Selangkangan Borjuis dan Sungai yang Menangis 

12 April 2026
4 menit baca
Editor: Tabrani Yunis
9e4c2e7e-0172-4eb6-a039-cfee9d749784
Selangkangan Borjuis dan Sungai yang Menangis 

Oleh: Syarifudin Brutu

​Di pinggiran sebuah sungai yang warnanya lebih mirip kuah opor basi bercampur oli, tiga entitas malang sedang merayakan upacara kepunahan. Langit di atas Negeri Indunebia bersinar temaram, tertutup polusi dari cerobong pabrik para kapitalis yang berdiri angkuh di atas tanah-tanah rampasan.

​Didin, sang kurator celana dalam kelas kakap, duduk bersila di atas sebatang kayu yang hanyut. Di tangannya, selembar Sempak merek Miu Miu sutra Italia seharga 87 juta berkibar tertiup angin yang aromanya campuran antara knalpot bus dan bau selokan.

​”Aku heran,” buka Batang Mahoni sambil terbatuk-batuk mengeluarkan sisa serbuk gergaji yang menempel di seratnya. “Negeri ini memang punya selera humor yang gelap. Kalian tahu kenapa aku ada di sungai ini?”

​Didin mengelus kain sutra di tangannya. “Pasti gara-gara proyek jalan tol atau perluasan ruko lagi?”

​”Lebih lucu dari itu!” Mahoni tertawa hingga kulit kayunya mengelupas. “Aku ditebang demi sebuah Taman Kota Pintar.Mereka bilang aku ‘merusak estetika’ dan akarku menghalangi trotoar. Lalu, di atas bekas akarku tumbuh, mereka menanam pohon plastik dari fiber. Pohon itu tidak bisa menghasilkan oksigen, tapi bisa nyala kerlap-kerlip warna neon kalau malam. Mereka menebang paru-paru dunia demi memasang lampu hias yang bikin tagihan listrik daerah membengkak!”

​Gabus menyembul ke permukaan, matanya perih karena limbah deterjen. “Pohon plastik? Jadi burung-burung di sana sekarang hinggap di kabel?”

​”Benar, Bus! Kemarin ada burung gereja yang mencoba bersarang di pucuknya, malah terpanggang karena korsleting arus pendek. Di Indunebia, kau harus siap mati syahid hanya karena ingin bertengger di atas pohon buatan pemerintah,” sahut Mahoni sinis.

​Didin mengangkat celana dalam mahalnya tinggi-tinggi ke arah langit. “Lihat ini. Ini Miu Miu. Harganya bisa buat beli sawah di kampung, atau setidaknya bisa buat renovasi jembatan gantung yang sudah mau putus. Tapi di negeri ini, kain sekecil ini lebih berharga dari nyawa buruh pabriknya.”

​”Lalu kenapa kau curi, Din? Kau mau pakai?” tanya Gabus.

​”Pakai? Kulitku yang terbiasa dengan kain kiloan ini bisa alergi kalau kena sutra Italia, Bus! Aku mencuri ini dari jemuran istri seorang pejabat yang kemarin baru saja pidato soal ‘kearifan lokal’ dan ‘hidup sederhana’. Bayangkan, di balik kebaya bersahaja saat rapat, ada aset 87 juta yang mendekap selangkangannya. Itu adalah bentuk pengkhianatan paling intim terhadap rakyat!”

​Didin meludah ke arah sungai. “Kita tinggal di negeri di mana rakyatnya miskin sampai-sampai harga diri hanya senilai sepuluh ribu dapat tiga, tapi pemimpinnya pakai pembungkus lubang kencing seharga mobil bekas.”

​Gabus melakukan salto tragis di air yang kental. “Kalian bicara soal pohon dan celana dalam. Aku bicara soal eksistensi. Dulu sungai ini bening. Sekarang? Indunebiakatanya sedang maju, tapi limbah pabrik tekstil dan kotoran dari hotel berbintang dibuang langsung ke rumahku.”

​”Mereka menyebutnya ‘Pertumbuhan Ekonomi’,” sahut Mahoni.

​”Ekonomi siapa?” Gabus protes. “Aku sekarang lebih mirip ikan sarden yang sudah dibumbui merkuri sebelum masuk kaleng. Kemarin teman-temanku mati massal, dan pemerintah bilang itu ‘fenomena alam’. Fenomena alam kepalamu! Itu fenomena kerakusan yang dilegalkan lewat izin yang ditandatangani di bawah meja sambil makan malam mewah!”

​Angin malam Indunebia bertiup makin kencang, membawa suara musik dari pesta peresmian “Pohon Plastik” di pusat kota.

​”Tanah airku Indunebia,” Didin bernyanyi kecil, suaranya parau menertawakan nasib. “Tanahnya dirampas untuk apartemen yang tak terbeli oleh kita, airnya dicemari agar mereka bisa ekspor kain ke mancanegara.”

​”Dan hutannya diganti plastik supaya para pejabat bisa foto aesthetic untuk konten media sosial,” tambah Mahoni.

​Mereka bertiga terdiam. Didin berdiri, menyampirkan MiuMiu itu di bahunya seperti selempang kemenangan seorang pecundang. Batang Mahoni kembali terlepas dari dahan dan terseret arus menuju muara yang penuh sampah plastik. Dan Gabus kembali menyelam ke dalam kegelapan air yang bau, berharap esok hari ia tidak bermutasi menjadi monster karena terlalu banyak menelan limbah janji-janji politik.

​Di Negeri Indunebia, keadilan hanyalah dongeng sebelum tidur yang diceritakan oleh orang kaya kepada anak-anaknya, agar mereka bisa tidur nyenyak di atas penderitaan yang mengalir di bawah jendela kamar mereka.

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.