HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Maret 27, 2026
in #Geopolitik, # Revolusi Iran, #Gaza, Analisis, Bela Palestina, Iran, Palestina
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Dunia Islam hari ini berdiri di tengah pusaran geopolitik yang semakin kompleks dan tidak seimbang. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat bukan hanya mencerminkan konflik antarnegara, tetapi juga memperlihatkan bagaimana struktur kekuasaan global masih didominasi oleh kekuatan tertentu yang mampu menentukan arah politik, ekonomi, dan bahkan narasi dunia. Dalam konteks ini, dunia Islam sering kali berada pada posisi reaktif, bukan proaktif—lebih banyak merespons daripada menentukan.

Baca Juga

632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026

Menuju Dunia Multipolar

Maret 27, 2026
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00

Revolusi Iran 1979: Beberapa Pelajaran Terbaik 

Maret 26, 2026

Di tengah tekanan eksternal tersebut, persoalan yang justru paling menghambat bukanlah semata-mata kekuatan dari luar, melainkan fragmentasi dari dalam. Relasi antara Sunni dan Syiah yang masih dibayangi oleh ketegangan historis menjadi salah satu faktor utama yang melemahkan konsolidasi umat.

Padahal, jika ditarik pada fondasi teologis yang paling dasar, perbedaan tersebut tidak menyentuh inti keimanan. Syahadat yang sama, Nabi yang sama, dan Al-Qur’an yang sama seharusnya menjadi titik temu yang cukup kuat untuk membangun solidaritas. Namun realitas sosial-politik menunjukkan bahwa perbedaan yang bersifat interpretatif telah berkembang menjadi identitas yang kaku dan, dalam banyak kasus, dipolitisasi.

Kesulitan rekonsiliasi tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang konflik dan dinamika kekuasaan yang melibatkan berbagai aktor. Perbedaan mazhab yang awalnya merupakan hasil dari ijtihad intelektual telah mengalami transformasi menjadi alat legitimasi politik.

Dalam situasi tertentu, identitas Sunni dan Syiah tidak lagi dipahami sebagai spektrum pemikiran dalam Islam, tetapi sebagai blok yang saling berhadapan. Di sinilah letak persoalan mendasarnya: ketika agama beririsan dengan kepentingan kekuasaan, maka ruang dialog menjadi semakin sempit, dan prasangka semakin menguat.

Namun demikian, melihat rekonsiliasi sebagai sesuatu yang mustahil adalah sebuah kekeliruan. Justru dalam situasi global yang semakin tidak seimbang, rekonsiliasi menjadi kebutuhan strategis yang tidak bisa ditunda. Dunia Islam dengan populasi lebih dari 1,9 miliar jiwa memiliki potensi demografis yang sangat besar. Tetapi tanpa persatuan, potensi tersebut tidak akan pernah terkonversi menjadi kekuatan nyata. Ia hanya akan menjadi angka statistik yang tidak memiliki daya tawar dalam percaturan global.

Dalam konteks ini, munculnya peran Iran dalam mendukung Palestina menghadirkan dinamika baru yang menarik. Selama ini, isu Palestina lebih banyak diasosiasikan dengan komunitas Sunni. Namun ketika aktor Syiah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap isu yang sama, seharusnya hal ini membuka ruang refleksi yang lebih luas. Bahwa di tengah perbedaan mazhab, terdapat kepentingan kemanusiaan yang bersifat universal dan mampu menjadi titik temu. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah Sunni dan Syiah bisa bersatu, tetapi apakah mereka bersedia untuk menggeser fokus dari perbedaan menuju persamaan.

Kawasan Nusantara, khususnya Indonesia dan Malaysia, menawarkan harapan yang cukup realistis dalam konteks ini. Tradisi Islam di wilayah ini dikenal moderat, inklusif, dan relatif mampu mengelola perbedaan tanpa konflik terbuka. Pengalaman panjang dalam hidup berdampingan dengan keberagaman menjadikan masyarakat Muslim di kawasan ini memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi contoh rekonsiliasi. Di sini, perbedaan tidak dihapus, tetapi ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan spiritual.

Meskipun demikian, rekonsiliasi tidak akan terjadi secara otomatis. Ia membutuhkan upaya sadar dan sistematis dari berbagai pihak. Salah satu langkah paling penting adalah menggeser narasi di ruang publik. Selama ini, narasi yang berkembang cenderung menonjolkan konflik dan perbedaan. Media, baik konvensional maupun digital, sering kali memperkuat polarisasi dengan cara yang tidak disadari. Padahal, narasi memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi kolektif. Ketika yang ditonjolkan adalah perbedaan, maka yang muncul adalah jarak. Sebaliknya, ketika yang diangkat adalah persamaan, maka ruang untuk dialog akan terbuka.

Peran akademisi dan intelektual juga menjadi sangat krusial dalam proses ini. Pendekatan ilmiah yang berbasis data dan analisis objektif dapat membantu meredam emosi yang sering kali mendominasi diskursus publik. Dalam ruang akademik, perbedaan dapat didiskusikan secara rasional tanpa harus berujung pada konflik. Ini penting, karena rekonsiliasi tidak hanya membutuhkan niat baik, tetapi juga kerangka berpikir yang matang dan terstruktur.

Dari sisi ekonomi dan politik, dampak dari rekonsiliasi juga tidak bisa diabaikan. Kerja sama antarnegara Muslim memiliki potensi besar untuk meningkatkan daya saing global. Dalam era di mana kekuatan ekonomi menjadi salah satu penentu utama posisi suatu negara, persatuan menjadi aset yang sangat berharga. Tanpa koordinasi yang kuat, negara-negara Muslim akan terus berada dalam posisi yang terfragmentasi dan sulit bersaing dengan blok-blok besar lainnya.

Lebih jauh lagi, dalam konteks kemanusiaan global, persatuan umat Islam akan memberikan dampak yang signifikan. Isu Palestina, misalnya, bukan hanya persoalan politik, tetapi juga persoalan moral yang menyangkut keadilan dan kemanusiaan. Ketika suara umat Islam terpecah, maka pesan yang disampaikan menjadi lemah. Sebaliknya, ketika suara tersebut bersatu, maka ia akan memiliki resonansi yang jauh lebih kuat di tingkat internasional.

Pada akhirnya, rekonsiliasi Sunni–Syiah harus dipahami sebagai proses jangka panjang yang membutuhkan komitmen kolektif. Ia bukan tentang menghapus identitas, tetapi tentang menemukan titik temu yang memungkinkan kerja sama. Dunia Islam tidak kekurangan sumber daya, baik dari segi manusia, budaya, maupun spiritual. Yang masih menjadi pekerjaan besar adalah bagaimana mengelola semua potensi tersebut dalam kerangka persatuan yang produktif.

Jika perbedaan terus dijadikan sebagai sumber konflik, maka dunia Islam akan tetap berada dalam lingkaran ketertinggalan. Namun jika perbedaan mampu dikelola sebagai kekuatan, maka terbuka peluang besar untuk membangun kembali peran strategis dalam tatanan global. Rekonsiliasi, dalam hal ini, bukan hanya sebuah wacana ideal, tetapi sebuah keharusan historis. Ia adalah pintu masuk menuju masa depan di mana umat Islam tidak lagi menjadi objek dari dinamika global, melainkan subjek yang aktif dan berpengaruh dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan seimbang.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 253x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 225x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 207x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 143x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322
# Ironi

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c
Artikel

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi
Artikel

Kegaduhan dan Seni Mengalihkan Pandangan.

Maret 27, 2026
Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com