Dengarkan Artikel
Oleh Feri Irawan
Kepala SMK Negeri 1 Gandapura
Proses pembentukan karakter diawali dengan pembiasaan. Proses pembiasaan inilah yang kita kenal dengan budaya atau pembudayaan. Maka, dalam rangka membentuk karakter yang dituju, dibangunlah budaya positif dilingkungan sekolah. Budaya sekolah dimaknai dengan tradisi sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut di sekolah.
Artinya, budaya sekolah ini berisi kebiasaan-kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasan positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk.
Budaya kerja guru pada dasarnya merupakan nilai-nilai yang menjadi kebiasaan seseorang dan menentukan kualitas seseorang dalam bekerja. Nilai-nilai itu dapat berasal dari adat kebiasaan, ajaran agama, norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat. Budaya kerja guru dapat terlihat dari rasa bertanggungjawabnya dalam menjalankan amanah, profesi yang diembannya, dan rasa tanggungjawab moral.
Budaya kerja pada dasarnya merupakan suatu sistem nilai yang di ambil maupun dikembangkan oleh sekolah sehingga menjadi aturan yang dipakai sebagai pedoman berfikir dan bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan sekolah. Contohnya budaya disiplin. Disiplin hadir ke sekolah tepat waktu, disiplin mengajar, disiplin mengikuti semua kegiatan yang ada disekolah dan juga disiplin mematuhi peraturan yang diterapkan di sekolah. Jangan sampai guru menuntut kedisiplinan kepada siswa, sementara gurunya tidak melaksanakan disiplin
CANTIK Solusinya
Pernyataan bahwa siswa SMK wajib cantik dan tampan lebih merujuk pada konsep berpenampilan rapi, bersih, dan profesional (menarik), bukan sekadar fisik semata. Di lingkungan SMK, “cantik/tampan” diartikan sebagai siswa yang disiplin, berseragam sesuai aturan, rambut rapi, dan menjaga kebersihan diri (grooming), yang mencerminkan kesiapan terjun ke dunia kerja atau industri.
CANTIK yang penulis maksudkan disini lebih kepada nama istilah atau akronim yang penulis namakan.
Pertama, Cintai (C) pekerjaan. Banyak dari kita yang tidak sadar bahwa cinta itu harus memiliki, maka hal ini adalah salah satu hal yang baik dan harus kita ketahui. Ketika seseorang memiliki sebuah hal yang dicintai, maka dia akan menjaga hal tersebut baik itu orang, pekerjaan, benda dan lainnya. Karena orang yang mencintai pekerjaan dirinya akan lebih bersungguh-sungguh dalam bekerja.
Terkadang dalam mengajar seseorang guru itu selayaknya mau tidak mau saja, maksudnya guru itu sebenarnya malas mengajar tapi dipaksakan juga. Hal ini menandakan bahwa guru itu tidak mencintai pekerjaan dirinya. Cintailah pekerjaannya supaya tidak merasa beban. Cintai profesi itu, sehingga apa yang kita lakukan akan terasa ringan. Untuk itu guru harus bisa mencintai pekerjaannya. Mencintai pekerjaan itu adalah yang paling utama sebelum kita bekerja.
Kedua, Adil (A) dan Jujur dalam memberikan pelayanan prima kepada siswa. Sikap adil bertujuan agar setiap siswa memperoleh nilai sesuai dengan kemampuan belajarnya sendiri tanpa ada unsur membeda-bedakan, baik itu karena latar belakang siswa ataupun karena persepsi pribadi terhadap siswa.
📚 Artikel Terkait
Penilaian tanpa dasar atau tidak ada hubungannya dengan pembelajaran akan merugikan siswa. Setiap siswa memperoleh kesempatan yang sama dalam sistem penilaian belajar yang dilakukan oleh guru. Hal ini bisa didapatkan jika seorang guru memiliki sikap adil.
Setiap guru haruslah bersikap jujur dalam melakukan semua aktifitas di sekolah. Misalkan, jujur dalam mengajar, artinya kalau siswanya sudah di dalam kelas, guru juga secepatnya menjumpai mereka. Jangan sampai merugikan mereka. Jujur dalam memberi nilai, artinya seorang guru tidak boleh pilih-pilih siswa sesuai kemauan guru.
Dalam proses belajar mengajar guru memberikan pelayanan prima, dengan memberikan pengetahuan, ilmu maupun moral/sikap, sopan santun dan keteladanan yang baik. Memberikan pengajaran melalui pengajaran yang variatif tidak monoton dan tidak membosankan. Memberikan evaluasi yang sesuai materi yang diajarkan dan dapat dipertanggungjawabkan. Guru bekerja memberikan pelayanan prima ke siswa tanpa mengenal lelah dan dilakukan secara professional.
Ketiga, Niatkan (N) mengajar sebagai ibadah. Berupayalah mengajar semaksimal mungkin apa yang sudah menjadi tugas pokok sebagai guru. Kunci yang paling penting adalah menjalani dengan penuh senang hati, sehingga selama menjalani profesi sebagai guru akan memancarkan keceriaan sehingga siswa pun merasa nyaman. Menjalani profesi sebagai guru merupakan bagian dari ibadah. Maka itu, jalani profesi ini dengan penuh keikhlasan dan kesabaran agar mendapatkan ganjaran dari Allah SWT.
Selama mengajar terus berupaya semaksimal mungkin apa yang sudah menjadi tugas pokok saya sebagai guru baik profesional, pedagogik , pribadi, dan sosial dengan membuat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Sebagai guru juga terus berusaha membuat karya-karya yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Keempat, Terampil (T) mengajar dalam pembelajaran. Ibarat seorang pemandu wisata, harus memiliki keterampilan berbahasa yang menarik. Saat pengunjung mendengarkan apa yang disampaikannya, akan menjadi tahu dengan suasana hati semakin antusias ingin tahu.
Demikian juga guru. Guru yang terampil memberi kesan pada caranya membuka dan menutup pembelajaran. Mengawali dan mengakhiri pembelajaran merupakan salah satu dasar keterampilan mengajar yang memberikan efek kesenangan pada siswa.
Fakta yang ada, siswa susah diajak dalam suasana belajar. Misalnya siswa tertidur, siswa berbicara dengan temannya, mencoret-coret kerta atau meja dan lain-lain. Banyak hal buruk yang terjadi saat pembelajaran berlangsung. Ini merupakan tantangan seorang guru. Maka dari itu, perlu keterampilan guru menciptakan suasana yang tenang agar siswa mendengarkan materi yang disampaikan
Kelima, Ingat (I) selalu senyum, sapa, salam, sopan, dan santun. Sebuah sapaan dengan mengucapkan salam yang kemudian diiringi senyuman. Sungguh luar biasa. Nilai sebuah senyuman pun sangat besar. Nilai senyuman sama dengan sedekah, seperti sabda Nabi Muhammad SAW “Senyum adalah shadaqoh”.
Tingkah laku seorang guru yang menyambut anak-anaknya dengan senyuman, kemudian mengucapkan salam kepada siswanya dengan lembut, “assalamualaikum!”, dan menyapanya, “Apa kabar ananda hari ini?” tentu akan sangat mengesankan bagi siswanya. Senyum, sapa, dan salam guru di pagi hari memberikan sejuta kebahagiaan dan kesan yang tidak terlupakan bagi siswanya.
Sebuah senyuman dan keramahan, seorang guru bisa membangkitkan semangat siswa untuk belajar, karena dalam suasana hati yang senang biasanya otak seseorang bisa bekerja sehingga siswa bisa belajar dengan santai tanpa adanya tekanan. Senyuman seorang guru, membuat siswa tergugah dan terbangkitkan semangat belajarnya. Guru yang murah senyum, tentu akan terbuka untuk kerja sama dengan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Pada gilirannya belajar di kelas menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan.
Keenam, Kerjakan (K) tupoksi dengan penuh tanggungjawab dan dengan kualitas yang memuaskan. Seorang guru harus siap menerima tanggung jawab dengan tugas yang diberikan dan hasil yang dicapai.
Tanggung jawab merupakan sikap yang ditunjukkan seseorang terhadap apa yang telah ditugaskan kepadanya. Bertanggung jawab atas apa yang dilimpahkan pimpinan akan menjamin kepercayaan pimpinan dan menjaga kenyamanan kerja serta produktifitas kerja.
Tanggung jawab adalah bentuk komitmen individu dalam setiap aktifitasnya. Kerja keras juga harus di miliki oleh seorang guru. Artinya kalau pimpinan memberikan tugas kepada kita guru, kita harus menerima dengan senang hati, tidak boleh menolak apa yang sudah di berikan kepada kita.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





