Dengarkan Artikel
Ramadhan #5
Oleh Dayan Abdurrahman
Menjelang Ramadan, nurani kolektif kita diuji oleh realitas yang tidak sederhana. Penderitaan kemanusiaan di Gaza Strip, instabilitas berkepanjangan di Timur Tengah, dan kemiskinan struktural di banyak negeri—termasuk Indonesia—menghadirkan pertanyaan teologis sekaligus politis: bagaimana memahami kehadiran Tuhan di tengah sejarah yang tampak timpang? Dan apa tanggung jawab umat beriman di era demokrasi global yang rapuh oleh polarisasi?
Tulisan ini mengajak naik kelas—dari reaksi emosional menuju refleksi berlapis; dari nostalgia kejayaan menuju etika masa depan; dari klaim identitas menuju kontribusi kemanusiaan. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi semesta—bukan slogan sakral yang berhenti di mimbar, melainkan proyek peradaban yang harus dibuktikan secara rasional dan institusional.
Iman yang Bersanding dengan Akal
Sejak awal, Islam memuliakan akal. Tradisi intelektual yang melahirkan Ibn Rushd menegaskan kompatibilitas wahyu dan rasio; sementara Al-Ghazali menunjukkan bahwa spiritualitas harus ditopang nalar yang jernih. Keduanya memberi teladan bahwa iman tidak anti-kritik; ia justru matang melalui dialog.
Di ruang publik modern, demokrasi menuntut argumentasi yang bisa dipahami semua warga—beriman atau tidak. Karena itu, bahasa keagamaan perlu diterjemahkan menjadi etika universal: keadilan, martabat manusia, akuntabilitas kekuasaan. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai lintas agama dan tradisi filsafat politik. Ketika John Rawls berbicara tentang “keadilan sebagai fairness”, ia menggarisbawahi tata kelola yang melindungi yang paling rentan. Ketika Jürgen Habermas mendorong “ruang publik deliberatif”, ia menekankan dialog rasional sebagai fondasi legitimasi. Nilai-nilai ini tidak bertentangan dengan maqasid al-shariah—tujuan-tujuan etis syariat—yang melindungi jiwa, akal, harta, agama, dan keturunan.
Maka, iman yang dewasa bukanlah iman yang menutup diri dari percakapan global, melainkan iman yang percaya diri untuk berkontribusi dalam bahasa yang dapat diterima bersama.
Sejarah: Inspirasi, Bukan Nostalgia
Kejayaan masa lalu—Baghdad, Andalusia, jaringan perdagangan Samudra Hindia—sering disebut dengan bangga. Namun kebesaran historis hanya bermakna jika ia menjadi inspirasi metodologis, bukan pelipur lara identitas. Pusat-pusat ilmu dahulu unggul karena keberanian menerjemahkan pengetahuan lintas peradaban, membangun institusi, dan menghargai meritokrasi.
Pelajaran pentingnya jelas: kebangkitan lahir dari kombinasi iman, ilmu, dan tata kelola. Tanpa integritas institusi, energi spiritual tidak bertransformasi menjadi kemaslahatan publik. Tanpa riset dan inovasi, solidaritas mudah terseret menjadi slogan. Sejarah mengajarkan bahwa kemajuan tidak lahir dari retorika kemenangan, melainkan dari disiplin panjang membangun ekosistem.
Problem Teologis: Di Mana Tuhan dalam Derita?
Pertanyaan klasik ini perlu dijawab dengan jujur. Dalam kerangka Islam, dunia adalah ruang ujian yang beroperasi melalui hukum sebab-akibat (sunatullah). Kebebasan manusia adalah syarat moralitas; tanpa kebebasan, tidak ada tanggung jawab. Karena itu, kezaliman mungkin terjadi—bukan karena Tuhan absen, melainkan karena manusia memilih dan sistem membiarkan.
Namun kebebasan tidak identik dengan impunitas. Tradisi agama-agama besar sepakat bahwa keadilan hakiki melampaui horizon duniawi. Keyakinan pada pengadilan akhir bukan pelarian dari etika publik; ia adalah sumber keberanian untuk melawan tirani tanpa menjadi tiran baru. Di sinilah paradoks iman: tenang secara spiritual, tegas secara moral.
📚 Artikel Terkait
Dari Empati ke Arsitektur Solusi
Ramadan mengasah empati melalui puasa. Tetapi empati perlu ditransformasikan menjadi arsitektur solusi. Isu Gaza, misalnya, menuntut pendekatan multi-level: advokasi kemanusiaan berbasis hukum internasional; diplomasi yang konsisten; literasi media untuk melawan disinformasi; serta penguatan ekonomi dan pendidikan agar solidaritas tidak berhenti pada donasi sesaat.
Membela yang tertindas bukan karena identitas semata, tetapi karena martabat manusia. Martin Luther King Jr. pernah mengingatkan bahwa “ketidakadilan di mana pun adalah ancaman bagi keadilan di mana pun.” Seruan ini sejalan dengan spirit rahmah dalam Islam. Solidaritas lintas agama bukan kompromi teologis; ia adalah konsensus etis.
Di tingkat domestik, negeri mayoritas Muslim menghadapi pekerjaan rumah struktural: tata kelola yang bersih, distribusi kesejahteraan, dan budaya riset. Zakat, wakaf, dan filantropi adalah instrumen kuat—tetapi harus dikelola profesional, transparan, dan berdampak. Tanpa akuntabilitas, kebaikan privat sulit menjadi keadilan publik.
Demokrasi Etis dan Kepemimpinan Amanah
Abad ke-21 ditandai oleh demokrasi prosedural yang sering kehilangan roh. Polarisasi, populisme, dan politik identitas mereduksi deliberasi menjadi kompetisi emosi. Di sinilah agama dapat memberi subsidi moral—bukan untuk mendominasi negara, tetapi untuk memurnikan niat publik.
Kepemimpinan amanah berarti berani diawasi, siap dikoreksi, dan transparan dalam keputusan. Prinsip syura (musyawarah) dapat diperkaya oleh praktik demokrasi modern: checks and balances, kebebasan pers, dan supremasi hukum. Integrasi nilai spiritual dan desain institusional inilah yang membuat etika bertahan, bukan sekadar menghangatkan wacana.
Prediksi dan Kemungkinan: Jika Rahmah Dikelola
Bagaimana masa depan jika Islam benar-benar diartikulasikan sebagai rahmat universal? Setidaknya ada tiga kemungkinan konstruktif.
Pertama, munculnya generasi yang menggabungkan literasi agama dengan kompetensi sains dan teknologi. Mereka tidak alergi terhadap riset, tetapi menjadikannya ibadah sosial. Kedua, tumbuhnya ekosistem ekonomi berkeadilan—berbasis kewirausahaan etis, keuangan inklusif, dan pengentasan kemiskinan berbasis data. Ketiga, diplomasi kemanusiaan yang konsisten, membangun koalisi lintas agama untuk isu-isu global: perubahan iklim, krisis pangan, dan pengungsi.
Kemungkinan-kemungkinan ini bukan utopia. Ia menuntut kerja sunyi: memperbaiki kurikulum, memperkuat universitas, mendanai riset, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Spirit Ramadan—disiplin, kesabaran, pengendalian diri—adalah fondasi psikologis bagi proyek panjang ini.
Bahasa yang Mengajak Semua Golongan
Agar diterima lintas keyakinan, pesan keagamaan perlu hadir sebagai undangan, bukan penghakiman. Dunia lelah oleh klaim absolut yang menutup dialog. Yang dibutuhkan adalah kearifan yang mendengar, keberanian yang rendah hati, dan keyakinan yang tidak agresif.
Kita bisa berbeda dalam teologi, tetapi bersatu dalam etika. Kita boleh berbeda dalam ritus, tetapi bertemu pada martabat manusia. Dalam kerangka ini, membela Gaza adalah membela kemanusiaan; memperbaiki tata kelola di Indonesia adalah amanah kebangsaan; dan memperdalam iman adalah energi moral.
Mengakhiri dengan Harapan yang Rasional
Harapan bukan optimisme naif. Ia adalah pilihan rasional untuk bekerja di tengah ketidakpastian. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban berubah ketika gagasan menemukan institusi, dan ketika institusi dipimpin oleh integritas. Iman memberi orientasi; akal memberi metode; demokrasi memberi mekanisme; dan kemanusiaan memberi tujuan.
Menjelang Ramadan, marilah kita berpuasa dari keputusasaan dan dari kebencian. Mari kita latih diri untuk berpikir jernih, berempati aktif, dan bertindak terukur. Jika Islam adalah rahmat bagi semesta, maka rahmat itu harus tampak pada kualitas pendidikan, pada bersihnya tata kelola, pada keberpihakan kepada yang lemah, dan pada kesediaan berdialog.
Di situlah iman bertemu masa depan—tidak sebagai gema masa lalu, tetapi sebagai cahaya yang membumi. Dan di situlah kita semua, apa pun keyakinannya, dapat menjadi bagian dari jawaban atas tantangan abad ke-21: menghadirkan keadilan yang masuk akal, kasih sayang yang terorganisasi, dan harapan yang bekerja.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






