Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Ria AndeliaKumendengar suara goresan Yang membuat hatiku terasa sakitTubuhku kaku seakan waktu telah terhentiDia hadir dengan ribuan rayuandan pergi tanpa berucap...
Oleh Alya Amira AsshifaKebersihan...Sungguh engkau yang kujaga... Engkaulah yang kunanti...Kebersihan...Seandainya saja engkau tidak adaMaka bumi ini akan sakit...Betapa sedihnya hidup...
Oleh Alya Almira As Shifa Tepat pada tanggal 17 Agustus 1945Pada saat itulah indonesia sangat berbahagia dengan banyak rintangan yang telah...
Tantangan SenjaKujejaki jembatan rindu laut Malaka kuseberangiKutitip senja di ufuk barat Bila malam tiba baru tiba Daku menyeberangi gelombangArah angin tak bertepi...
Untuk Suami TercintaOleh, Lina Zulaini Kamu, orang asing yang kutemui beberapa saat lalu. Memilihku jadi bagian terpenting dalam hidupmu. Tentu, semua telah Allah...
(Puisi Di Perjalanan)*Khayalis : Syamsuarni SetiaPahit di sudut bibirDitelan susah dibuang sayangBiar kukulum di bawah lidahPerasaan pun terguncang...
Oleh Muhammad NazarMhs. Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar-Raniry, Banda AcehMulai terlintas di kepalabahwa aku ingin...
Nana AprilyaSiswi Madrasah Tsanawiyah Swasta, Juli, Bireun, Aceh Ketika tirai mulai terbukaSang surya menampakkan sinarnyaKulihat segenap harapan jiwaImpikan hayalan menjadi nyata Kususuri jalan setapakTak lebar namun menggairahkanWalau banyak rintanganKuhempas dengan tekad yang kuat Di tengah perjalananMata mengalihkan pandanganPada dua insan cilikMenadahkan tangan mata memelas Timbul rasa iba di hatikuKu dekati mereka, sembari bertanyaApa yang kalian lakukan disiniTidakkah kalian bersekolahDimana ayah dan ibu kalian? Suara lembut mereka mulai menyahutKami di sini mencari uangBekerja keras untuk bisa makanKami tak bisa bersekolahKami sendiri tak ada ayah tak punya ibu Mataku pedih penuh haruPertanyaan dalam hati beralih pada duniaTidakkah kau peduli pada merekaKau biarkan mereka terlantarDimanakah pedulimu wahai dunia?Pedulimu membuka harapan mereka
SURAT UNTUK DUA DARA SATU AGAM(Untuk Tiga Buah Hati) Kurebahkan sukma dengan balutan jasad yang mulai rentalangkah kaki tak lagi seimbangtangan...
(Khayalis: Syam S)Ada harapan yang asyik diam-diam munculKetika kurengkuh dayung bidukku hari iniMelepas beban berat menindihOmbak yang tersibak tak...
© 2026 potretonline.com