POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Rahmatan lil ‘Alamin di Abad ke-21: Kedewasaan Iman, Demokrasi Etis, dan Tanggung Jawab Peradaban

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
February 22, 2026
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Ramadhan #5

Oleh Dayan Abdurrahman

Menjelang Ramadan, nurani kolektif kita diuji oleh realitas yang tidak sederhana. Penderitaan kemanusiaan di Gaza Strip, instabilitas berkepanjangan di Timur Tengah, dan kemiskinan struktural di banyak negeri—termasuk Indonesia—menghadirkan pertanyaan teologis sekaligus politis: bagaimana memahami kehadiran Tuhan di tengah sejarah yang tampak timpang? Dan apa tanggung jawab umat beriman di era demokrasi global yang rapuh oleh polarisasi?

Tulisan ini mengajak naik kelas—dari reaksi emosional menuju refleksi berlapis; dari nostalgia kejayaan menuju etika masa depan; dari klaim identitas menuju kontribusi kemanusiaan. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi semesta—bukan slogan sakral yang berhenti di mimbar, melainkan proyek peradaban yang harus dibuktikan secara rasional dan institusional.

Iman yang Bersanding dengan Akal

Sejak awal, Islam memuliakan akal. Tradisi intelektual yang melahirkan Ibn Rushd menegaskan kompatibilitas wahyu dan rasio; sementara Al-Ghazali menunjukkan bahwa spiritualitas harus ditopang nalar yang jernih. Keduanya memberi teladan bahwa iman tidak anti-kritik; ia justru matang melalui dialog.

Di ruang publik modern, demokrasi menuntut argumentasi yang bisa dipahami semua warga—beriman atau tidak. Karena itu, bahasa keagamaan perlu diterjemahkan menjadi etika universal: keadilan, martabat manusia, akuntabilitas kekuasaan. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai lintas agama dan tradisi filsafat politik. Ketika John Rawls berbicara tentang “keadilan sebagai fairness”, ia menggarisbawahi tata kelola yang melindungi yang paling rentan. Ketika Jürgen Habermas mendorong “ruang publik deliberatif”, ia menekankan dialog rasional sebagai fondasi legitimasi. Nilai-nilai ini tidak bertentangan dengan maqasid al-shariah—tujuan-tujuan etis syariat—yang melindungi jiwa, akal, harta, agama, dan keturunan.

Maka, iman yang dewasa bukanlah iman yang menutup diri dari percakapan global, melainkan iman yang percaya diri untuk berkontribusi dalam bahasa yang dapat diterima bersama.

Sejarah: Inspirasi, Bukan Nostalgia

Kejayaan masa lalu—Baghdad, Andalusia, jaringan perdagangan Samudra Hindia—sering disebut dengan bangga. Namun kebesaran historis hanya bermakna jika ia menjadi inspirasi metodologis, bukan pelipur lara identitas. Pusat-pusat ilmu dahulu unggul karena keberanian menerjemahkan pengetahuan lintas peradaban, membangun institusi, dan menghargai meritokrasi.

Pelajaran pentingnya jelas: kebangkitan lahir dari kombinasi iman, ilmu, dan tata kelola. Tanpa integritas institusi, energi spiritual tidak bertransformasi menjadi kemaslahatan publik. Tanpa riset dan inovasi, solidaritas mudah terseret menjadi slogan. Sejarah mengajarkan bahwa kemajuan tidak lahir dari retorika kemenangan, melainkan dari disiplin panjang membangun ekosistem.

Problem Teologis: Di Mana Tuhan dalam Derita?

Pertanyaan klasik ini perlu dijawab dengan jujur. Dalam kerangka Islam, dunia adalah ruang ujian yang beroperasi melalui hukum sebab-akibat (sunatullah). Kebebasan manusia adalah syarat moralitas; tanpa kebebasan, tidak ada tanggung jawab. Karena itu, kezaliman mungkin terjadi—bukan karena Tuhan absen, melainkan karena manusia memilih dan sistem membiarkan.

Namun kebebasan tidak identik dengan impunitas. Tradisi agama-agama besar sepakat bahwa keadilan hakiki melampaui horizon duniawi. Keyakinan pada pengadilan akhir bukan pelarian dari etika publik; ia adalah sumber keberanian untuk melawan tirani tanpa menjadi tiran baru. Di sinilah paradoks iman: tenang secara spiritual, tegas secara moral.

📚 Artikel Terkait

Pergulatan Batin Aktivis: Antara Idealisme, Cinta, dan Tanggung Jawab Sosial

Bangga! Mahasiswa STP Riau Raih Juara 3 di Ajang Competition of Science and Mathematics Jenjang Perguruan Tingkat Nasional

Klarifikasi Sang Istri Menteri Nyatakan Tak Gunakan Uang Negara

Meraih Mahkota Surga

Dari Empati ke Arsitektur Solusi

Ramadan mengasah empati melalui puasa. Tetapi empati perlu ditransformasikan menjadi arsitektur solusi. Isu Gaza, misalnya, menuntut pendekatan multi-level: advokasi kemanusiaan berbasis hukum internasional; diplomasi yang konsisten; literasi media untuk melawan disinformasi; serta penguatan ekonomi dan pendidikan agar solidaritas tidak berhenti pada donasi sesaat.

Membela yang tertindas bukan karena identitas semata, tetapi karena martabat manusia. Martin Luther King Jr. pernah mengingatkan bahwa “ketidakadilan di mana pun adalah ancaman bagi keadilan di mana pun.” Seruan ini sejalan dengan spirit rahmah dalam Islam. Solidaritas lintas agama bukan kompromi teologis; ia adalah konsensus etis.

Di tingkat domestik, negeri mayoritas Muslim menghadapi pekerjaan rumah struktural: tata kelola yang bersih, distribusi kesejahteraan, dan budaya riset. Zakat, wakaf, dan filantropi adalah instrumen kuat—tetapi harus dikelola profesional, transparan, dan berdampak. Tanpa akuntabilitas, kebaikan privat sulit menjadi keadilan publik.

Demokrasi Etis dan Kepemimpinan Amanah

Abad ke-21 ditandai oleh demokrasi prosedural yang sering kehilangan roh. Polarisasi, populisme, dan politik identitas mereduksi deliberasi menjadi kompetisi emosi. Di sinilah agama dapat memberi subsidi moral—bukan untuk mendominasi negara, tetapi untuk memurnikan niat publik.

Kepemimpinan amanah berarti berani diawasi, siap dikoreksi, dan transparan dalam keputusan. Prinsip syura (musyawarah) dapat diperkaya oleh praktik demokrasi modern: checks and balances, kebebasan pers, dan supremasi hukum. Integrasi nilai spiritual dan desain institusional inilah yang membuat etika bertahan, bukan sekadar menghangatkan wacana.

Prediksi dan Kemungkinan: Jika Rahmah Dikelola

Bagaimana masa depan jika Islam benar-benar diartikulasikan sebagai rahmat universal? Setidaknya ada tiga kemungkinan konstruktif.

Pertama, munculnya generasi yang menggabungkan literasi agama dengan kompetensi sains dan teknologi. Mereka tidak alergi terhadap riset, tetapi menjadikannya ibadah sosial. Kedua, tumbuhnya ekosistem ekonomi berkeadilan—berbasis kewirausahaan etis, keuangan inklusif, dan pengentasan kemiskinan berbasis data. Ketiga, diplomasi kemanusiaan yang konsisten, membangun koalisi lintas agama untuk isu-isu global: perubahan iklim, krisis pangan, dan pengungsi.

Kemungkinan-kemungkinan ini bukan utopia. Ia menuntut kerja sunyi: memperbaiki kurikulum, memperkuat universitas, mendanai riset, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Spirit Ramadan—disiplin, kesabaran, pengendalian diri—adalah fondasi psikologis bagi proyek panjang ini.

Bahasa yang Mengajak Semua Golongan

Agar diterima lintas keyakinan, pesan keagamaan perlu hadir sebagai undangan, bukan penghakiman. Dunia lelah oleh klaim absolut yang menutup dialog. Yang dibutuhkan adalah kearifan yang mendengar, keberanian yang rendah hati, dan keyakinan yang tidak agresif.

Kita bisa berbeda dalam teologi, tetapi bersatu dalam etika. Kita boleh berbeda dalam ritus, tetapi bertemu pada martabat manusia. Dalam kerangka ini, membela Gaza adalah membela kemanusiaan; memperbaiki tata kelola di Indonesia adalah amanah kebangsaan; dan memperdalam iman adalah energi moral.

Mengakhiri dengan Harapan yang Rasional

Harapan bukan optimisme naif. Ia adalah pilihan rasional untuk bekerja di tengah ketidakpastian. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban berubah ketika gagasan menemukan institusi, dan ketika institusi dipimpin oleh integritas. Iman memberi orientasi; akal memberi metode; demokrasi memberi mekanisme; dan kemanusiaan memberi tujuan.

Menjelang Ramadan, marilah kita berpuasa dari keputusasaan dan dari kebencian. Mari kita latih diri untuk berpikir jernih, berempati aktif, dan bertindak terukur. Jika Islam adalah rahmat bagi semesta, maka rahmat itu harus tampak pada kualitas pendidikan, pada bersihnya tata kelola, pada keberpihakan kepada yang lemah, dan pada kesediaan berdialog.

Di situlah iman bertemu masa depan—tidak sebagai gema masa lalu, tetapi sebagai cahaya yang membumi. Dan di situlah kita semua, apa pun keyakinannya, dapat menjadi bagian dari jawaban atas tantangan abad ke-21: menghadirkan keadilan yang masuk akal, kasih sayang yang terorganisasi, dan harapan yang bekerja.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 119x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026
#Gerakan Menulis

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Oleh Tabrani YunisFebruary 19, 2026
#Anggaran Pendidikan

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Oleh Tabrani YunisFebruary 18, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
79
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
203
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Atas Nama Bencana

Atas Nama Bencana

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00