Dengarkan Artikel
Ramadan #7
Oleh Dayan Abdurrahman
Ramadan tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan yang menghangatkan suasana spiritual lalu menguap bersama gema takbir. Jika dunia hari ini berada dalam pusaran krisis—ketimpangan ekonomi, konflik berkepanjangan, dan rapuhnya solidaritas sosial—maka Ramadan harus dibaca sebagai titik balik. Bukan sekadar bulan suci, tetapi momentum rekonstruksi moral dan sistemik.
Dayan dalam berbagai refleksinya sering menekankan bahwa ibadah tidak cukup dimaknai secara simbolik; ia harus menjelma menjadi arsitektur sosial. Puasa, dalam kerangka ini, bukan hanya menahan lapar. Ia adalah pendidikan empati yang seharusnya berujung pada desain keadilan. Lapar adalah pengalaman personal, tetapi keadilan adalah proyek kolektif.
Solusi Dari Ritual ke Sistem
Agar Ramadan benar-benar menjadi titik balik, ada empat agenda solutif yang harus ditegaskan:
Pertama, reformasi tata kelola zakat dan wakaf secara profesional dan transparan.
Zakat tidak boleh sekadar distribusi konsumtif tahunan. Ia harus menjadi modal produktif yang membiayai pendidikan, kewirausahaan, dan ketahanan pangan. Data kemiskinan harus menjadi dasar distribusi, bukan sekadar pendekatan emosional.
Kedua, integrasi filantropi dengan kebijakan publik.
Negara dan lembaga keagamaan harus berkolaborasi. Program bantuan sosial dapat disinergikan dengan dana zakat untuk memperkuat pemberdayaan, bukan ketergantungan.
Ketiga, membangun pusat ketahanan sosial berbasis masjid.
Masjid tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi pusat literasi ekonomi, klinik gratis, dan pelatihan keterampilan. Di berbagai wilayah, model ini telah berjalan dan perlu direplikasi secara sistematis.
Keempat, menjadikan Ramadan sebagai audit moral tahunan.
Setiap lembaga—pemerintah, organisasi keagamaan, hingga komunitas lokal—perlu mengevaluasi: sejauh mana kebijakan mereka berpihak pada kelompok rentan?
Tanpa empat langkah ini, Ramadan berisiko menjadi musim kebaikan tanpa transformasi struktural.
Aceh sebagai Pelajaran Sejarah
Aceh memiliki memori historis yang relevan. Pada masa kesultanan, ketika Islam menjadi fondasi tata kelola, ulama tidak berdiri di pinggir kekuasaan; mereka menjadi penuntun moral negara. Tokoh seperti Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf as-Singkili bukan hanya ahli tasawuf, tetapi arsitek pemikiran hukum dan etika sosial. Mereka memahami bahwa spiritualitas tanpa struktur akan rapuh, sementara kekuasaan tanpa moral akan korup.
Aceh saat itu ibarat kapal besar: syariat menjadi kompas, ulama menjadi navigator, dan rakyat menjadi awak yang bergerak bersama. Analogi ini penting—tanpa kompas, kapal akan tersesat; tanpa awak, ia tak bergerak.
Komparasi Nasional: Spirit yang Sama
📚 Artikel Terkait
Di Indonesia modern, kita melihat upaya serupa. Ahmad Dahlan menekankan pendidikan dan pelayanan sosial sebagai ekspresi iman. Hasyim Asy’ari membangun tradisi pesantren yang menggabungkan spiritualitas dan kebangsaan. Nurcholish Madjid mengingatkan bahwa Islam harus menjadi kekuatan moral yang inklusif dalam masyarakat plural.
Mereka semua memahami satu hal: agama yang hidup adalah agama yang memberi solusi sosial. Ramadan, dalam semangat mereka, bukan sekadar ritual, tetapi energi pembaruan.
Tradisi dan Modernitas
Jika kita melihat sejarah dunia Islam, Umar ibn al-Khattab memberi contoh bagaimana keadilan sosial diwujudkan secara konkret. Ia tidak hanya menganjurkan empati, tetapi memastikan distribusi baitul mal berjalan adil. Sementara Al-Ghazali menekankan pentingnya penyucian jiwa agar tindakan publik tidak terkontaminasi ambisi pribadi.
Di era kontemporer, pemikir seperti Tariq Ramadan mengajak Muslim hidup aktif dalam masyarakat plural, menjadikan nilai puasa sebagai etika publik.
Perbandingan ini menunjukkan kesinambungan: dari klasik hingga modern, pesan Ramadan tetap sama—empati harus institusionalisasi.
Nilai Universal Puasa
Menariknya, nilai puasa tidak eksklusif Islam. Mahatma Gandhi menggunakan puasa sebagai sarana disiplin moral dan protes non-kekerasan. Ia melihat pengendalian diri sebagai kekuatan etis yang mampu mengubah politik.
Dalam tradisi Kristen, Pope Francis sering menekankan makna puasa sebagai solidaritas dengan kaum miskin. Dalam filsafat modern, Hannah Arendt berbicara tentang tanggung jawab publik dan tindakan kolektif sebagai inti kehidupan politik.
Analogi yang elegan bisa kita tarik: puasa adalah seperti rem dalam kendaraan. Tanpa rem, kecepatan menjadi bahaya. Tanpa pengendalian diri, kekuasaan dan ekonomi berubah destruktif. Ramadan melatih rem moral itu—tetapi rem harus dipasang permanen dalam sistem, bukan hanya digunakan sebulan.
Mengapa Ini Penting Sekarang?
Di tengah pembatasan akses ibadah di kawasan sensitif seperti sekitar Masjid Al-Aqsa, solidaritas global umat menunjukkan bahwa nilai tidak bisa dibatasi tembok geopolitik. Namun solidaritas emosional harus naik kelas menjadi solidaritas struktural: advokasi kebijakan, diplomasi kemanusiaan, dan penguatan ekonomi umat.
Dayan Abdurrahman berargumen bahwa kebangkitan umat bukan terletak pada retorika identitas, melainkan pada kemampuan mengubah empati menjadi desain sistem. Ini adalah pergeseran paradigma: dari simbol ke strategi.
Titik Balik yang Tegas
Maka, solusi eksplisitnya adalah ini:
- Bangun sistem ekonomi berbasis zakat produktif.
- Perkuat kolaborasi antara ulama, akademisi, dan pemerintah.
- Jadikan masjid pusat pemberdayaan sepanjang tahun.
- Ubah Ramadan menjadi laboratorium kebijakan sosial.
Jika empat langkah ini dijalankan secara konsisten, Ramadan tidak lagi berhenti sebagai perayaan spiritual, tetapi menjadi fondasi reformasi sosial.
Peradaban besar lahir ketika nilai moral terintegrasi dengan tata kelola. Seperti akar yang tak terlihat namun menopang pohon, empati Ramadan harus menjadi fondasi yang tak selalu disorot, tetapi menentukan kekokohan struktur sosial.
Ramadan mengajarkan kita bahwa lapar adalah guru, empati adalah energi, dan keadilan adalah tujuan. Titik balik umat tidak ditentukan oleh seberapa khusyuk kita beribadah, tetapi oleh seberapa berani kita merancang sistem yang melindungi yang lemah.
Jika tahun ini kita gagal menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi struktural, maka kita hanya mengulang tradisi tanpa arah. Namun jika kita berhasil—dengan kesadaran, kolaborasi, dan keberanian moral—maka Ramadan benar-benar menjadi arsitektur kebangkitan.
Dan di sanalah, sejarah akan mencatat bahwa umat tidak sekadar berpuasa, tetapi membangun masa depan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






