POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kegagalan Yang Tidak Menggagalkan

RedaksiOleh Redaksi
October 1, 2017
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Fajriah
Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Email : fajriahs@gmail.com
Semangat adalah  sesuatu yang dapat datang dari  sendiri atau hanya dengan mendapatkan sedikit motivasi dari orang lain. Saya melihat hal tersebut dari Nurul Ambia, murid saya yang direkrut  dari Meulaboh dari beasiswa PT Mifa di Meulaboh. Saya merasa beruntung mengenalnya sejak pertama kali dia menginjak bangku sekolah SMP. Tidak banyak hal yang istimewa darinya, tetapi saya melihat semangatnya yang luar biasa dalam menempuh jenjang pendidikan di SMP membuat saya cukup bangga mendidiknya.
Pertama kali saya mengenalnya, dia belum mampu membaca, menulis ataupun berhitung dengan baik. Pada saat itu mungkin masih sedikit susah baginya untuk mengeja sebuah kata yang terdapat huruf tambahan misalnya “jangan” dia akan menulisnya dengan kata “jagan”.  Kata-kata lain seperti “pergi” dia akan menulisnya dengan kata “pegi”.  Sulit baginya menulis kata-kata tersebut. Begitu juga halnya dengan berhitung, masih sangat susah baginya untuk menambah dan mengurangkan angka-angka apalagi untuk operasi perkalian dan pembagian. Tentu saja itu akan menjadi hal yang sangat sulit bagi dirinya. 
Mengamati hal tersebut, saya ingin setidaknya memberi sedikit motivasi untuk anak ini. Saya dan Usra, guru asuh dari asrama putri berinisiatif untuk mengajarinya secara intensif untuk belajar membaca dan berhitung. Hampir tiap malam kami memanggilnya secara khusus untuk menemui kami. Di situ saya memintanya menghafal perkalian mulai dari perkalian 1 sampai 10. Saya memintanya untuk menghafal dengan lancar.  Jika sedikit saja dia melakukan kesalahan, maka saya akan memintanya untuk mengulangi hafalannya lagi. Mungkin untuk satu perkalian dia menghafal sampal dengan 50 kali pengulangan. Beda halnya dengan Usra yang tugasnya mengajarkan dia membaca. Usra meminta Ambia menulis sesuatu kemudian meminta ambia untuk mengeja dan membacanya kembali. Saya sempat tersenyum membaca kalimat yang dibuatnya “ibu jagan pegi, saya nagis kalo ibu pegi”,  yang mungkin seharusnya ditulis “ ibu jangan pergi, saya nangis kalau ibu pergi”.  Setiap hari kami memintanya melakukan hal tersebut. Mungkin pada saat itu dia merasa bosan dan jenuh terhadap perlakuan kami
Akan tetapi hari demi hari berlalu, suatu ketika guru matematika memintanya untuk menghafal perkalian ke depan dan dia mampu melakukannya. Betapa saya melihat semangatnya menceritakan bahwa dia mampu menghafal perkalian dengan lancar. Begitu juga pelajaran bahasa indonesia, dia sudah mampu membaca dengan cukup baik, meskipun dia belum menjadi siswa yang terbaik di kelasnya,  ada perubahan yang sangat significant dalam dirinya. Semangatnya untuk menjadi siswa yang lebih baik itu semakin tumbuh dalam dirinya. Meskipun dia tahu dan  sangat sadar bahwa di akhir semester dia harus gagal karena dia masih banyak tertinggal dalam pelajaran.
Pada saat mendekati kenaikan kelas, dia memprediksi dirinya akan gagal dan prediksinya ternyata benar. Sempat terlintas di benaknya untuk kembali sekolah di Nagan Raya, dengan berbagai alasan. Dia merasa malu untuk melanjutkan sekolah di sini, tapi saya mencoba meyakinkannya untuk terus melanjutkan sekolah di Sukma, karena saya tahu dia bisa berubah menjadi lebih baik. Akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Sukma Bangsa, beberapa dari temannya yang juga berasal dari Nagan Raya  dan  gagal tidak mau melanjutkan lagi sekolahnya di sini.
Dengan semangat yang baru, dia mencoba belajar lebih giat. Banyak perubahan yang saya amati dari dirinya . Ketika pembelajaran saya berlangsung, saya sering mengamati dia mencoba menjelaskan kepada temannya yang belum paham. Suatu ketika dia curhat dan mengatakan  “apa jadinya saya ya bu, jika saya pindah ke sekolah lain, pasti saya tidak mendapat perhatian dari guru. Mereka di luar pasti lebih memilih memperhatikan anak-anak yang lebih pintar. Saya beruntung melanjutkan sekolah di sini dan sebenarnya saya kangen cara ibuk memaksa saya menghafal perkalian di waktu dulu,”.  Dalam hati saya berpikir pada akhirnya semua orang akan sadar bahwa yang kita lakukan sekarang mungkin buruk dimata mereka , tapi pada akhirnya mereka akan berterima kasih bahwa kita sudah mau melakukan hal tersebut.
Bagi saya menjadi guru bukan hanya sebatas mentranfer ilmu ke siswa. Guru hanya fasilitator, siswa dapat memperoleh informasi dari mana pun, dari internet atau dari sumber manapun. Bahkan tidak menutup kemungkinan siswa memiliki wawasan yang lebih luas dari gurunya, tapi ada bagian tugas penting bagaimana kita sebagai guru mampu  memotivasi mereka untuk terus berkembang menjadi lebih baik. Memberi contoh yang baik bagi siswa-siswi di sekolah sebagaimana dituntut dalam kompetensi kepribadian.
Di sekolah Sukma Bangsa, kami tidak mengajarkan hal yang terlalu muluk kepada siswa kami untuk menjadi pribadi yang luar biasa. Kami sebagai guru hanya berusaha mengajarkan beberapa nilai-nilai kecil yang mungkin manfaatnya akan dirasakan nanti ketika siswa-siswi kami sudah menempuh hidup di masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat berupa  bagaimana menjadi seorang yang jujur, di antaraanya dengan mempercayai kemampuan diri sendiri untuk tidak mencontek, meskipun mereka gagal, setidaknya itu adalah murni kemampuan mereka sendiri. Mereka juga diharapkan siap menerima kegagalan jika mereka  gagal. Sikap Ambia yang mampu menerima kegagalannya merupakan suatu cerminan untuk tidak terpuruk dalam situasi buruk. Baginya  dunia belum berakhir walaupun dia gagal. Dia mampu bangkit menyemati dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik.
Sama halnya seperti ilmuwan  Thomas Alfa Edison yang tidak menyerah untuk menemukan jenis material yang mampu menghidupkan sebuah lampu. Meskipun dia sudah gagal sebanyak 9955 kali, dia hanya menyebutkan hal tersebut bukanlah kegagalan, tapi bagaimana dia menemukan 9955 jenis material yang tidak dapat menghidupkan sebuah lampu. Apa jadinya jika pada saat itu Thomas menyerah pada penemuannya.
Belajar dari kedua orang tersebut, Ambia bukanlah seorang ilmuwan yang menciptakan sesuatu, tapi darinya saya belajar bagaimana menghadapi kegagalan. Semangat pantang menyerahnya membuat saya salut kepadanya. Mungkin jika saya berada diposisinya saya akan merasa terpuruk dan tidak mau mencobanya lagi.  Tapi dia sudah membuktikan bahwa dia bisa menjadi lebih baik. Di sisi inilah saya masih harus berguru kepadanya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Guratan Pena, Harapan Bangsa

Profesor Agung Pranoto Mengapresiasikan Buku Sajak Secangkir Air Mata, Karya Hamdani Mulya

Jokowi dan Anies, Satu Takdir Selalu Disalahkan

Kautsar Sarankan Bangun Monumen Reformasi Di Banda Aceh

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Jangan Habis Sia-Sia Kuota Internet, Yuk Berbisnis Online !

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00