Dengarkan Artikel
Bagian 2
Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi
Semilir angin malam bertiup lembut membelai jiwa-jiwa yang terlelap. Temaram cahaya bintang di kejauhan menyempurnakan keindahan. Dalam pekatnya malam tersimpan selaksa rindu untuk bermunajat kepada-Nya.Salamah beranjak mengusir rasa kantuk, melawan dinginnya malam. Dalam hening ia bermunajat.
Ya Allaah, jika hal ini membawa kebaikan bagiku dan agamaku, maka mudahkanlah jalanku, namun jika tidak maka jauhilah dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu. Hati Salamah dibalut gerimis, dan tiba-tiba
“Pak, besok kita main lagi ya” Hasan mengingau. Dalam remang cahaya panyet yang bergoyang ditiup angin Salamah bisa melihat Hasan tersenyum, manis sekali.
Entah mengapa sejak kepergian Salim, Hasan sering sekali mengingau, mungkin bocah itu tidak sanggup menanggung rindu.
Selesai bersimpuh dalam doa Salamah memilih melanjutkan tidur, sama seperti malam-malam sebelumnya, ia harus selalu mengumpulkan energi agar mampu menjalani perannya sebagai ayah dan ibu sekaligus bagi keenam buah hatinya.
Belum lama terlelap tiba-tiba ia tersentak. “Rupanya hanya mimpi” Seru hatinya. Salim tersenyum manis sekali, senyum itulah yang dulu telah mencuri hati Salamah, membuatnya mabuk kepayang “Inikah jawaban dari doa-doa yang telah kupanjatkan?” Hatinya kembali berseru.
“Bang, Aku memang lelah menjalani hari tanpamu, tapi aku tidak pernah lelah mencintaimu” Salamah larut dalam perasaannya, tetesan bening berguguran membasahi pipinya.
Salamah sudah memutuskan untuk menolak lamaran Syahdan. Ia kembali menjalani hari-harinya dengan tenang tanpa dibayangi rasa bersalah atas keputusan yang ia ambil, sebab sejak awal saat ia berniat membebaskan Syahdan dari tahanan tiada sedikit pun terbersit agar ia dikasihani.
“Mak Mak, Marwan merusak sepeda temannya”. Lapor Syarwan tergopoh mengagetkan Salamah. Ini bukan kali pertama, pernah sebelumnya ia menyakiti ayam tetangga sampai Salamah harus membayar ganti rugi.
Marwan dan Syarwan adalah putra ketiga dan keempat Salamah, mereka adalah saudara kembar tapi sifat keduanya jauh berbeda seperti langit dan sumur bor. “Ya Rabbi, lapangkan lah dadaku seluas samudra agar aku dapat menampung segala ujian dari-Mu” lirih Salamah
📚 Artikel Terkait
Belum selesai masalah sepeda yang harus ditanggung biaya perbaikannya, Salamah dikejutkan dengan hal lain
“Mak, aku mau sepatu baru seperti punya temanku” sekilas rengekan dari Nyak Ti, putri kelima Salamah. Itu terlihat biasa, tapi masalahnya jika Salamah tidak memenuhinya seketika, saat itulah drama sesungguhnya dimulai. Nyak Ti akan berguling-guling di tanah dan menangis sejadi-jadinya tanpa mau mendengar alasan apapun.
Dan ini sudah berulang kali terjadi. Biasanya Hindun, putri kedua Salamah yang akan menjadi pelibur lara bagi Salamah, ia yang selalu sedia meminjamkan bahunya sebagai tempat bersandar bagi Salamah. Hindun tumbuh menjadi gadis yang bijak melebihi usianya.
Kicau burung berlomba memamerkan keindahan suaranya. Saling bercengkrama di balik rimbunnya pohon mangga di depan rumah sebelum mereka pergi mencari kehidupan untuk dibawa pulang ke sarang. Di antara kicauan burung sayup terdengar
“Mak, saya mohon izin untuk belajar menyetir sama Pak WaIsa ya” pinta Ra’jab putra pertama Salamah. Ia berencana ingin melanjutkan jejak sang Bapak, membawa penumpang setiap hari pekan tiba sebagai tambahan untuk sumber penghidupan keluarga, tidak hanya bergantung pada sebidang tanah peninggalan Bapak. Begitu Ra’jab pernah menyampaikan pada Salamah suatu ketika.
“Baik Nak, hati-hati ya” Balas Salamah. Entah mengapa kegelisahan seketika menyelimuti hatinya. Kejadian beberapa tahun lalu saat kepergian Salim kembali menari-nari di pelupuk mata. “Semoga Allah senantiasa menjagamu Ra’jab” bisik batinnya. Ada mendung menggelayut di kedua matanya demi mengingat Ra’jab, ia dituntut keadaan untuk segera dewasa sebelum waktunya.
Belum lama Ra’jab berangkat, kabar mengejutkan datang. Ra’jab kecelakaan. Bayang-bayang kehilangan kembali menghantui Salamah “Ya Rab, jangan Engkau ambil ia sekarang, aku tidak siap untuk kehilangan yang keduakalinya” bisik Salamah.
Suatu nikmat yang tak terhingga ketika akhirnya Raja diizinkan dokter untuk pulang setelah dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Tidak ada yang serius dari kecelakaan itu, Ra’jab hanya diminta untuk istirahat agar mempercepat proses penyembuhannya.
Senja turun di ufuk barat menandakan malam akan segera datang. Kuning keemasan sinar mentari perlahan berganti gelap menyelimuti semesta. Salamah menutup jendela kayu yang telah usang dimakan waktu sembari mengenang lika liku hidupnya. Sama seperti senja, ia pun tak lagi muda. Uban hadir tanpa malu-malu memenuhi rambutnya yang dulu hitam legam. Garis-garis keriput tak segan bermunculan pada kulitnya yang dulu bak pualam.
Di usia senja ia tinggal sendiri setelah mengantarkan buah hatinya menjemput suratan takdir masing-masing, meski tidak benar-benar terpisah oleh jarak.
Ra’jab berhasil membangun usaha travel yang bergerak pada pelayanan antar kota dalam provinsi. Hindun dikenal sebagai pemilik rumah jahit yang andal, semua penduduk desa adalah pelanggan setianya.
Syarwan merupakan kepala desa yang disegani sementara Marwan tumbuh menjadi pribadi yang shalih dan cerdas yang menjadi seorang pemimpin pondok pesantren. Nyak Ti tumbuh menjadi seorang guru yang penuh dedikasi, dan si bungsu Hasan adalah seorang kepala sekolah yang dihormati. Tidak hanya itu, kedua menantu laki-laki Salamah adalah imam yang berwibawa yang senantiasa menghidupkan shalat berjamaah sehingga menjadikan kehidupan desa semakin bercahaya.
Hari-hari terus berlalu, siang dan malam terus berganti. Matahari terbit dan tenggelam, menjalankan titah yang Maha Kuasa. Bunga-bunga kebahagiaan sedang bermekaran Indah di hati Salamah. Hari ini semua anak cucunya berkumpul menemaninya mengusir sepi. biasanya setiap akhir pekan anak-anaknya secara bergantian menemani, tapi entah mengapa hari itu mereka hadir semua.
Di tengah suasana pagiyang syahdu, di tengah kebahagiaan yang sulit diungkapkan Salamah pamit ingin ke kamar mandi bersiap untuk melaksanakan shalat dhuha. Lima menit pertama berlalu tanpa kegundahan, lima menit kedua pun tak dirisaukan. Hingga menit berikutnya berganti kekhawatiran.
“Maaaak” jeritan Nyak Ti mengagetkan. Salamah tergeletak di kamar mandi, dengan kondisi basah yang hampir sekujur badan. Segera diangkat tubuh ringkihnya, segala macam pertolongan diberikan tapi Salamah tetap bergeming. Ia telah berpulang, menyusul sang kekasih kembali menyambung sandaran yang sempat patah. Ia pergi tanpa merepotkan anak-anaknya yang harus memapahnya menjemput ajal. Tapi meninggalkan duka yang sulit disembuhkan.
Rintik hujan turun membasahi bumi seakan ikut berduka atas kehilangan. Sungguh tiada yang tahu secepat apa kebahagiaan berganti tangisan.
Terinspirasi dari kisah nyata
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





