POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Baca Judul Saja

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
April 21, 2021
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Tabrani Yunis

Assalamualaikum dan selamat pagi, sapa seorang dosen yang masuk ruangan kuliah di prodi pulan, fakultas pulin dan universitas pulun. Salam itu dijawab serentak oleh para mahasiswa yang sebagian besar sudah hadir. Lalu, seperti lazimnya, sang dosen memulai kuliah dengan pemanasan, atau warming up. Tapi tidak sama dengan warming ketika ingin main bola. Sang dosen memanaskan suasana dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pembuka tentang membaca.  Pertanyaan yang paling sering ditanya adalah  â€ś Apakah hari ini anda sudah membaca?” Apa yang anda baca. Sang dosen mengajukan pertanyaan itu pada setiap mahasiswa yang hadir.

Seperti pada pertemuan sebelumnya, para mahasiswa terdiam dan menggelengkan kepala. Artinya mereka belum atau memang tidak membaca sebelum masuk ruang kuliah, walau ada satu mahasiswa yang bertanya, baca apa Pak?


Sang dosen pun dengan melemparkan senyum menjawab, baca buku atau surat kabar atau juga membaca sebuah artikel di gadgets. Seperti telah diduga, salah satu mahasiswa itu pun menjawab ada Pak. “ Saya baca Whatsapp”. Sebuah artikel? Tanya sang dosen, lagi.  Ya Pak. Jawab sang mahasiswa.

 
Bagus. Sanjung sang dosen.Bisakah anda ceritakan sedikit apa yang anda baca? Mahasiswa langsung berkata, tidak. Saya hanya baca judulnya. Sang dosen pun ikut penasaran dan merasa risau, sambil berkata, gawat. Gawat?


Ya, memang  sangat gawat. Begtitu gumam sang dosen. Tapi, cerita atau prolog di atas bukanlah sebuah ilustrasi belaka, namun adalah realitas yang kian lazim kita temukan, bukan hanya di kalangan masyarakat di luar lembaga pendidikan, tetapi semakin lazim ditemukan di dunia pendidikan, termasuk di level universitas di negeri ini. Artinya, semakin banyak orang yang melakukan aktivitas membaca, namun bacaannya tidak pernah usai. Jangankan membaca satu buku secara tuntas, membaca satu artikel pendek saja semakin jarang. Paling-paling, membaca sebuah postingan morning pendek di WhatsApp dan celakanya, itu pun tidak habis dibaca. Karena paling hebat, sudah membaca judulnya.


Nah, fenomenaseperti ini semakin mudah kita amati sejalan dengan semakin rendahnya minat membaca dan memupusnya budaya membaca di kalangan masyarakat kita, yang ditandai oleh semakin berkurangnya minat baca di tengah masyarakat kita, termasuk di kalangan peserta didik di semua level atau jenjang pendidikan, sudah lama kita dengar. Kondisi ini membuat banyak kalangan yang prihatin dan menuliskan persoalan ini di media masa atau buku-buku. Bahkan penulis sendiri juga sudah pernah menuliskan sebuah artikel di harian Serambi Indonesia dengan judul “ Generasi Milenial Semakin Malas Membaca. Tulisan tersebut dimuat pada hari Sabtu, 12 Oktober 2019 yang lalu yang merupakan wujud kegalauan penulis terhadap menurunnya minat membaca di kalangan kaum milenial saat ini.

📚 Artikel Terkait

Ayah

Keheningan

Gen Z Suara Kita: Saatnya Politik Dihidupkan Kembali oleh Generasi Digital

Be Yourself

Jadi, sudah sangat banyak orang menulis tentang tema membaca atau pun masalah literasi dan lain-lain yang mengarah pada keprihatinan terhadap kemunduran dalam aktivitas membaca sejalan dengan semakin menariknya produk dan aktivitas media digital selama ini. Berbagai sajian informasi dan hiburan yang tidak mengharuskan orang membaca, tetapi cukup dengan menonton dan memdengar penjelasan di media tersebut. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa aktivitas membaca menurun. Menonton dan mendengar itu lebih mudah, menarik dan praktis. Hal ini sama kasusnya dengan hilang atau matinya budaya mencatat di kalangan masyarakat kita. Budaya mencatat sudah digantikan dengan budaya rekaman dan foto yang dengan cepat terekam. Proses digitaliasasi telah mempermudah dan bahkan mematikan kebiasan lama. Digitalisasi juga telah menyebabkan disrupsi dalam dunia pendidikan begitu cepat berlangsung.


Maka, bila kita merujuk pada banyak hasil penelitian atau pun survey tentang minat baca serta kemampuan masyarakat dan kemampuan membaca para peserta didik kita di berbagai tingkat pendidikan, kita bisa tercengang-cengang dan membuat kita prihatin. Bagi para pembaca yang banyak membaca, mungkin sudah sering membaca hasil penelitian dari Perpustakaan Nasional tahun 2017. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Jadi masih sangat sedikit bukan? Bukan hanya itu, berdasarkan studi World Most Literate Countries tahun sebelumnya 2016 yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016. 


Itu hasil survey tahun 2017 dan 2016. Bagaimana pula sekarang? Ya lumayan banyak data serupa. Contohnya selain dari itu, data yang dikeluarkan oleh United Nations, Education and scientific and Cultural Organization ( UNESCO) memaparkan bahwa minat baca hanya 0,01 persen yang membaca. Artinya hanya 1 dari 10.000 orang yang hobi membaca. Ironis sekali bukan? Taufik Ismail malah telah mengngatkan kta dengan trage di nol buku dan lain sebagainya.

Tentu sangat ironis. Bukan hanya ironis, tetapi membuat kita merasa gundah melihat nasib generasi bangsa ini yang kini tergolong sebagai generasi milenial ini. Apa yang membuat gundah adalah ketika bangsa ini semakin malas membaca, atau semakin kehilangan minat membaca, maka secara perlaham dan pasti, akan mempurukan bangsa ini dalam jurang kebodohan yang selama ini kita perangi. Ya, tak dapat dipungkiri bahwa semakin menurunnya minat membaca, makan semakin rendah pula kemampuan atau daya membaca kita. Apabila daya baca rendah, maka sikap kritis pun akan punah. Akibatnya, ketika ada satu masalah pelik yang dihadapi, permasalah itu akan berhadapan dengan jalan buntu. Hanya membaca judul adalah sebuah manifestasi atau indicator dari semakin malasnya masyarakat kita membaca karena alasan apa pun, malas misalnya.

 

Semua ini membawa dampak buruk bagi masyarakat dan peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan kini dan esok. Hanya membaca judul saja adalah sebuah kemalasan yang membawa dampak negative. Beberapa dampak negatifnya di antaranya sebagai berikut. Pertama judul bisa mengecoh seseorang yang seakan setelah membaca judul, sudah menangkap semua isi bacaan, padahal judul dibuat semenarik mungkin, agar si pembaca tertarik membaca hingga tuntas. Kedua, bila hanya membaca judulnya saja, maka semakin sedikit informasi yang didapat, selain judul belaka. Ketiga, membaca judul saja menambah minimnya pengetahuan seseorang. Ke empat, akan mempersempit pemahaman seseorang tentang informasi yang di baca. Ke lima, kebiasan hanya membaca judul, akan menimbulkan pemahaman yang keliru. Masih banyak lagi sisi negative dari hanya membac judul tersebut.

 

Selayaknya, kebiasaan hanya membac judul tersebut ditinggalkan dan diganti dengan membaca sebuah artikel atau bacaan dengan tuntas. Sebab membaca bacaan dengan tuntas, akan membuat pemahaman akan teks atau bacaan sebuah altikel atau buku akan menjadi sempurna, sehingga pembaca tidak akan melakukan misunderstanding dan salah sharing yang kita sebut dengan hoaks itu. Jadi membaca dengan tuntas, akan membuat kita lebih bijaksana dan arif. Oleh kebab itu, membacalah dyngan tunias, karens membaca bukan hobby, terapi sebuah kebutuhan hidup. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Orasi Pendidikan Hari Kartini Institut KAPAL Perempuan 2021

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00