POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Di Atas Langit Masih Ada Langit

RedaksiOleh Redaksi
February 18, 2026
Di Atas Langit Masih Ada Langit
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Anto Narasoma

ALLAH membeci mereka yang serakah dan merasa lebih hebat dari orang lain.

Ini bentuk kesombongan dan keangkuhan yang membahayakan nilai dasar akhlak dan kepribadian manusia sejati.

Karena itu manusia harus selalu menyadari nilai kemampuan dirinya yang terbatas. Sebab sehebat apa pun diri seseorang, ia hanya menguasai satu ruang yang hanya itu dikuasainya.

Sedangkan ketika ada ruang lain yang dikuasai oleh manusia lain, maka nilai kita berada di belakang manusia yang menguasai ruang itu.

Dalam keadaan ini, fakta yang dihadapi harus menjadi pertimbangan hati nuarani. Sebab akal terkadang tak mampu untuk menalar kekurangan yang ada di dalam diri sendiri.

Akibatnya, ketika kita menghadapi persoalan.orang lain yang berada di depan kita, emosi kita akan terbakar. Akibatnya kita berusaha keras untuk mendahului orang yang ada di depan kita.

Padahal kalau kita mampu mendahului mereka, apakah kita merasa menang? Baik, katakanlah, kalau kita menang, ternyata di depan kita masih ada pemenang lain yang lebih cepat dan mendahului kita.

Kalau kita turuti emosi yang tak memiliki rasa syukur, kita akan mengejar pemenang itu lagi. Kalau pun kita menang, kita pun akan disalib pemenang lain.

Karena itu kejar-mengejar seperti itu tidak ada gunanya. Karena bentuk kemenangan seperti itu adalah kemenangan semu, yang tidak mampu meredam ambisi dan melupakan rasa syukur ke pada Allah SWT.

Yang jadi pertayaan, apakah kalau kita menerapkan kebijakan jalan santai, pelan dan tidak memancing emosi dan kebencian orang lain, kita dicap kalah dalam persaingan itu?

📚 Artikel Terkait

Merayakan Hari Anak Nasional di Era Kecerdasan Artifisial

Mengelola Perbedaan, Menjaga Demokrasi: Refleksi Pilkades di Tingkat Desa

Seluk Beluk Sanubari

Santri Dayah Apresiasi Pelaksanaan Pelatihan Penulisan Ilmiah

Jawabnya tentu tidak. Kita mengendarai mobil dengan kecepatan sedang dan tidak memicu kecepatan lebih, kadang-kadang kita ada di depan. Sedangkan di belakang kita masih ada mobil-mobil lain yang mengiringi perjalanan kita.

Apakah kita merasa menang? Lagi-lagi jawabnya tidak. Justru dengan berjalan santai kita akan selamat, tenang dan tiba di garis batas tujuan kita.

Sedangkan kendaraan lain akan menempati ruang di mana kita pernah menempatinya. Apakah mereka kalah? Tidak juga.

Posisi kita menulis puisi bisa seperti itu. Jika kita berada pada posisi awal, mutu karya kita belum sekualitas penyair yang lebih dahulu mengembangkan eksistensinya.

Karena itu biarlah kita berada di posisi belakang sembari belajar agar nanti kita bisa ada di depan. Karena proses kehidupan itu tidak bisa langsung secara instan, tiba-tiba bisa ada di depan. Itulah proses alamiah yang berputar sesuai kodrat dan ketentuan Allah SWT.

Di sini kita dituntut untuk menyadari tentang ukuran kemampuan diri sendiri yang penuh keterbatasan. Sebab apa yang terlihat dan kita alami sesungguhnya hal yang nisbi dan tak mungkin bisa kita capai, karena keterbatasan kemampuan kita sebagai manusia.

Jika kita kaji sejak awal, dahulu dan saling mendahului tak ada artinya. Bahkan batasan siapa menang dan siapa yang kalah, itu suatu fakta yang sulit diterjemahkan akal pikiran. Mengapa?

Seperti mengendarai seunit mobil, ketika kita mendahului mobil yang ada di depan, tiba-tiba ada mobil lain yang juga mendahului mobil kita.

Dahulu dan saling mendahulu, tak akan ada habis-habisnya. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak akan memperoleh posisi untuk berada di depan. Sebab ketika kita ada di depan, ternyata masih ada yang lain di depan kita.

Sebaliknya ketika kita berjalan santai, ternyata di belakang kita masih ada mobil lain yang jalannua lebih perlahan. Apakah kita berada di posisi yang kalah? Jawabannya tentu tidak.

Karena itu kalah menang di dalam mengisi nilai kehidupan ini adalah sesuatu yang nisbi. Karena itu Allah SWT memberikan batasan-batasan sosial ke pada setiap manusia.

Kita bisa menjadi yang terbaik dalam satu bidang. Tapi ketika kita berbicara pada satu bidang lainnya, terrnyata kita tidak ada apa-apanya.

Karena itu coba kita hentikan sikap ingin menang sendiri. Tak ada istilah memang disaat kita berada di depan. Karena masih ada orang lain yang lebih jauh mendahului kita. Seperti kata pepatah, di i atas langit, masih ada langit. (*)

Oktober 2020

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 80x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 78x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Anggaran Pendidikan

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Oleh Tabrani YunisFebruary 18, 2026
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
61
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Gamang

Kelas Afirmasi Masih Perlu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00