Oleh ReO Fiksiwan
“Kupat saka janur, ngaku lepat, nyuwun pangapura.
Janur jatining nur, pepadhang ati kang suci.”
Arti harafiah:
“..ketupat dari janur adalah simbol pengakuan kesalahan dan permintaan maaf. Janur dimaknai sebagai jatining nur atau cahaya hati nurani, yang memberi terang pada jiwa yang suci.” — Sunan Kalijaga(1450-1513).
Lebaran Ketupat adalah sebuah tradisi yang memperlihatkan bagaimana budaya dan agama berkelindan dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Ia bukan sekadar pesta makan, melainkan sebuah simbol perjalanan spiritual yang meneguhkan kembali makna silaturahmi setelah Ramadhan.
Sunan Kalijaga, dengan kebijaksanaannya, mengakulturasi tradisi lama pemujaan Dewi Sri menjadi perayaan syukur kepada Tuhan, dan dari sinilah ketupat lahir sebagai medium budaya yang sarat makna.
Etimologi kata ketupat yang berasal dari “ngaku lepat” menegaskan bahwa inti dari tradisi ini adalah pengakuan kesalahan dan saling memaafkan.
Janur yang membungkus ketupat melambangkan hati nurani, sementara anyaman rumitnya mencerminkan kompleksitas hubungan sosial manusia yang harus dijaga dengan kesabaran dan keikhlasan.
Ketupat menjadi metafora bahwa kehidupan sosial, seperti anyaman, hanya akan kokoh bila dijalin dengan harmoni.
Lebaran Ketupat berlangsung pada hari ketujuh bulan Syawal, setelah umat Islam menunaikan puasa sunah enam hari.
Di Kudus, Pati, Rembang, dan Jawa Timur, masyarakat berkumpul, bersilaturahmi, dan makan bersama dengan hidangan ketupat.
Di Minahasa, khususnya, ketika Kiyai Modjo tiba di Tondano pada 1831, ia meneruskan tradisi ini dan keturunannya kemudian ikut menyebarkan ke Manado hingga Gorontalo di kampung Reksonegoro.
Momen ini bukan hanya perayaan kemenangan spiritual, tetapi juga pengingat bahwa kebersamaan adalah fondasi peradaban.
Tradisi ini masih lestari hingga kini, menjadi simbol syukur dan pengingat bahwa manusia selalu membutuhkan harmoni antara spiritualitas dan kebersamaan.
Mengacu pada M.C. Ricklefs (1934-2019), sejarawan, dalam Mengislamkan Jawa(2013), yang menegaskan bahwa kelangsungan tradisi Islam di Jawa selalu bertaut dengan budaya lokal
Akibatnya, Islamisasi tidak pernah berlangsung sebagai proses pemutusan, melainkan sebagai akulturasi yang terus berlanjut bahkan terus bernegosiasi dengan perubahan-perubahan datang dan pergi..
Dalam karya tersebut, Ricklefs menulis bahwa “Islamisasi masyarakat Jawa terus berlanjut sejak kemunculan Islam dalam masyarakat Jawa pada abad ke-14, dan proses itu berlangsung dalam bentuk yang sangat kompleks, di mana tradisi Islam bertaut erat dengan budaya Jawa yang sudah ada.”
Hal ini menunjukkan bahwa Islam di Jawa tidak hadir sebagai kekuatan yang menghapus budaya lama, melainkan menyerap dan menyesuaikan diri dengan tradisi yang sudah mapan.
Sunan Kalijaga dan para Wali Songo menggunakan seni, tembang, wayang, dan simbol-simbol agraris untuk menyampaikan ajaran Islam, sehingga masyarakat Jawa menerima Islam bukan sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ricklefs juga menekankan bahwa anggapan sebagian besar Muslim Jawa hanyalah “Islam KTP” atau abangan tidak sepenuhnya benar.
Menurutnya, Islamisasi di Jawa adalah proses panjang yang terus berlanjut, dengan lapisan-lapisan budaya yang saling bertaut.
Tradisi seperti ketupat Lebaran, slametan, atau penggunaan tembang macapat dalam dakwah adalah contoh bagaimana Islam dan budaya Jawa saling menguatkan.
Dengan demikian, Ricklefs melihat kelangsungan tradisi Islam di Jawa sebagai bukti bahwa agama dan budaya tidak harus saling meniadakan. Justru, perpaduan keduanya menciptakan bentuk Islam yang khas, yang mampu bertahan dan berkembang dalam konteks lokal.
Pesan utama dari Mengislamkan Jawa adalah bahwa Islam di Jawa adalah hasil interaksi dinamis antara keyakinan religius dan tradisi budaya, sebuah proses yang masih terus berlangsung hingga kini.
Walhasil, Ketupat Lebaran adalah irama budaya yang mendendangkan pesan sederhana namun mendalam: setelah segala perjuangan dan pengorbanan, manusia kembali kepada fitrah, saling memaafkan, dan merayakan kehidupan dengan hati nurani yang bersih.
coverlagu:
Lagu “Pat Ketupat Lepat” dirilis pada 15 April 2022 oleh Empayar Music SG, dibawakan oleh Danial Baharin, Mai Dhaniyah, Amir Mansor, dan Sarah Adriana.
credit foto diunggah dari kanal Youtube Ketupat Lebaran di Jaton(Minahasa) @akhnay|4159
festival ketupat dan @SeputarIndonesiaaaa
Subscribe Filosofi ketupat yang harus kalian tahu!
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini















