HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH

Redaksi by Redaksi
Oktober 12, 2021
in Essay, POTRET Budaya, Risma
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Baca Juga

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Maret 10, 2026

Oleh Ahmad Rizali

Berdomisili di Depok 

Risma menjadi trending topik nasional. Kejadiannya saat Risma memarahi Pendamping PKH di Gorontalo beberapa hari lalu. Kejadian tersebut direkam seseorang dan kemudian disebarkan melalui WhatsApp. Setelah itu, lahir berbagai pendapat dan polemik. Saya fokus pada “marahnya” Risma dan bagaimana orang Gorontalo memandang perilaku marah dalam perspektif antropologi. Kemarahan Risma menurut saya bukan sesuatu yang spontan. Kemarahannya adalah rangkaian peristiwa dan kejadian serta latar belakang kultural Risma itu sendiri. 
Dalam perspektif antropologi Gorontalo, marahnya Risma bertingkat-tingkat. Risma adalah seseorang yang “moyingowa” atau pemarah jika melihat ketidakbenaran atau kebatilan. Risma juga “mopatuwa” artinya perangainya mudah panas atau mudah marah, apalagi melihat banyak ketidakberesan aparat dalam pelayanan publik. Banyak rekaman kejadian yang bisa kita tonton soal perangai Risma, baik mulai dari Walikota Surabaya maupun saat dia menjabat Mentri Sosial.
Dua “dasar” ini adalah “kaki” perangai Risma dalam pemerintahan. Dalam konteks antropologi Gorontalo, karena banyak perulangan kejadian yang tidak beres atas tata kelola pemerintahan, maka membuat inilah yang membentuk dan menjadi “tahu-tahu atau sudah tersimpan dalam memori dan nurani. 
Di Gorontalo, jika marah sudah dalam tingkat “tahu-tahu” maka dengan trigger apapun, khususnya melihat ketidakberesan yang berulang, akan segera “naik” dan pada ujungnya pendamping PKH “tilu-tilunggoiyo” alias ditunjuk-tunjuk. Molu-molunggo’o adalah ekspresi marah dalam kaidah Gorontalo. Ekspresi dari pendamping adalah “le hulo’o” atau terduduk. 
Jadi, apa yang Risma ekspresikan sebenarnya ada dalam kultur keseharian orang Gorontalo. Bahkan dalam kemarahan orang Gorontalo yang lain, jima sudah “tahu-tahu” marah, maka ada beberapa yang akan “anu-anungo” atau menyelipkan pisau atau parang di balik baju untuk membalas atau mengekspresikan kemarahannya.
Kemarahan Risma menurut saya masuk juga dalam varian marahnya orang Gorontalo yakni “lombu-lombula nyawa” artinya itu berarti kiasan seperti merebus air yang mendidih. Dalam arti lain, marahnya Risma sudah berada “mato yimbupulu” atau sudah berada di ubun-ubun. 
Marah dalam perspektif orang Gorontalo sangat beragam. Mulai dari yingo, moyingowa, yingo ma’o-yingo ma’o, yiyingowa, mayile yingo dan banyak ragam ekspresi lainnya. 
Ada yang ekspresi lanjutan dengan sabar dan menyerahkan ke Allah dengan “mapilooyonga liyo” dan ada yang “maletahu yingo” artinya marahnya disimpan, sewaktu-waktu bisa meledak. Risma masuk kategori kedua, maletahu yingo. 
Pertanyaannya, apakah marah adalah keburukan atau tidak? Dalam konteks antropologi Gorontalo, marah dengan segala variannya adalah bagian dari kearifan lokal. Kenapa bisa disebut arif? Karena marah adalah untuk meluruskan yang tidak beres. Ada ketidakbecusan dalam mengelola sesuatu.
Di konteks Gorontalo, seorang pemimpin atau disebut “wuleya lo lipu” harus punya sifat marah. Karena sesuai janji adatnya, “huta, huta lo ito Eeya” (tanah, tanah milik Allah), “taluhu, taluhu lo ito Eeya” (air, air milik Allah), “dupoto, dupoto lo ito Eeya” (angin, angin milik Allah), “tulu-tulu lo ito Eeya” (api, api milik Allah). 
Dalam konteks itu, seorang pemimpin sebagai “wakil” wajib menjaga alam dan segala apa yang ada kaitannya dengan sepenuh hati. Marah adalah salah satu sifat untuk menegakkan kebenaran. Itu termaktub dalam kalimat adati hulo-hulo’a to Syara’a, Syara’a hulo-hulo’a to Quruani (adat bersendikan syara’, syara bersendikan Qur’an). Artinya, ada ruang dan kewajiban menegakkan amal ma’ruf dan nahi munkar. 
Pertanyaan kemudian, apakah perilaku marahnya Risma itu bisa menyelesaikan sesuatu atau membuat tata kelola pemerintahan menjadi lebih baik? Risma telah mencontohkan kebiasaan marahnya telah membuat Surabaya meraih 322 penghargaan baik nasional maupun internasional. Di level internasional, Risma mendapatkan penghargaan sebagai Walikota Terbaik Dunia dari citymayors.com. Risma juga dianugerahi walikota ketiga terbaik dunia dari World Mayor Project hingga ia menjadi tokoh urutan ke 24 dari 50 tokoh dunia versi Fortune. 
Di wilayah Asean, Risma pernah menjadi Ketua Asean Mayors Forum, yang saya menjadi saksi bagaimana Risma bisa menjadi pusat perhatian saat Asean Mayors Forum di Bangkok tahun 2019 silam.  Maksud saya menulis ini untuk menjernihkan persoalan, bahwa marahnya Risma tidak bisa dilihat dari satu perspektif, tapi multi perspektif. 
Memang banyak yang menginginkan harusnya Risma sebagai pemimpin ada sifat “toliango” atau kasih sayang. Tapi, makna toliango tidak bisa ditafsirkan satu jenis saja yakni sayang saja, marah pun adalah bagian dari toliango.
Coba kita perhatikan orang-orang tua kita, sering marah pada kita. Itu bukan “yingo” tapi “toliango”. Jadi “toliango” harus didudukkan secara lebih proporsional. 
Jadi, yingo dan toliango dalam konteks Gorontalo adalah sesuatu yang melekat dan terpadu satu sama lain. Tidak bisa dipisahkan. Karena bisa saja, misalnya jika kita lihat pada kakek dan nenek kita yang begitu sayang pada cucunya dengan cara “hepopohidiyo liyo” maka banyak contoh jika anak tersebut kelak akan jadi “jamodungohe” dan bahkan “kapala angi” dalam konteks negatif. Karena kasih sayang yang berlebihan. 
Sebagai penutup, saya mengajak agar kita lebih proporsional dalam melihat peristiwa yang terjadi. Problem inti sebenarnya bukan soal marah, tapi soal ketidakberesan manajemen data yang memang amburadul. Tapi jika dalam beberapa waktu kedepan misalnya hal ini tetap tidak beres dan tidak ada perubahan, maka Risma bisa saja kita sematkan “yingo ma’o-yingo ma’o” atau “moyingo jato tambati liyo”. Sebab, dia juga bertanggung jawab sepenuhnya atas manajemen data yang buruk, walaupun ia mewarisi hal yang buruk itu saat ia baru beberapa bulan masuk ke lingkungan kementrian yang ia pimpin, maka dia harus menunjukkan efekifitas marah yang ia terapkan saat di Surabaya lalu.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 257x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 237x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 191x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 162x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 132x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis
#Korban Bencana

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa
#Perempuan Hebat

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 16, 2026
Next Post

PETUALANGAN SEORANG DOSEN

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com