Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Tulisan ke-23 Edisi Ramadan. Sebelumnya saya sudah menarasikan kisah Hamzah RA. Sekarang, kisah Hindun yang di luar nalar manusia, bisa mengunyah jantung Singa Allah itu. Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!
Kalau sejarah awal Islam itu dijadikan serial epik dengan rating 21+, maka Hindun binti Utbah pasti masuk daftar karakter paling kontroversial sepanjang masa. Ia istri Abu Sufyan ibn Harb, ibu Muawiyah ibn Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah. Dari sosialita elite Mekah, oposisi garis keras dakwah, “pemakan jantung Hamzah”, hingga akhirnya menjadi sahabiyah yang ikut membela Islam. Plot twist-nya lebih tajam dari manuver politik modern yang pagi oposisi, sore koalisi.
Kisah ini bukan dongeng panggung. Sumbernya ada dalam sirah klasik karya Ibnu Ishaq (diterjemahkan A. Guillaume), al-Tabari, Ibnu Sa’d, dan al-Waqidi. Memang, detail mutilasi diperdebatkan sebagian ulama Sunni modern, tetapi narasi klasiknya konsisten, tragedi Uhud itu brutal.
Hindun lahir akhir abad ke-6 M di Mekah, putri Utbah ibn Rabi’ah, taipan Quraisy pemilik karavan besar Bani Abd Syams. Cantik, fasih, cerdas, dan punya akses kekuasaan. Ia sempat menikah dua kali sebelum akhirnya pada 599 M dipersunting sepupunya, Abu Sufyan. Sejak itu, ia berada di pusat orbit kekuasaan Mekah, lingkar inti elite Quraisy yang paling berpengaruh.
Ketika Rasulullah berdakwah terbuka tahun 613 M, Hindun dan suaminya berdiri di barisan paling depan penentang. Boikot ekonomi, tekanan sosial, perang opini, semuanya dijalankan. Lalu meledak Perang Badar, 17 Ramadhan 2 H/624 M. Quraisy kalah telak. Hindun kehilangan ayahnya Utbah, pamannya Syaibah, saudaranya al-Walid, dan anak sulungnya Aban. Banyak tewas oleh tangan Hamzah ibn Abdul Muththalib, “Singa Allah”. Di titik ini, dendam Hindun bukan sekadar emosi, tetapi simbol kehormatan suku yang runtuh.
Ia tidak larut dalam air mata. Ia menyusun strategi. Ia merekrut Wahsy ibn Harb, budak Abyssinia milik Jubayr ibn Mut’im. Janjinya jelas, kebebasan dan harta jika Hamzah gugur. Dendam bertemu insentif ekonomi, formula klasik dalam sejarah konflik.
Tahun 3 H/625 M, meletus Perang Uhud. Abu Sufyan memimpin 3.000 pasukan. Hindun ikut bersama perempuan Quraisy, menyanyikan yel-yel pembakar semangat. Awalnya Muslim unggul, tetapi sebagian pemanah melanggar instruksi. Formasi goyah. Arus perang berbalik. Wahsy melempar tombak, menembus perut Hamzah. Target strategis tumbang.
📚 Artikel Terkait
Sesudah pertempuran mereda, terjadilah adegan paling kelam dalam sirah. Hindun dan beberapa wanita Quraisy memutilasi jasad Muslim. Telinga dan hidung dipotong. Ia mencari jasad Hamzah, merobek dadanya, mengeluarkan kabid (liver; sebagian narasi populer menyebut jantung). Ia mengunyahnya sebagai simbol pelunasan sumpah, tetapi tidak mampu menelannya dan meludahkannya.
Lalu ia berdiri di atas batu, darah masih melekat di tangannya, dan melantunkan syair yang menggema di lereng Uhud:
“Kami telah balas Badr dengan perang yang lebih dahsyat!
Aku tak tahan kehilangan Utbah, saudaraku, pamannya, dan anak sulungku!
Kini dendamku terpuaskan, sumpahku terlunasi!
Wahai Wahsy, kau telah padamkan api di dadaku!
Aku akan memuji Wahsy seumur hidup, hingga tulangku hancur di kubur!”
Itu bukan sekadar puisi. Itu deklarasi politik suku. Itu konferensi pers kemenangan versi abad ke-7. Badar dianggap telah “dibayar lunas”. Harga diri Quraisy, menurut versi mereka, ditegakkan kembali. Dalam budaya Arab, syair adalah media opini publik. Satu bait bisa lebih tajam dari pedang.
Namun sejarah tidak berhenti di situ. Tahun 630 M, terjadi Fath Makkah. Mekah ditaklukkan hampir tanpa pertumpahan darah besar. Abu Sufyan masuk Islam. Hindun sempat bergejolak, tetapi akhirnya berbaiat di hadapan Rasulullah. Ketika syarat baiat dibacakan, tidak syirik, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak, ia menerimanya. Islam menghapus masa lalunya.
Transformasinya nyata. Tahun 636 M/15 H, dalam Perang Yarmuk melawan Byzantium pada masa Khalifah Umar, Hindun berada di barisan belakang menyemangati pasukan Muslim. Ia bahkan memukul kuda Abu Sufyan agar maju bertempur. Dari penyanyi syair dendam di Uhud menjadi penyemangat jihad di Yarmuk. Dari simbol perlawanan Quraisy menjadi bagian dari barisan Islam.
Ia wafat sekitar 636 M (ada riwayat menyebut 14 H atau masa Utsman). Anaknya, Muawiyah, kelak menjadi khalifah pertama Dinasti Umayyah. Sejarah memang panggung besar yang penuh tikungan. Hindun membuktikan satu hal, manusia bisa berubah total. Bedanya dengan drama politik modern yang kadang hanya ganti slogan, di sini yang berubah adalah keyakinan dan arah hidup. Dari dendam berdarah menjadi iman yang membara.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






