• Latest

Panglima Tibang Vs Habib Abdurahman

April 25, 2021
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Panglima Tibang Vs Habib Abdurahman - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Aceh | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Panglima Tibang Vs Habib Abdurahman

Redaksi by Redaksi
April 25, 2021
in Aceh, Kerajaan Aceh, Sejarah, Ule Balang
Reading Time: 11 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook




Oleh ; Arhamni

Guru SMK Penerbangan Aceh

Peminat Sejarah Aceh

 

Mohammad Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad Bab XVII menuliskan tentang sosok Habib Abdu’r Rahman dan Panglima Tibang.Habib Abdu’r Rahman, pendatang dari tanah Arab. Beliau adalah seorang petualang yang andal. Habib terkenal cerdik dan pandai serta intelektual yang tinggi, sehingga dengan cepat menjadi orang yang berpengaruh di lingkungan sultan saat itu. Sungguh Aceh memperoleh manfaat dari kecakapan habib Abdu’r –Rahma.. Belanda sangat tidak senang pada Habib, sehingga untuk melemahkan pengaruh Habib, Belanda menyeludupkan seorang Arab lain, bernama Ali Bahanan.

Sumber Belanda mengatakan antara lain Panglima Tibang semula seorang Hindu dari golongan bawah yang mulanya ia berangkat dari Madras mengikuti rombongan wayang. Saat masuk ke Aceh, umurnya masih 6 tahun. Kepandaian khasnya adalah menari.  Teuku Lamgugop, seorang panglima Sultan tertarik kepada anak ini, dijadikan anak angkat dan diislamkan. Ramasamy adalah nama asli Panglima Tibang. Sehari-hari bekerja sebagai pelawak, menari dan bernyanyi. 

Pada suatu hari, salah seorang Uleebalang III mukim Kayu Adung telah mengkhianati Sultan. Oleh Sultan diperintahkan kepada Panglima Lamgugop untuk menumpasnya. Pemberontakan dapat dipadamkan dengan cepat, sesudah terjadi pertempuran. Turut membantu Teuku Lamgugop dalam penumpasan pemberontak itu adalah Ramasamy. Tidak jelas apakah dirinya yang berhasil memenggal kepala anggota pemberontak, karena setelah mayat ditemukan baru kepalanya dipenggal. Tapi ketika dia membawa mayat itu dan menyeretnya sepanjang jalan, sehingga orang mengangumi kehebatannya. 

Baca Juga

cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Suatu Hari permaisuri Sultan Ibrahim bertamu ke rumah Teuku Lamgugop. Pemaisuri menjumpai Ramasamy yang pandai menghibur, menari dan melawak. Pemaisuri tertarik pada anak itu, lalu diminta bawa ke Istana. Di sinilah Ramasamy berhasil merebut hati Sultan. Dia amat sangat pandai menyesuaikan diri, cepat pula memahami keinginan tuannya. Segala keperluan dikerjakannya dengan baik. Dengan kecakapan itu dia berhasil memegang peranan penting di Istana, terutama dalam mengatur upacara-upacara di Istana. Lama- kelamaan ianya menjadi orang kepercayaan Sultan. Dia diserahi tugas menjaga gedung-gedung penyimpanan benda berharga. Akhirnya Sultan mengangkatnya sebagai Syahbandar (Kepala Pelabuhan dan bea cukai). Pekerjaan ini merupakan jabatan kunci yang dapat disejajarkan dengan menteri keuangan kerajaan. 

 

Pembagian fungsi dalam kerajaan Aceh pada waktu itu adalah:

1.   Sultan (di bawah umur dan dalam pangkuan)

2.   Habib Abdu’r – Rahman, Mangkubumi (dapat disamakan dengan jabatan Perdana Menteri) merangkap pemengku raja dan bertanggungjawab sebagai mentri luar negeri.

3.   Panglima Polem, Panglima Sagi XXII mukim, tertinggi dari tiga panglima Sagi. Dia berwenang memimpin perundingan untuk menetapkan pengemgkatan Sultan.

4.   Panglima Tibang, Syahbandar

5.   Imum Lungbata, selain Uleebalang mukim Lungbata, juga menjadi  Panglima Perang

6.   Teuku Kali Malikul Adil, Uleebalang Sultan yang bertugas memerintah wilayah langsung Sultan, terdiri dari 12 kampung kanan sungai Aceh, beliau juga merupakan kepala Agama.

 

ADVERTISEMENT

Pada masa itu juga dikenal tokoh-tokoh yang berpengaruh antara lain:

 

1.   Keureukun Katibu I Muluk, Sekreteris Kerajaan 

2.   Teuku Ne’ Meusara , juga disebut Teuku Na’ aja Muda Seutia, berpengaruh. Kepala  mukim Meura’sa 

3.   Teuku Ne Peureuba Wangsa ( Teuku Nek Purba). Kepala mukim IX dari 25 Mukim. 

 

Tidak dapat terbantahkan bahwa ambisi para tokoh berpengaruh untuk mendapatkan kedudukan lebih tinggi, telah menimbulkan perpecahan di kalangan pemerintah di Aceh. Pada saat itu Belanda sedang menyiapkan Invansinya, perpecahan itu bertahun-tahun seperti api dalam sekam. Dua tokoh yang bertarung sengit masa itu adalah Habib Abdu’r – Rahman dengan pendukung utamanya Panglima Polim dan Panglima Tibang dengan pendukungnya Teuku Kali Malikul Adil di lain pihak.  Setelah Sultan Ibrahim meninggal Panglima Tibang mampu mempengaruhi Sultan yang masih Muda dengan menakut nakuti Sultan bahwa Habib Abdu’r – Rahman  yang pengaruhnya makin besar itu sedang bernafsu untuk menjatuhkan Sultan dan merebut tahta. Kelicikan Panglima Tibang membuat ia mampu memegang Sultan Muda dan adanya kepercayaan 

Pendukung Habib pada masa itu selain Panglima Polem, adalah Teuku Ba’et Imum Lungbata, Teuku Nyak Banta, Panglima III Mukim , Teuku Rajeut Lamkapung , Teuku Imueum Keureukun dan Teuku Tilang. Sebelah Panglima Tibang Selain Teuku Kali Malikul Adil, adalah Panglima Masegit Rajeu, Teuku Nya’ Cut, Imueum Cade, Teuku Ne’ Raja dan Teuku Nata. 

Belanda menjalankan rencana Invasi dengan rapi ke Cah dengan mengepung perairan Aceh antara tanggal 15 Desember 1870 sampai tanggal 16 Januari 1871. Kapal perang Belanda Maas dan Waal, telah menjalankan blockade, sehingga membuat macet semua proses ekspor –impor saudagar- saudagar Aceh. 

 

Siapa sebenarnya penjual Aceh antara mereka berdua? Panglima Tibang atau Habib Abdu’r –Rahman? Fakta keduanya tiada cukup untuk memvonisnya, namun mereka setidaknya dapat dipandang sudah mengabaikan kepentingan tanah Aceh yang sedang berada dalam bahaya (Aceh Sepanjang Abad, Muhammad Said halaman 556).

 

Akankah Aceh terus dalam pertikaian para petinggi yang hanya sekadar mencari sokongan serta pendukung untuk sebuah tahta, harta serta ketenaran? Sehingga meninggalkan kepentingan-kepentingan Aceh yang lebih besar untuk menyelamatkan bangsa Aceh serta mewariskan kemerdekaan pada anak cucu?

 

Semoga keegoisan petingi-petinggi Aceh tiada menjadi warisan yang abadi, hingga Aceh akan terus terhina dan tertindas. Generasi penerus Aceh sudah waktunya tidak mewariskan lagi kegoisan serta kepentingan masing-masing kelompok, sehingga dengan mudah bagi orang-orang yang tak senang pada Aceh menjalankan politik peninggalan Snouck Hurgronje devide et impera yang memiliki arti pecah belah dan jajahlah.  Semoga tulisan singkat dan sederhana ini menjadi inspirasi bagi kita orang Aceh untuk melakukan analisis SWOT agar mengetahui Strengths, Weaknesses, Opportunities Dan Threats . Mengkaji kembali kelemahan-kelemahan yang dimiliki serta kekuatan-kekuatan,  sehingga Aceh memiliki harapan untuk kembali berjaya seperti yang sudah terukir dalam cerita sejarah dunia. 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Next Post

Tiga Cara Menjaga Silaturrahmi di Bulan Ramadan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com