Dengarkan Artikel
L K Ara
Monolog: Di Bawah Kubah Baiturrahman
(Seorang lelaki tua berdiri di tengah Masjid Raya Baiturrahman, mengenakan baju gamis putih. Ia memandang ke langit-langit masjid, suaranya penuh emosi ketika ia berbicara seakan kepada dirinya sendiri dan kepada sejarah yang hidup di tempat ini.)
Lelaki Tua:
Ah, Baiturrahman…
Engkau bukan sekadar bangunan.
Engkau adalah cerita—dari doa yang tulus,
dari perjuangan yang tak kenal takut,
dan dari air mata yang jatuh di atas sajadah yang lusuh.
Di bawah kubah hitam ini, aku berdiri.
Tapi bayanganku hanyalah setitik debu
dibandingkan jejak para pahlawan yang mendahuluiku.
(Isyarat tangan mengarah ke dinding masjid.)
Dulu, di tempat ini…
Belanda menyerbu, mencoba menghancurkan kita.
Mereka bakar masjid ini,
namun yang mereka tak tahu:
api tidak bisa membakar iman.
Aku masih bisa mendengar gema takbir itu.
“Allahu Akbar!”
Cut Nyak Dhien… oh, perempuan perkasa itu!
Sorban putihnya berkibar di angin perlawanan.
Langkahnya kecil, tapi keberaniannya
menggentarkan musuh yang sombong.
Apakah dia juga pernah berdiri di sini,
mengucap doa untuk anak cucu kita?
📚 Artikel Terkait
(Terdiam sejenak. Menghela napas panjang.)
Dan tsunami…
Siapa yang bisa melupakan hari itu?
Langit gelap, laut bergulung mengamuk,
dan tanah ini bergetar dalam ketakutan.
Namun engkau, Baiturrahman, tetap berdiri.
Bukankah engkau ini keajaiban, ya Allah?
Di tengah kehancuran, engkau menjadi pelindung.
Orang-orang berlari ke sini,
mencari naungan-Mu,
dan engkau menyambut mereka dengan kehangatan.
(Air mata menggenang di sudut matanya. Ia menggigit bibir, mencoba menahan emosi.)
Kini aku tua. Langkahku goyah.
Tapi engkau tetap kokoh, Baiturrahman.
Anak-anak bermain di halamanmu.
Para musafir melipat sajadah mereka di lantaimu.
Dan aku? Aku hanya seorang lelaki tua
yang membawa kenangan.
(Ingatannya melayang jauh.)
Sultan Iskandar Muda,
engkau yang pertama kali meletakkan fondasi ini.
Apakah engkau tahu bahwa masjidmu
akan menjadi saksi zaman yang penuh badai?
Tapi kini, lihatlah…
Dunia memandang kami.
Baiturrahman adalah simbol,
bukan hanya untuk Aceh,
tapi untuk iman yang takkan pernah runtuh.
(Mengangkat tangannya ke arah kubah, suaranya perlahan bergetar.)
Ya Allah,
jadikan aku setegar dinding-dinding ini,
dan setinggi kubah-kubah ini yang menggapai-Mu.
Jika waktuku tiba,
biarkan aku pergi dengan doa,
di tempat ini, di bawah kubah hitam ini.
(Terdiam. Ia menatap lantai, lalu beranjak pergi dengan langkah pelan. Namun suaranya bergema sekali lagi.)
Baiturrahman, aku titipkan kisahmu.
Jangan biarkan kami lupa,
bahwa di balik keindahanmu,
ada darah, doa, dan cinta yang menjagamu.
(Ia berjalan keluar, bayangannya perlahan memudar di bawah sinar matahari senja yang menerpa halaman masjid.)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






