POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Celengan Kecil dan Alat Musik

Zainah RahmiatyOleh Zainah Rahmiaty
November 20, 2024
Tags: #pengemis#sedekah
Celengan Kecil dan Alat Musik
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh: Zainah Rahmiaty

Mahasiswi Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ( FEBI) UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Di tengah hiruk pikuk kota Banda Aceh, di sekitar SPBU Jeulingke, Banda Aceh, seorang ibu tuna netra tampak duduk di tepi jalan, ditemani alat musik sederhana dan celengan kecil di sisinya. Seakan tak peduli dengan kerasnya dunia di sekitarnya, ia memainkan musik dengan tekun, berharap ada yang tergerak hatinya untuk memberi bantuan. Namun, di balik senyum lembut dan wajah penuh ketegaran itu, seperti pengemis-pengemis lainnya, tersimpan cerita tentang perjuangan hidup yang tak pernah terbayangkan.

Ibu ini tidak mengemis karena ia cacat. Justru, cacat fisik hanya sebagian kecil dari kisahnya. Ia mengemis untuk alasan yang lebih dalam, yakni memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebelumnya, ibu ini bersama suaminya—yang juga tunanetra—mengandalkan pekerjaan sebagai tukang urut untuk menafkahi lima orang anak mereka.

Namun, dengan pendapatan yang tak menentu dan harga yang hanya Rp 70.000 per sesi, pekerjaan ini nyaris tak mencukupi kebutuhan keluarga yang semakin besar.

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Akhirnya, UI Dikencingi Ramai – Ramai

Laboratorium Rasa Takut

AKIDI TIO, RATNA SARUMPAET DAN KETIDAKWAJARAN SIKAP

Keinginan ibu ini sangat sederhana, namun mendalam. Ia ingin melihat anak-anaknya tumbuh dan menempuh pendidikan. Dua anak tertuanya kini sedang berkuliah, satu di Universitas Islam Negeri (UIN) dan satu lagi di Poltekes. Dua lainnya masih berada di bangku SMA dan SMP, sementara si bungsu masih duduk di bangku TK.

Setiap hari, ibu ini menyimpan asa bahwa pendidikan dapat membawa anak-anaknya ke kehidupan yang lebih baik. Namun, kenyataan hidup membawanya ke jalan lain yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pada tahun 2022, dengan berat hati, ibu ini akhirnya memilih untuk mengemis, sebuah pilihan yang diperkenalkan oleh seorang teman sesama tuna netra. Lalu kemudian, ia  bergabung dengan organisasi PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia). Ia berharap mendapat dukungan yang lebih kuat dalam menjalani kehidupan sebagai penyandang tunanetra. Berkat PERTUNI, ibu ini mendapat perlindungan dan  komunikasi terarah melalui rapat dan kegiatan yang diadakan rutin.

Kewajiban memiliki HP Android untuk anggota bukanlah sekadar tuntutan, tetapi cara bagi ibu ini untuk merasakan kekeluargaan dan dukungan emosional dari sesama anggota yang saling memahami.

Setiap hari, ia mulai mengemis sejak pukul 07.00 pagi, hingga tengah hari. Diantar oleh becak ke pinggir jalan. Ia menghidupkan musiknya, berharap dapat memperoleh sedikit penghasilan. Meski cukup berat, ia mengaku kegiatan ini lebih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari mengemis, ia rata-rata mendapat Rp 150.000 hingga Rp 200.000 sehari, sebuah angka yang cukup untuk  menyambung hidup dan meringankan beban sehari-hari. Ia tak hanya bergantung pada penghasilan dari mengemis saja. Suaminya juga masih terus bekerja sebagai tukang urut.

Pengamatan ini mengungkap sisi lain dari kehidupan pengemis tuna netra di Banda Aceh. Banyak dari mereka yang mengemis bukan karena kemauan, melainkan karena tekanan ekonomi yang memaksa. Sebagai seorang pengemis, ia memerlukan bantuan pemerintah walau  sudah ada, namun ibu ini dan teman-teman senasibnya memerlukan dukungan lebih dari sekadar bantuan finansial. Mereka butuh pelatihan keterampilan, bimbingan usaha, dan peluang kerja yang lebih mandiri.

Sehingga, dengan pelatihan dan pembinaan yang tepat, ibu ini bisa beralih dari jalanan menuju usaha yang lebih bermartabat dan berkelanjutan. Itu sebuah harapan, namun dalam realitas juga terkadang akan berbeda.

Nah, lewat segala keterbatasan fisik dan ekonomi, ia berjuang dan berharap bisa membangun kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Di balik alat musik dan celengan kecil itu, tersimpan mimpi besar seorang ibu yang berjuang mengangkat anak-anaknya ke masa depan yang lebih baik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #pengemis#sedekah
Zainah Rahmiaty

Zainah Rahmiaty

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Tan Malaka Pemuda Luar Biasa Yang Terlupakan Dari Tanah Sumatera Barat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00