Esai · Potret Online

Destinasi Wisata Religi Masjid Raya Baiturrahman, Ayo Datang (Kembali) ke Aceh

Penulis NA Riya Ison
Mei 18, 2026
7 menit baca 8
6893807a-2208-4c13-89bc-abd2fc3942c9
Foto / IlustrasiDestinasi Wisata Religi Masjid Raya Baiturrahman, Ayo Datang (Kembali) ke Aceh
Disunting Oleh

Oleh NA Riya Ison

Kalau kamu lagi cari alasan kuat untuk datang ke Aceh, jawabannya ada di satu tempat: Masjid Raya Baiturrahman(MRB). Aceh memang punya banyak cerita. Tentang perang, perdamaian, luka, dan kebangkitan. Tapi begitu kaki menginjak pelataran MRB, kamu akan paham kenapa masjid ini jadi wajah Aceh yang paling dikenal. 

Kubah berlapis kayu hitam yang khas, lantai marmer putih yang selalu dingin dan bersih, serta 12 payung elektrik raksasa yang membentang membuat siapa saja berhenti sejenak. Bukan cuma untuk mengangkat kamera dan berfoto, tapi untuk merasakan ketenangan yang jarang ditemukan di tempat seramai ini. Ada ruang sunyi di tengah hiruk pikuk, dan itu yang membuat MRB berbeda.

Daya tarik itu membuat banyak wisatawan luar Banda Aceh sudah punya niat kuat sejak di rumah: “Kalau ke Aceh, harus shalat di MRB.” Menariknya, niat itu tidak hanya datang dari umat Muslim. Wisatawan non-muslim pun ikut masuk, duduk di serambi, melihat detail arsitektur yang memadukan gaya Mughal, Ottoman, dan Melayu. 

Mereka tidak datang untuk berdebat soal agama. Mereka datang untuk melihat bagaimana sebuah tempat ibadah bisa hidup, terawat, dan menyambut semua orang dengan hormat. Di sinilah MRB melampaui fungsinya sebagai masjid. Tempat ini memang ramai, tetapi tetap cocok untuk menyepi – berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Buat kamu yang berburu foto di MRB, datanglah pagi pada pukul 07.00–10.00 WIB karena alasan ada pada posisi matahari dan arah masjid. Masjid Raya Baiturrahman menghadap ke barat sementara matahari terbit dari timur, sehingga saat pagi cahaya datang dari belakang fotografer yang berdiri di pelataran timur-utara masjid dan subyek foto tidak sampai memicingkan mata akibat silau. 

Kondisi ini disebut frontlight, di mana seluruh fasad, kubah, menara, dan ukiran kena cahaya langsung sehingga warna marmer putih jadi bersih, detail ukiran keluar jelas, dan tidak ada bayangan panjang yang menutupi bangunan.

Selain itu, pukul 07.00–10.00 masih masuk golden hour pagi dengan cahaya matahari rendah dan lembut, kontrasnya tidak tajam, sehingga detail tetap kelihatan tanpa perlu edit berlebihan, sementara langit biru yang masih cerah membuat background foto lebih hidup. 

Ditambah keramaian pagi yang belum padat, kamu bisa leluasa mengambil komposisi simetris khas MRB tanpa terganggu banyak orang, sedangkan jika datang siang atau sore matahari ada di atas atau barat sehingga banyak bagian masjid masuk bayangan atau malah membuat fotografer jadi siluet. 

Tetapi memandang Masjid Raya Baiturrahman sesungguhnya tidak terikat oleh waktu, karena setiap menitnya, dalam berbagai keadaan cuaca termasuk saat hujan pun, MRB tetap merupakan keindahan.

Setelah tujuan utama di MRB tercapai, perjalanan di Banda Aceh baru dimulai. Kota ini kecil, tapi padat makna. Museum Tsunami hanya 10 menit dari MRB. Kapal Apung di Gampong Punge Blang Cut yang terseret sekitar 4 km ke daratan saat tsunami juga berada dalam jarak dekat. 

Begitu juga dengan situs-situs sejarah lain yang tersebar di pusat kota. Semua bisa dijangkau dalam satu rute jalan kaki atau naik becak motor. Ini nilai besar yang jarang dimiliki kota wisata lain. Wisatawan tidak perlu buang waktu dan energi di jalan. Waktu mereka bisa dipakai sepenuhnya untuk melihat, mendengar, dan merenung.

Momentum kunjungan ini makin terasa setiap Desember. Saat peringatan tsunami Aceh, arus wisatawan lokal, domestik, dan mancanegara meningkat signifikan. Banyak di antaranya datang bukan untuk pertama kali. Mereka adalah mantan relawan PMI dan aktivis peduli kemanusiaan lainnya, pekerja LSM, jurnalis, dan petugas yang pernah bertugas membantu Aceh bangkit dari keterpurukan pasca-bencana. Mereka datang untuk bernostalgia dan melihat perubahan yang terjadi di tanah yang pernah mereka bela.

Mereka tidak hanya berdoa dan mengenang 26 Desember 2004. Mereka juga menyaksikan langsung bagaimana Aceh bangkit. Tempat yang dulu hancur lebur akibat gempa 9,2 SR dan sapuan tsunami berkecepatan 700 km/jam, kini berubah total. Di atas tanah yang pernah porak-poranda, berdiri jalanan lebar, jembatan kuat, sekolah, rumah sakit, dan bangunan publik yang rapi. 

Perubahan itu bukan sulap. Semua terjadi berkat “solidaritas dunia”, di mana ratusan negara berlomba-lomba memberi bantuan agar Aceh cepat bangkit. Ini juga hasil kerja keras, gotong royong, dan keteguhan warga Aceh yang memilih tidak larut dalam duka. 

Datang ke sana di bulan Desember membuat orang paham bahwa resiliensi bukan kata kosong di buku. Ia terlihat di aspal, di tembok, dan di wajah orang-orang yang tetap tersenyum menyembukan duka.

Banda Aceh juga punya kejutan lain yang sering terlewat. Sekitar 1 km dari MRB, berdiri Masjid Haji Keuchiek Leumiek atau Masjid HKL. Arsitekturnya kental nuansa Timur Tengah, megah tapi hangat. Yang membuatnya istimewa bukan hanya bentuknya, tapi kisah di baliknya. Masjid ini dibangun secara pribadi oleh Haji Harun, putra dari Haji Keuchiek Leumiek. 

Keluarga ini sejak dulu dikenal sebagai pengusaha dan seniman perhiasan emas ternama di Aceh. Melalui masjid ini, mereka menunjukkan bahwa kekayaan punya jalan lain selain ditimbun. Kekayaan bisa diwakafkan untuk kepentingan umat dan sekaligus mempercantik wajah kota secara nyata.

Kalau waktu memungkinkan lebih dari dua hari, perjalanan biasanya berlanjut ke KM 0 di Sabang. Titik terluar wilayah paling barat Indonesia ini terasa seperti penutup yang pas dan simbolis. Dari MRB di pusat Banda Aceh, lalu ke situs tsunami, ke masjid HKL, dan akhirnya ke ujung barat Nusantara. 

Satu perjalanan, banyak lapisan sejarah, budaya, dan geografi yang terbuka. Wisatawan pulang bukan hanya membawa foto dan oleh-oleh, tapi juga pemahaman baru tentang Aceh yang tidak mereka dapatkan dari berita.

Tapi ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan saat berada di Banda Aceh: warung kopi. Di sini, warung kopi bukan sekadar tempat ngopi. Ia adalah ruang sosial, ruang diskusi, ruang tempat waktu berjalan pelan. Dari pagi sampai larut malam, warung kopi hidup. 

Kopi diseduh dengan saringan kain atau bese, cara tradisional yang membuat rasa jadi khas. Asap mengepul menutupi wajah peracik, aroma kuat menyebar ke seluruh sudut warung, dan tegukan pertama selalu meninggalkan kesan. 

Rasa pahit, kental, dan hangat itu jadi kenangan yang ikut pulang bersama wisatawan. Di warung kopi, kamu bisa mendengar cerita nelayan, mahasiswa, politisi, dan seniman dalam satu malam yang sama.

Banda Aceh juga termasuk salah satu kota paling aman di Indonesia, khususnya dari ancaman begal dan premanisme. Jarang terdengar cerita wisatawan diganggu di jalan, bahkan malam hari pun banyak orang masih nongkrong di warung kopi dengan tenang. Suasana ini bikin perjalanan terasa lebih lega dan nyaman, apalagi buat yang datang sendiri atau bawa keluarga.

Tentu saja dengan situasi aman bukan berarti lengah. Di mana pun, termasuk Aceh, prinsip dasar tetap sama: jaga diri, jaga barang bawaan, dan tetap waspada. Rasa aman yang ada sekarang adalah hasil dari budaya masyarakat yang saling menjaga dan kontrol sosial yang kuat. Justru karena itu, menjaga sikap dan menghormati adat setempat jadi kunci biar pengalamanmu di Aceh makin berkesan.

Perpaduan MRB, jejak sejarah, Masjid HKL, titik KM 0, dan semerbak warung kopi membentuk karakter wisata Aceh yang sulit dicari bandingannya. Tidak ada yang terasa dipaksakan. Semua mengalir alami, saling menguatkan, dan menciptakan pengalaman yang utuh. Wisata religi, wisata sejarah, wisata alam, dan wisata kuliner bertemu dalam satu kota yang ramah.

Yang perlu sekarang adalah memastikan semua ini dikelola dengan baik. MRB misalnya, dengan status BLUD yang mulai dijalankan, punya peluang besar untuk menjadi pusat wisata religi yang profesional tanpa kehilangan ruh ibadahnya. 

Kebersihan, keamanan, informasi, dan pelayanan harus konsisten. Karena kesan pertama wisatawan sering ditentukan oleh hal-hal kecil: toilet bersih, petugas ramah, papan informasi jelas, dan area wudhu yang nyaman. Wisata religi yang baik tidak hanya indah dilihat, tapi juga nyaman dijalani.

Dan untuk yang sudah pernah datang, pasti rindunya mengajak kembali ke kota berjuluk Serambi Mekkah lagi. Karena Aceh berubah setiap waktu. Yang dulu hancur kini kokoh. Yang dulu sepi kini ramai. Tapi keramahan dan kopi panasnya tetap sama. Aceh tidak minta dikasihani, ia hanya meminta dikunjungi. 

Jangan sampai kamu termasuk kaum yang merugi karena hanya menikmati Aceh lewat layar, foto berbagi, dan cerita orang lain. Sebab sejatinya, Aceh adalah tempat yang selalu meminta untuk kembali.

.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
NA Riya Ison
Penulis adalah pegiat fotografi, guide independen, dan jurnalis Gema Baiturrahman
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...