
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Nova JuliaMahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN-Ar-Raniry, Banda Aceh4+Tanpa terasa kau sudah berbakti untuk negri...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani YunisihatTataplumat dalam-dalamPejamkan mata sejenakRasakan senyum mengulumsuka, ceria dan gembiradi balik luka mengangaitulah harudalam wajah-wajah lugumenyemburkan rindupada masa-masa baruLihatlah wajah lucusedikit...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: MardianaGuru MIN 5 Kota Banda AcehMutiara kelana.....Di ufuk timur matamu mulai pecah memerahmenyelinap muncul di bawah perahu sang bundaSuara terisak...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Faizan NubzaSambut sebuah hari dalam kerinduan yang telah menepi ke sebuah kalbuRasanya kerinduan itu enggan berlayar ke kalbu yang lainNamun apa...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh MaulidaKelas XIII SMA Negeri 2 Sampoiniet, Aceh Jaya Akhir dari sebuah ceritaPilu, lara tenggelam bersama senjaTak banyak aksara yang dapat...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani YunisDari titik adabersua di ujung senggamaasal mula manusiaAllah meniupkan ruh dalam jiwaMaka adaRahasia Sang Pencipta Tak ada yang mampu...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani YunisGelegar - gelegar suara Berselimut gundah para penjaga rajaSeperti memelas belamengambil mukapenguasa - penguasa istanaSuara-suara digulung gelombang asaBeriak menuju...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Martha Redyana BabaSaling melemparkan gurauan di besi pembawa beritaHari itu tidak seperti biasanya Kami tidak menghiraukanmu kala ituEsoknya kami mendengar...
Baca SelengkapnyaDetailsKAU PUISIKUKepada Pemilik hatiSetelah kejadian itu jiwaku menjadi puisi. Puisi-puisi telah menyerupai kepala,wajah juga tangan dan kakiku. Entah bagaimana lagi...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: Aisah Nurul FadilaHari itu, langit juga meratapSeolah memberi pertanda bahwa ia juga terluka Semuanya terjadi tanpa tandaSimpang siur terjadi hampir di pesisir...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com