• Latest
Kisah Hindun si Pemakan Jantung Hamzah - 03de2158 9d5c 4dc2 8c48 ea5c2fe60132 | #Perempuan Hebat | Potret Online

Kisah Hindun si Pemakan Jantung Hamzah

Maret 5, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
IMG_0722

Make-Up dan Self-Confidence Pada Remaja Perempuan dalam Perspektif Psikologi

April 10, 2026
Kota Batavia abad ke-18 dengan kanal, bangunan kolonial, dan suasana senja yang muram di sekitar Kali Besar.

Geger Pecinan 1740 Mengubah Wajah Nusantara Selamanya

April 10, 2026
667109a2-c370-4108-8a9c-7dcb1a0a1d44

Normalisasi “Chatting” Tanpa Batas: Pergeseran Makna Khalwat di Era Digital

April 10, 2026
Kisah Hindun si Pemakan Jantung Hamzah - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Perempuan Hebat | Potret Online

Dari Instrumen ke Otoritas: Ketika Algoritma Menggeser Kedaulatan Keputusan Manusia

April 10, 2026
Ilustrasi korban perempuan mengalami tekanan dan diskriminasi akibat pelecehan seksual di media sosial

Diskriminasi terhadap Korban Pelecehan Seksual di Media Sosial

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Kisah Hindun si Pemakan Jantung Hamzah - 03de2158 9d5c 4dc2 8c48 ea5c2fe60132 | #Perempuan Hebat | Potret Online

Kisah Hindun si Pemakan Jantung Hamzah

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 5, 2026
in #Perempuan Hebat, Perempuan, Sejarah, Tokoh Islam
Reading Time: 3 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Tulisan ke-23 Edisi Ramadan. Sebelumnya saya sudah menarasikan kisah Hamzah RA. Sekarang, kisah Hindun yang di luar nalar manusia, bisa mengunyah jantung Singa Allah itu. Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!

Kalau sejarah awal Islam itu dijadikan serial epik dengan rating 21+, maka Hindun binti Utbah pasti masuk daftar karakter paling kontroversial sepanjang masa. Ia istri Abu Sufyan ibn Harb, ibu Muawiyah ibn Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah. Dari sosialita elite Mekah, oposisi garis keras dakwah, “pemakan jantung Hamzah”, hingga akhirnya menjadi sahabiyah yang ikut membela Islam. Plot twist-nya lebih tajam dari manuver politik modern yang pagi oposisi, sore koalisi.

Baca Juga:
  • Cut Nyak Dhien, Akan Sangat Kecewa
  • Antara Panggung dan Substansi: Menguji Kualitas Figur Publik di Era Instan
  • Menakar Progres Gerakan Perempuan Indonesia: Dari Kongres 1928 hingga Era Reformasi

Kisah ini bukan dongeng panggung. Sumbernya ada dalam sirah klasik karya Ibnu Ishaq (diterjemahkan A. Guillaume), al-Tabari, Ibnu Sa’d, dan al-Waqidi. Memang, detail mutilasi diperdebatkan sebagian ulama Sunni modern, tetapi narasi klasiknya konsisten, tragedi Uhud itu brutal.

Hindun lahir akhir abad ke-6 M di Mekah, putri Utbah ibn Rabi’ah, taipan Quraisy pemilik karavan besar Bani Abd Syams. Cantik, fasih, cerdas, dan punya akses kekuasaan. Ia sempat menikah dua kali sebelum akhirnya pada 599 M dipersunting sepupunya, Abu Sufyan. Sejak itu, ia berada di pusat orbit kekuasaan Mekah, lingkar inti elite Quraisy yang paling berpengaruh.

Ketika Rasulullah berdakwah terbuka tahun 613 M, Hindun dan suaminya berdiri di barisan paling depan penentang. Boikot ekonomi, tekanan sosial, perang opini, semuanya dijalankan. Lalu meledak Perang Badar, 17 Ramadhan 2 H/624 M. Quraisy kalah telak. Hindun kehilangan ayahnya Utbah, pamannya Syaibah, saudaranya al-Walid, dan anak sulungnya Aban. Banyak tewas oleh tangan Hamzah ibn Abdul Muththalib, “Singa Allah”. Di titik ini, dendam Hindun bukan sekadar emosi, tetapi simbol kehormatan suku yang runtuh.

Ia tidak larut dalam air mata. Ia menyusun strategi. Ia merekrut Wahsy ibn Harb, budak Abyssinia milik Jubayr ibn Mut’im. Janjinya jelas, kebebasan dan harta jika Hamzah gugur. Dendam bertemu insentif ekonomi, formula klasik dalam sejarah konflik.

Baca Juga

Perempuan Aceh mengenakan hijab sedang menulis di buku dalam suasana komunitas, mencerminkan semangat literasi dan pemberdayaan perempuan desa

Kerinduan Perempuan Aceh untuk Menulis: Dari Dibungkam Menjadi Bersuara

April 9, 2026
IMG_0698

Cut Nyak Dhien, Akan Sangat Kecewa

April 9, 2026
1b63f37b-04de-476e-982d-ff11413af0b5

Panglima Perang Dalam Islam

April 7, 2026

Tahun 3 H/625 M, meletus Perang Uhud. Abu Sufyan memimpin 3.000 pasukan. Hindun ikut bersama perempuan Quraisy, menyanyikan yel-yel pembakar semangat. Awalnya Muslim unggul, tetapi sebagian pemanah melanggar instruksi. Formasi goyah. Arus perang berbalik. Wahsy melempar tombak, menembus perut Hamzah. Target strategis tumbang.

Sesudah pertempuran mereda, terjadilah adegan paling kelam dalam sirah. Hindun dan beberapa wanita Quraisy memutilasi jasad Muslim. Telinga dan hidung dipotong. Ia mencari jasad Hamzah, merobek dadanya, mengeluarkan kabid (liver; sebagian narasi populer menyebut jantung). Ia mengunyahnya sebagai simbol pelunasan sumpah, tetapi tidak mampu menelannya dan meludahkannya.

Lalu ia berdiri di atas batu, darah masih melekat di tangannya, dan melantunkan syair yang menggema di lereng Uhud:

“Kami telah balas Badr dengan perang yang lebih dahsyat!
Aku tak tahan kehilangan Utbah, saudaraku, pamannya, dan anak sulungku!
Kini dendamku terpuaskan, sumpahku terlunasi!
Wahai Wahsy, kau telah padamkan api di dadaku!
Aku akan memuji Wahsy seumur hidup, hingga tulangku hancur di kubur!”

Itu bukan sekadar puisi. Itu deklarasi politik suku. Itu konferensi pers kemenangan versi abad ke-7. Badar dianggap telah “dibayar lunas”. Harga diri Quraisy, menurut versi mereka, ditegakkan kembali. Dalam budaya Arab, syair adalah media opini publik. Satu bait bisa lebih tajam dari pedang.

Namun sejarah tidak berhenti di situ. Tahun 630 M, terjadi Fath Makkah. Mekah ditaklukkan hampir tanpa pertumpahan darah besar. Abu Sufyan masuk Islam. Hindun sempat bergejolak, tetapi akhirnya berbaiat di hadapan Rasulullah. Ketika syarat baiat dibacakan, tidak syirik, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak, ia menerimanya. Islam menghapus masa lalunya.

Transformasinya nyata. Tahun 636 M/15 H, dalam Perang Yarmuk melawan Byzantium pada masa Khalifah Umar, Hindun berada di barisan belakang menyemangati pasukan Muslim. Ia bahkan memukul kuda Abu Sufyan agar maju bertempur. Dari penyanyi syair dendam di Uhud menjadi penyemangat jihad di Yarmuk. Dari simbol perlawanan Quraisy menjadi bagian dari barisan Islam.

Ia wafat sekitar 636 M (ada riwayat menyebut 14 H atau masa Utsman). Anaknya, Muawiyah, kelak menjadi khalifah pertama Dinasti Umayyah. Sejarah memang panggung besar yang penuh tikungan. Hindun membuktikan satu hal, manusia bisa berubah total. Bedanya dengan drama politik modern yang kadang hanya ganti slogan, di sini yang berubah adalah keyakinan dan arah hidup. Dari dendam berdarah menjadi iman yang membara.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

SummarizeShare235Tweet147
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Related Posts

29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de
Artikel

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”
Psikologi Sosial

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da
BIngkai Remaja

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
IMG_0722
Artikel

Make-Up dan Self-Confidence Pada Remaja Perempuan dalam Perspektif Psikologi

April 10, 2026
Next Post
Kisah Hindun si Pemakan Jantung Hamzah - 68498a0b 5127 4830 a593 fd1cea81812b | #Perempuan Hebat | Potret Online

Peradaban Kenyang, Akal Telanjang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com