan. Mereka juga para perempuan. Begitu pula ketika
penulis berada di Maesot, sebuah kota di Thailand dekat perbatasan dengan
Burma, ada banyak perempuan yang berbisnis. Juga di Malaysia, negera
tetangga kita. Di negri persemakmuran ini Inggris ini, banyak perempuan yang
berdagang di gerai-gerai makanan di pinggiran jalan seperti Chawkit dan
lain-lain. Apalagi di negri kita tercinta Indonesia. Di setiap kota,
termasuk Aceh kita menyaksikan betapa banyaknya perempuan yang kini
berbisnis. Kita tidak perlu melewati atau melintasi semua- lorong, cukup
melihat di kaki lima saja. Di sinilah kita menemukan apa yang dinukil oleh
Hartoyo Andangjaya dalam sajaknya ” Perempuan-perempuan Perkasa”. Berikut
ini.

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka. Ke
stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Baca Juga

8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 30, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Dari awal tulisan ini, memotret perjalanan sosok perempuan yang selama ini
berkutat di sumur, dapur dan kasur. Karena dalam kacamata budaya dan
penafsiran agama yang sempit, kita selama berabad-abad secara tidak adil
dan tidak demokratis,telah membagi peran yang juga diskrimintif antara
laki-laki dan perempuan. Perempuan diposisikan pada sektor domestik, yang
hanya mengurus rumah tangga. Sehingga dalam keseharian, perempuan hanya
berkutat pada tiga wilayah domestik, yakni sumur dapur, kasur. Walaupun
wilayahnya hanya tiga, namun bebannya sangat berat dan sarat. Pekerjaan
peempuan di sektor ini seperti tidak pernah selesai. Mulai sejak sebelum
terbit matahari, hingga sebelum terbenam mata suami. Posisi perempuan di
sini, terkonstruksi sebagai penerima nafkah yang dibawa pulang suami.
Karena suami diposisikan bereparan sebagai pencari nafkah. Dengan demikian
dilihat dari perspektif tempat atau wilayah, laki-laki berperan di ruang
publik. Laki-laki mencari nafkah di luar rumah, tanpa ada beban mengurus
rumah tangga dalam ruang sumur, dapur dan kasur itu.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Terlambat Jatuh Cinta

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com