HABA Mangat

HABA Mangat

Puisi

Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.

Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.

Sayatan

 Oleh Ria AndeliaKumendengar suara goresan Yang membuat hatiku terasa sakitTubuhku kaku seakan waktu telah terhentiDia hadir dengan ribuan rayuandan pergi tanpa berucap...

Bersih

 Oleh Alya Amira AsshifaKebersihan...Sungguh engkau yang kujaga... Engkaulah yang kunanti...Kebersihan...Seandainya saja engkau tidak adaMaka bumi ini akan sakit...Betapa sedihnya hidup...

Tanpa Jeda

Untuk Suami TercintaOleh, Lina Zulaini Kamu, orang asing yang kutemui beberapa saat lalu. Memilihku jadi bagian terpenting dalam hidupmu. Tentu, semua telah Allah...

Masa Depan Mereka

  Nana AprilyaSiswi Madrasah Tsanawiyah Swasta, Juli, Bireun, Aceh  Ketika tirai mulai terbukaSang surya menampakkan sinarnyaKulihat segenap harapan jiwaImpikan hayalan menjadi nyata Kususuri jalan setapakTak lebar namun menggairahkanWalau banyak rintanganKuhempas dengan tekad yang kuat Di tengah perjalananMata mengalihkan pandanganPada dua insan cilikMenadahkan tangan mata memelas Timbul rasa iba di hatikuKu dekati mereka, sembari bertanyaApa yang kalian lakukan disiniTidakkah kalian bersekolahDimana ayah dan ibu kalian? Suara lembut mereka mulai menyahutKami di sini mencari uangBekerja keras untuk bisa makanKami tak bisa bersekolahKami sendiri tak ada ayah tak punya ibu Mataku pedih penuh haruPertanyaan dalam hati beralih pada duniaTidakkah kau peduli pada merekaKau biarkan mereka terlantarDimanakah pedulimu wahai dunia?Pedulimu membuka harapan mereka 

Page 82 of 94 1 81 82 83 94

HABA Mangat