• Latest

Baca Judul Saja

April 21, 2021
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Baca Judul Saja

Tabrani Yunisby Tabrani Yunis
Januari 18, 2025
Reading Time: 6 mins read
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh Tabrani Yunis

Assalamualaikum dan selamat pagi, sapa seorang dosen yang masuk ruangan kuliah di prodi pulan, fakultas pulin dan universitas pulun. Salam itu dijawab serentak oleh para mahasiswa yang sebagian besar sudah hadir. Lalu, seperti lazimnya, sang dosen memulai kuliah dengan pemanasan, atau warming up. Tapi tidak sama dengan warming ketika ingin main bola. Sang dosen memanaskan suasana dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pembuka tentang membaca.  Pertanyaan yang paling sering ditanya adalah  “ Apakah hari ini anda sudah membaca?” Apa yang anda baca. Sang dosen mengajukan pertanyaan itu pada setiap mahasiswa yang hadir.

Seperti pada pertemuan sebelumnya, para mahasiswa terdiam dan menggelengkan kepala. Artinya mereka belum atau memang tidak membaca sebelum masuk ruang kuliah, walau ada satu mahasiswa yang bertanya, baca apa Pak?


Sang dosen pun dengan melemparkan senyum menjawab, baca buku atau surat kabar atau juga membaca sebuah artikel di gadgets. Seperti telah diduga, salah satu mahasiswa itu pun menjawab ada Pak. “ Saya baca Whatsapp”. Sebuah artikel? Tanya sang dosen, lagi.  Ya Pak. Jawab sang mahasiswa.

 
Bagus. Sanjung sang dosen.Bisakah anda ceritakan sedikit apa yang anda baca? Mahasiswa langsung berkata, tidak. Saya hanya baca judulnya. Sang dosen pun ikut penasaran dan merasa risau, sambil berkata, gawat. Gawat?


Ya, memang  sangat gawat. Begtitu gumam sang dosen. Tapi, cerita atau prolog di atas bukanlah sebuah ilustrasi belaka, namun adalah realitas yang kian lazim kita temukan, bukan hanya di kalangan masyarakat di luar lembaga pendidikan, tetapi semakin lazim ditemukan di dunia pendidikan, termasuk di level universitas di negeri ini. Artinya, semakin banyak orang yang melakukan aktivitas membaca, namun bacaannya tidak pernah usai. Jangankan membaca satu buku secara tuntas, membaca satu artikel pendek saja semakin jarang. Paling-paling, membaca sebuah postingan morning pendek di WhatsApp dan celakanya, itu pun tidak habis dibaca. Karena paling hebat, sudah membaca judulnya.

Baca Juga

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Maret 21, 2026

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 30, 2026
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Maret 10, 2026


Nah, fenomenaseperti ini semakin mudah kita amati sejalan dengan semakin rendahnya minat membaca dan memupusnya budaya membaca di kalangan masyarakat kita, yang ditandai oleh semakin berkurangnya minat baca di tengah masyarakat kita, termasuk di kalangan peserta didik di semua level atau jenjang pendidikan, sudah lama kita dengar. Kondisi ini membuat banyak kalangan yang prihatin dan menuliskan persoalan ini di media masa atau buku-buku. Bahkan penulis sendiri juga sudah pernah menuliskan sebuah artikel di harian Serambi Indonesia dengan judul “ Generasi Milenial Semakin Malas Membaca. Tulisan tersebut dimuat pada hari Sabtu, 12 Oktober 2019 yang lalu yang merupakan wujud kegalauan penulis terhadap menurunnya minat membaca di kalangan kaum milenial saat ini.

Jadi, sudah sangat banyak orang menulis tentang tema membaca atau pun masalah literasi dan lain-lain yang mengarah pada keprihatinan terhadap kemunduran dalam aktivitas membaca sejalan dengan semakin menariknya produk dan aktivitas media digital selama ini. Berbagai sajian informasi dan hiburan yang tidak mengharuskan orang membaca, tetapi cukup dengan menonton dan memdengar penjelasan di media tersebut. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa aktivitas membaca menurun. Menonton dan mendengar itu lebih mudah, menarik dan praktis. Hal ini sama kasusnya dengan hilang atau matinya budaya mencatat di kalangan masyarakat kita. Budaya mencatat sudah digantikan dengan budaya rekaman dan foto yang dengan cepat terekam. Proses digitaliasasi telah mempermudah dan bahkan mematikan kebiasan lama. Digitalisasi juga telah menyebabkan disrupsi dalam dunia pendidikan begitu cepat berlangsung.


Maka, bila kita merujuk pada banyak hasil penelitian atau pun survey tentang minat baca serta kemampuan masyarakat dan kemampuan membaca para peserta didik kita di berbagai tingkat pendidikan, kita bisa tercengang-cengang dan membuat kita prihatin. Bagi para pembaca yang banyak membaca, mungkin sudah sering membaca hasil penelitian dari Perpustakaan Nasional tahun 2017. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Jadi masih sangat sedikit bukan? Bukan hanya itu, berdasarkan studi World Most Literate Countries tahun sebelumnya 2016 yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016. 


Itu hasil survey tahun 2017 dan 2016. Bagaimana pula sekarang? Ya lumayan banyak data serupa. Contohnya selain dari itu, data yang dikeluarkan oleh United Nations, Education and scientific and Cultural Organization ( UNESCO) memaparkan bahwa minat baca hanya 0,01 persen yang membaca. Artinya hanya 1 dari 10.000 orang yang hobi membaca. Ironis sekali bukan? Taufik Ismail malah telah mengngatkan kta dengan trage di nol buku dan lain sebagainya.

Tentu sangat ironis. Bukan hanya ironis, tetapi membuat kita merasa gundah melihat nasib generasi bangsa ini yang kini tergolong sebagai generasi milenial ini. Apa yang membuat gundah adalah ketika bangsa ini semakin malas membaca, atau semakin kehilangan minat membaca, maka secara perlaham dan pasti, akan mempurukan bangsa ini dalam jurang kebodohan yang selama ini kita perangi. Ya, tak dapat dipungkiri bahwa semakin menurunnya minat membaca, makan semakin rendah pula kemampuan atau daya membaca kita. Apabila daya baca rendah, maka sikap kritis pun akan punah. Akibatnya, ketika ada satu masalah pelik yang dihadapi, permasalah itu akan berhadapan dengan jalan buntu. Hanya membaca judul adalah sebuah manifestasi atau indicator dari semakin malasnya masyarakat kita membaca karena alasan apa pun, malas misalnya.

 

Semua ini membawa dampak buruk bagi masyarakat dan peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan kini dan esok. Hanya membaca judul saja adalah sebuah kemalasan yang membawa dampak negative. Beberapa dampak negatifnya di antaranya sebagai berikut. Pertama judul bisa mengecoh seseorang yang seakan setelah membaca judul, sudah menangkap semua isi bacaan, padahal judul dibuat semenarik mungkin, agar si pembaca tertarik membaca hingga tuntas. Kedua, bila hanya membaca judulnya saja, maka semakin sedikit informasi yang didapat, selain judul belaka. Ketiga, membaca judul saja menambah minimnya pengetahuan seseorang. Ke empat, akan mempersempit pemahaman seseorang tentang informasi yang di baca. Ke lima, kebiasan hanya membaca judul, akan menimbulkan pemahaman yang keliru. Masih banyak lagi sisi negative dari hanya membac judul tersebut.

 

Selayaknya, kebiasaan hanya membac judul tersebut ditinggalkan dan diganti dengan membaca sebuah artikel atau bacaan dengan tuntas. Sebab membaca bacaan dengan tuntas, akan membuat pemahaman akan teks atau bacaan sebuah altikel atau buku akan menjadi sempurna, sehingga pembaca tidak akan melakukan misunderstanding dan salah sharing yang kita sebut dengan hoaks itu. Jadi membaca dengan tuntas, akan membuat kita lebih bijaksana dan arif. Oleh kebab itu, membacalah dyngan tunias, karens membaca bukan hobby, terapi sebuah kebutuhan hidup. 

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Orasi Pendidikan Hari Kartini Institut KAPAL Perempuan 2021

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com