Airmata berlinang di Tamiang Tatkala banjir tiba-tiba datang Hujan turun, air pun menggenang Bagai hendak tenggelamkan asa yang sedang gamang Dari Kuala Simpang hingga Besitang Dari Tualang Cut hingga Sungai Liput Hujan yang biasa membawa berkah namun kini mengundang bencana Kendati demikian kami yakin tak akan kehilangan hikmah Ketika hujan lebat tiba, air pun naik Ketika banjir datang, kami pun panik Bukan hanya sawah dan ladang kami yang terendam Tetapi rumah, masjid dan pasar pun kini nyaris tenggelam Malam sunyi menyisakan kelam bahkan lampu-lampu kehidupan pun kini telah padam Para musafir yang hendak pulang bermalam di simpang Seumadam Ya Allah.., ya Rabb.., Hanya kepada Mu kami mohon pertolongan dan perlindungan
Airmata berlinang di Tamiang Tatkala banjir tiba-tiba datang Kendati di sini pernah terjadi tetapi yang seperti ini tak biasa Sungguh tak ada yang salah karena ini kehendak Allah semata Namun kita jangan sampai pasrah karena di balik ini pasti ada hikmah Kita mesti waspada dan tak boleh lengah dengan isyarat alam Dan bersahabat dengan lingkungan Yang adakalanya menjadi kawan tetapi tak jarang pula menjadi rawan
Oh, Tamiang yang diamuk banjir Akan kualirkan doa dalam genangan Air yang belum jua surut, membuat saudara kami semakin takut Ketika makanan semakin sulit, mereka pun mengungsi naik rakit Wahai laut, panggillah banjir ini segera ke samudera luasmu Wahai hutan, kembalikan air ini pada tanaman sebagai nafas kehidupan Dan kami dapat kembali hidup damai berdampingan dengan alam.