POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian

RedaksiOleh Redaksi
February 17, 2026
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Syarifudin Brutu

Syarif menyesap kopi sanger dinginnya. Di luar, suara orator unjuk rasa memecah keheningan siang di Aceh Singkil. Spanduk-spanduk berkibar, isinya seragam: “Usut Bantuan Presiden! Tolak Penindasan!”.

Syarif tidak ikut turun ke jalan. Bukan karena dia tidak peduli, tapi karena dia tahu, barisan massa yang menamakan diri “Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda” itu seringkali seperti antrean di loket bioskop; kalau dapat tiket, mereka diam; kalau tidak dapat, mereka teriak “filmnya jelek!”.

“Rif, kenapa nggak ikut demo? Kau kan jago nulis orasi?” tanya Bang Jek, pemilik warung kopi.

Syarif tertawa kecil. “Ah, Bang. Di sana itu bukan orasi, itu ‘nego harga’. Mereka teriak transparansi bantuan Rp 1,7 miliar di Disdik karena mereka tahu ada yang lagi ‘makan besar’, tapi mereka nggak diajak duduk di meja makannya. Coba kalau kemarin mereka dikasih proyek beli ikat pinggang sekolah, pasti hari ini mereka lagi asyik ngopi di hotel, bukan panas-panasan di kantor DPRK.”

Di layar ponsel Syarif, muncul berita tentang Pak Ajat, penjual es keliling yang dicoret dari BPJS PBI karena dianggap “mampu” dengan penghasilan Rp 30 ribu sehari. 

Sebuah ironi yang membuat Syarif mual. Di satu sisi, negara begitu pelit memberikan jaminan kesehatan pada tukang es yang harus cuci darah rutin. Di sisi lain, bantuan Rp 4 miliar untuk bencana bisa jadi lahan “bacakan” para pejabat yang perutnya sudah lebih melar daripada logika mereka.

“Lihat ini, Bang,” Syarif menunjukkan gambar Pak Ajat. “Negara ini punya kalkulator yang rusak. 30 ribu sehari dibilang ‘mampu’ masuk Desil 6. Mungkin bagi mereka, kalau rakyat masih bisa bernapas tanpa bantuan tabung oksigen berbayar, itu sudah dianggap konglomerat. 

📚 Artikel Terkait

AKU BENCI SEMBILAN NAGA

HABA Si PATok

Menyamakan Pikiran dan Tindakan Terhadap Masalah Pengemis

Membangun Bangsa dan Negara Indonesia Dengan Etika, Moral dan Akhlak Mulia

Tapi lihat di Aceh Singkil, bantuan buat anak sekolah saja dikorupsi. Ukuran seragamnya kecil-kecil, nggak muat dikancingkan. Mungkin yang beli seragam itu pikir anak sekolah kita semua kurang gizi karena orang tuanya cuma punya 30 ribu sehari!”

Syarif kembali menulis di buku catatannya. Judulnya: “Beasiswa Mandiri: Bayar Dulu, Baru Pintar”.

Ini adalah rahasia umum di kampusnya. Mau beasiswa orang miskin? Harus punya “kenalan”. Mau dapat jatah dana pendidikan? Harus bayar administrasi “di bawah meja”. Keadilan bukan lagi milik mereka yang berhak, tapi milik mereka yang bisa membayar cicilan keadilan.

“Bang,” Syarif memulai lagi, “Yang demo itu juga sama saja. Mereka teriak ‘lawan korupsi’ bukan karena benci korupsinya, tapi karena mereka iri nggak kebagian jatah ‘dana meugang’ atau proyek pengadaan baju. 

Di negeri ini, keadilan itu barang dagangan. Kalau kau nggak punya modal buat bayar, kau harus punya massa buat bikin berisik supaya kau ‘dibeli’ untuk diam.”

Suara orator makin kencang, mendesak pemakzulan bupati. Syarif hanya menggeleng. Dia tahu, setelah unjuk rasa selesai, akan ada pertemuan di ruangan ber-AC. Tuntutan “hak interpelasi” akan berubah jadi “hak bagi-bagi jatah”.

“Kasihan Pak Ajat,” gumam Syarif. “Dia nggak punya massa buat demo. Dia cuma punya gerobak es kelapa muda. Dia bukan mahasiswa yang bisa mengancam pemakzulan. Dia cuma rakyat yang dianggap ‘kaya’ oleh aplikasi, tapi ‘mampus’ oleh kenyataan.”

Syarif menutup bukunya. Dia merasa lebih “intelektual” dengan tidak ikut dalam barisan munafik di luar sana. Baginya, sastra adalah cara dia tetap jujur di tengah kerumunan yang sedang bertransaksi harga diri.

“Lek,” Syarif berbisik pada bayangannya di kaca warung kopi. “Ternyata lebih mudah mencari jarum di tumpukan jerami daripada mencari ketulusan di tumpukan spanduk demo.”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 68x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 62x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00