POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Meugang yang Basah

RedaksiOleh Redaksi
February 17, 2026
Meugang yang Basah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hurriyatuddaraini

(Inong Literasi)

Hari itu Selasa. Jam enam pagi.

Hujan turun pelan, lalu tiba-tiba deras. Airnya menghantam atap seng rumah kami yang tak berplafon, suaranya keras memenuhi seluruh ruangan.

Aku baru selesai shalat subuh. Mukena kulipat perlahan. Karena hujan dan hari itu libur, aku kembali berbaring sebentar. Bau tanah basah masuk lewat celah jendela.

Hari itu hari meugang.

Dua hari lagi Ramadan.

Di rumah-rumah lain sejak subuh para ayah sudah pulang dari pasar membawa daging. Ibu-ibu sibuk di dapur. Anak-anak bangun dengan aroma santan dan rempah.

Di rumah kami, suasananya lebih tenang. Lebih sederhana.

Bukan berarti tak bahagia.

Kami hanya terbiasa hidup tanpa banyak pilihan.

Di hari lain, kami terbiasa makan satu telur dibelah dua. Kadang bahkan dibagi empat. Tapi di hari meugang, rasanya berbeda. Aku bisa makan satu telur sebutir utuh, tanpa perlu berbagi. Itu saja sudah terasa seperti hadiah kecil yang jarang datang. Atau sesekali mamak menggorengnya dengan campuran kelapa, jadilah boh manok u. Kami makan tanpa protes. Mamak selalu berhasil membuat kami merasa cukup.

Kalau ada tahu, ia tak pernah menggorengnya begitu saja. Tahu itu dihancurkan, dicampur telur, dibentuk bulat-bulat kecil, lalu direbus dengan kuah sederhana. Kadang ditambah bayam atau toge. Kami menyebutnya bakso. Dan kami memakannya dengan bangga.

Kami tak pernah merasa miskin.

Karena mamak tak pernah mengajarkan kami untuk merasa begitu.

“Nida…” suara mamak dari dapur memanggil namaku.

Aku bangkit dari tempat tidur.

“Kukur kelapa ini sebentar, nak. Mamak mau giling bumbu.”

Aku duduk di lantai dapur. Suara batu gilingan bergesek pelan. Bau bawang, cabai, dan ketumbar memenuhi udara.

“Hari ini kita masak apa, mak?”

“Semalam ayah beli telur sepuluh butir. Kita buat rendang boh manok untuk meugang kita.”

📚 Artikel Terkait

Sejarah Membuminya Warung Kopi di Bumi Serambi Mekkah

Kulukis Wajahmu di Angan

Friend Karina and Dianda: Camping at the Backyard

Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Rendang boh manok.

Entah kenapa dadaku tetap terasa hangat. Walaupun bukan daging, kata “rendang” saja sudah cukup membuatku bahagia.

“Mak, buat bumbunya yang banyak ya, mak. Supaya aku bisa menyimpannya untuk dimakan dengan nasi hangat saat sahur besoknya.”

Mamak tersenyum tanpa menoleh.

“Iya, neuk.”

Dalam hatiku, rendang telur itu sudah terasa seperti pesta kecil.

Tapi bayangan tentang rendang daging tetap muncul diam-diam. Kemarin Rifa bercerita panjang tentang neneknya. Tentang rendang buatan tangan tua itu yang katanya lembut dan harum sekali. Aku mendengarnya sambil menelan ludah dan pura-pura tak terlalu peduli.

Tiba-tiba terdengar ribut di luar.

Aku keluar sebentar.

Pak Mahmud dan anaknya, Agam, tetangga kami sedang mengejar ayam peliharaan mereka yang lepas dari kurungan. Ayam itu berlari ke sana kemari, membuat mereka panik sekaligus kesal. Hujan sudah mulai reda, tanah becek, dan kaki mereka kotor oleh lumpur.

Aku ikut membantu mengejar. Kami tertawa di tengah kepanikan kecil itu. Tak lama, ayam itu berhasil ditangkap. Akan disembelih. Akan jadi gulai ayam kampung yang pasti harum sekali. Aku membayangkan sambil menetes air liur.

Aku masuk lagi ke rumah dengan perasaan campur aduk.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.

Rifa berdiri di depan, bersama seorang perempuan tua yang wajahnya teduh dan lembut. Di tangannya ada satu kresek kecil.

“Ini buat kalian,” kata neneknya pelan. “Belum dimasak.”

Aku menerima kresek itu dengan tangan sedikit gemetar.

Seekor ayam.

Tidak besar. Tidak gemuk. Tapi cukup membuat mataku berbinar.

Di belakangku, mamak berdiri terdiam. Matanya berkaca-kaca.

Hujan masih turun tipis.

Dan untuk pertama kalinya, meugang kami bukan hanya tentang telur.

Rumah kami tetap kecil. Atapnya tetap tanpa plafon. Tapi siang itu, rasanya luas sekali.

Basah oleh hujan.

Basah oleh syukur.

Basah oleh kebaikan yang datang tanpa diminta.

Dan aku, anak kelas dua SMP yang masih sering membagi telur menjadi empat bagian, diam-diam kembali berjanji,

Suatu hari nanti, aku ingin membeli daging tanpa harus menghitung potongannya.

Aku ingin membelikan mamak, ayah, dan adikku baju hari raya yang benar-benar baru.

Dan aku ingin menjadi orang yang membawa kresek kecil itu ke rumah orang lain.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan

Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00