• Latest
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari - ea6c7163 a455 48c4 919a a3978dfcf9b1 | # kolonial | Potret Online

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

Maret 13, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Begitu Banyak “Teman” – Tapi…

April 29, 2026
1001436738_11zon

Refleksi 29 Tahun Pasie Raja: Merawat Potensi, Menjaga Eksistensi.

April 29, 2026
7f667085-fd7c-4173-8b85-11136faf14e4

Relevansi Pemikiran Gus Dur Dalam Pendidikan dikan, Antara Kemanusiaan dan Keberanian Berfikir

April 29, 2026
4536739a-d378-4c22-a612-82994686d242

Memahami “Waktu” Melalui Logika Nahwu.

April 28, 2026
2afaeacc-81a4-4ce5-8cd3-81dcd366f946

Kapasitas Manajerial Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Kinerja, Kolaborasi, dan Prestasi Sekolah

April 28, 2026
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | # kolonial | Potret Online

Rudal dan Nuklir: Di Persimpangan Nasib Umat Manusia.

April 28, 2026
b2bc6465-d97c-403b-9423-129ad2454b88

Pendidikan sebagai Ta’dib: Meneguhkan Integrasi Ilmu, Iman, dan Amal

April 28, 2026

Akuntansi Zakat Perdagangan: Menakar Keadilan dalam Valuasi Aset Modern

April 28, 2026
Rabu, April 29, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Maret 13, 2026
in # kolonial, #Ekonomi
Reading Time: 7 mins read
0
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari - ea6c7163 a455 48c4 919a a3978dfcf9b1 | # kolonial | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Novita Sari Yahya

Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan

Hari ini saya bertemu dengan beberapa rekan kerja untuk membahas persiapan sebuah acara internasional yang direncanakan berlangsung di Jakarta pada 1–7 November 2026. Pertemuan tersebut membahas berbagai hal, mulai dari agenda kegiatan, daftar peserta internasional, hingga kesiapan logistik dan koordinasi penyelenggaraan.

Baca Juga
  • Mengapa Dunia Islam Harus Bersatu dalam Strategi Ekonomi Anti-Penindasan
  • MASELA, HARAPAN YANG TAK LAGI TERAPUNG

Setelah pertemuan selesai, saya memutuskan pulang menggunakan ojek daring. Pilihan ini cukup umum bagi banyak warga Jakarta karena moda transportasi tersebut relatif cepat dan mampu menembus kemacetan yang kerap terjadi di berbagai ruas jalan ibu kota.

Ketika tiba di tujuan, pengemudi ojek tersebut meminta maaf karena tidak memiliki uang kembalian. Ia menjelaskan bahwa ia baru saja keluar rumah untuk mulai bekerja. Dalam percakapan singkat itu, ia juga bercerita bahwa anaknya sedang sakit sehingga ia berusaha segera mencari penghasilan untuk membeli obat.

Baca Juga
  • Negara Defisit, Rakyat Dijepit
  • Koperasi Desa Mengulang Kebijakan Kolonial dan Pepesan Kosong

Percakapan singkat seperti ini sering kali menjadi gambaran kecil dari kondisi ekonomi masyarakat pekerja sektor informal. Berbagai penelitian mengenai ekonomi informal di Indonesia menunjukkan bahwa kelompok pekerja seperti pengemudi ojek, pedagang kecil, atau buruh harian sering berada dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil karena penghasilan mereka sangat bergantung pada jumlah pekerjaan yang diperoleh setiap hari.

Pengalaman sederhana ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana kondisi ekonomi masyarakat kecil dipengaruhi oleh kebijakan, struktur ekonomi, dan dinamika sosial yang lebih besar.

Baca Juga
  • Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas
  • Partai Pendukung Mulai Berani Menyerang Kebijakan Prabowo

Suara Rakyat yang Terluka

Beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia mulai menerapkan kebijakan yang mewajibkan penggunaan identitas seperti KTP untuk pembelian LPG 3 kilogram. Kebijakan ini bertujuan agar subsidi energi tersebut dapat lebih tepat sasaran, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah dan usaha mikro.

Namun dalam praktiknya, sejumlah warga di berbagai daerah menyampaikan keluhan karena prosedur administratif tersebut dianggap menyulitkan. Di beberapa tempat, warga harus melakukan pencatatan tambahan atau menghadapi keterbatasan stok akibat proses distribusi yang belum sepenuhnya stabil.

Keluhan seperti ini memperlihatkan bagaimana kebijakan yang dirancang dengan tujuan baik terkadang menghadapi tantangan dalam implementasi di lapangan. Dalam studi kebijakan publik, kondisi ini sering disebut sebagai policy implementation gap, yaitu jarak antara desain kebijakan di tingkat pemerintah dengan pengalaman masyarakat dalam praktik sehari-hari.

Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan reflektif mengenai makna kesejahteraan dan keadilan sosial bagi masyarakat yang masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Mengingat Luka Sejarah Kolonialisme

Renungan mengenai keadilan sosial juga membawa ingatan pada pengalaman sejarah kolonialisme di Nusantara. Selama lebih dari tiga abad, sebagian besar wilayah kepulauan Indonesia berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Dalam struktur sosial kolonial, masyarakat dibagi ke dalam beberapa kategori hukum dan sosial, seperti Eropa, Timur Asing, dan pribumi. Istilah “inlander” sering digunakan dalam praktik kolonial untuk merujuk pada penduduk pribumi, dan dalam banyak konteks istilah tersebut memiliki konotasi merendahkan.

Salah satu kebijakan kolonial yang paling banyak dibahas dalam sejarah ekonomi Indonesia adalah sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diperkenalkan pada tahun 1830 oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Sistem ini mewajibkan petani di Jawa untuk menanam komoditas ekspor seperti kopi, tebu, atau nila di sebagian lahan mereka, yang kemudian diserahkan kepada pemerintah kolonial.

Sejumlah penelitian sejarah menunjukkan bahwa sistem ini memberikan keuntungan besar bagi pemerintah Belanda melalui ekspor komoditas tropis. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut juga menimbulkan tekanan ekonomi bagi petani karena mereka kehilangan sebagian lahan untuk menanam tanaman pangan.

Kritik moral terhadap praktik kolonial tersebut kemudian muncul dalam karya sastra terkenal Max Havelaar (1860) yang ditulis oleh Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker. Novel tersebut menggambarkan kritik terhadap praktik korupsi dan eksploitasi dalam administrasi kolonial di Hindia Belanda.

Gold, Glory, dan Gospel dalam Sejarah Dunia

Fenomena kolonialisme di Nusantara merupakan bagian dari proses sejarah global yang lebih luas. Dalam historiografi Barat, ekspansi bangsa-bangsa Eropa sejak abad ke-15 sering dijelaskan melalui konsep Gold, Glory, Gospel.

Gold merujuk pada motivasi ekonomi, yaitu keinginan memperoleh kekayaan melalui perdagangan, emas, dan sumber daya alam. Glory berkaitan dengan ambisi politik negara-negara Eropa untuk memperluas kekuasaan dan meningkatkan prestise kerajaan mereka. Sementara Gospel merujuk pada misi penyebaran agama Kristen yang sering menyertai ekspansi kolonial.

Motivasi ini mendorong negara-negara seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Prancis melakukan eksplorasi samudra dan membangun koloni di berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Amerika.

Di benua Amerika, kedatangan bangsa Eropa sejak akhir abad ke-15 membawa perubahan besar bagi masyarakat penduduk asli. Sejumlah penelitian sejarah menunjukkan bahwa selain konflik dan pengusiran, populasi penduduk asli juga mengalami penurunan drastis akibat penyakit yang dibawa dari Eropa serta proses kolonisasi yang berlangsung selama berabad-abad.

Dunia Modern dan Paradoks Hak Asasi Manusia

Memasuki abad ke-20 dan ke-21, komunitas internasional mulai mengembangkan kerangka hukum global mengenai hak asasi manusia. Salah satu tonggaknya adalah Universal Declaration of Human Rights (1948) yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah Perang Dunia II.

Deklarasi ini menegaskan berbagai hak dasar manusia, seperti hak hidup, kebebasan berpendapat, dan perlindungan dari diskriminasi.

Namun dalam praktik hubungan internasional, penerapan prinsip-prinsip tersebut sering menjadi perdebatan. Sejumlah ilmuwan hubungan internasional menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri negara-negara besar sering dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik dan ekonomi, sehingga penerapan prinsip hak asasi manusia dapat bersifat selektif.

Perdebatan ini menjadi bagian penting dalam studi politik global dan etika hubungan internasional.

Keadaban dan Kekuasaan di Tingkat Nasional

Di tingkat nasional, hubungan antara kekuasaan politik, ekonomi, dan masyarakat juga menjadi perhatian banyak peneliti.

Ilmuwan politik Ian Douglas Wilson dalam bukunya Politics of Protection Rackets in Post-New Order Indonesia (2015) menjelaskan bagaimana jaringan kekuasaan informal, kelompok kepentingan, dan aktor non-negara dapat memainkan peran dalam dinamika politik lokal di Indonesia setelah reformasi 1998.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, hubungan antara elite politik, kelompok ekonomi, dan aktor informal dapat memengaruhi proses politik dan distribusi kekuasaan.

Kajian semacam ini memperlihatkan bahwa demokrasi tidak hanya ditentukan oleh institusi formal seperti pemilu, tetapi juga oleh relasi kekuasaan yang berkembang dalam masyarakat.

Makna Inlander dalam Renunganu Sosial

Istilah inlander yang pernah digunakan dalam sistem kolonial memiliki makna simbolik yang kuat dalam sejarah Indonesia. Istilah tersebut tidak hanya menunjukkan kategori administratif, tetapi juga mencerminkan hubungan kekuasaan yang tidak setara antara penjajah dan masyarakat pribumi.

Sejumlah penulis dan jurnalis Indonesia, termasuk Rosihan Anwar, pernah menyinggung bagaimana istilah tersebut menggambarkan sikap paternalistik dalam pemerintahan kolonial.

Meskipun Indonesia telah merdeka sejak 1945, refleksi mengenai keadilan sosial tetap relevan. Dalam berbagai studi pembangunan, kesenjangan ekonomi dan sosial masih menjadi tantangan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketamakan sebagai Akar Ketidakstabilan

Banyak ilmuwan sosial berpendapat bahwa konflik dalam sejarah manusia sering dipicu oleh persaingan sumber daya, kekuasaan, dan kepentingan ekonomi. Teori-teori dalam ekonomi politik internasional menunjukkan bahwa perebutan sumber daya alam, jalur perdagangan, atau pengaruh geopolitik sering menjadi faktor penting dalam konflik antarnegara.

Meskipun demikian, konflik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Unsur identitas, ideologi, dan keamanan juga dapat memainkan peran penting dalam dinamika politik global.

Menemukan Kembali Kemanusiaan

Pengalaman singkat dengan pengemudi ojek tadi pagi memberikan pengingat sederhana bahwa di balik berbagai teori besar tentang ekonomi dan politik, kehidupan manusia tetap bergantung pada hal-hal mendasar yaitu kesehatan keluarga, pekerjaan yang layak, dan rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam banyak teori pembangunan modern, kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kualitas hidup, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta perlindungan sosial bagi kelompok yang rentan.

Daftar Pustaka

Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. (2022). Max Havelaar: Kisah yang membunuh kolonialisme (Multatuli). https://batupusaka.bantenprov.go.id/resensi/MjUy/max-havelaar-kisah-yang-membunuh-kolonialisme-multatuli

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. (n.d.). Katalog detail: Max Havelaar. https://sipus.surabaya.go.id/katalog/detail/118316

Multatuli. (n.d.). Max Havelaar: Of de koffiveilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij [PDF]. https://multatuli.online/bibliotheek/dwmult001maxh043.pdf

Sindonews. (2022, November 4). Kisah pembantaian dan terusirnya suku Indian di tanah Amerika. https://international.sindonews.com/read/932415/42/kisah-pembantaian-dan-terusirnya-suku-indian-di-tanah-amerika-1667567462

Tirto.id. (2021, March 23). Arti gold, glory, gospel (3G): Sejarah, latar belakang, & tujuan. https://tirto.id/arti-gold-glory-gospel-3g-sejarah-latar-belakang-tujuan-f9FJ

Wilson, I. D. (2015). The politics of protection rackets in post-new order Indonesia: Coercive capital, authority and street politics. Routledge. https://www.researchgate.net/publication/401578046_Ian_Douglas_Wilson_The_Politics_of_Protection_Rackets_in_Post-New_Order_Indonesia_Coercive_Capital_Authority_and_Street_Politics_Oxon_NY_Routledge_2015_xxii198p

Share234SendTweet146Share
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Next Post
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari - 1001350124_11zon | # kolonial | Potret Online

Apa Kata Dunia?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com