Oleh Dayan Abdurrahman Pendahuluan: Mengapa Aceh Layak Dibaca sebagai Entitas Kebangsaan? Dalam percaturan politik dan antropologi modern, pertanyaan tentang apakah...
Oleh ReO Fiksiwan “Yang paling menentukan bukan apakah suatu negara demokratis atau otoriter, tetapi seberapa kuat dan efektif pemerintahannya dalam...
Oleh: Novita Sari Yahya Jejak Digital dan Demokrasi Di era ketika kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT menjadi alat penting bagi...
Oleh Hamdan BudimanJurnalis Dalam sejarah umat manusia, kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi...
Oleh: Dayan Abdurrahman – Awal Sebuah Pilihan Besar Sejarah bangsa selalu ditandai oleh titik-titik keputusan besar. Bagi Aceh, salah satu...
Bagian kedua Oleh Teuku Masrizar Berdomisili di Tapaktuan, Aceh Selatan Raja Kreobot semakin bigung menghadapi situasi negeri yang serba sulit....
Oleh Dayan Abdurrahman, Akal Sehat yang Kian Langka Indonesia hari ini menyaksikan politik yang semakin jauh dari nalar. Koalisi partai...
Oleh Rivaldi Presiden Republik Indonesia kala itu pernah berkoar di penggung politiknya: "Kita tidak boleh lagi tunduk kepada negara lain,...
Saya, Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.MTr, saya aktif menulis diberbagai platform media nasional, saya juga terus...
Oleh: Riski Alfandi Pendahuluan: Demokrasi Visual dan Era Politik Simbolik Tindakan ini kemudian menjadi viral, mendominasi ruang media sosial dan pemberitaan, serta membentuk persepsi publik bahwa pemimpin tersebut "turun langsung" dan "berkomitmen pada nilai-nilai masyarakat". Namun, apakah tindakan ini benar-benar mencerminkan kepemimpinan substantif, atau justru menandai pergeseran politik ke arah panggung performatif dan post-truth? Untuk menjawab pertanyaan ini, tulisan ini akan mengkaji fenomena tersebut melalui pendekatan multidisipliner yang menggabungkan teori politik simbolik (Edelman), teori performativitas (Butler dan Alexander), konsep populisme(Laclau dan Müller), serta analisis politik post-truth (Keyes dand’Ancona). Melalui pendekatan ini, kita akan melihat bagaimana kekuasaan hari ini banyak dimainkan dalam ruang simbolik dan performatif, yang secara paradoks justru menjauhkan pemimpindari tanggung jawab kebijakan yang substantif. Politik Simbolik: Kekuasaan yang Dibangun dari Imajinasi Menurut Murray Edelman dalam The...
© 2026 potretonline.com






