Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Suatu malam di bulan Ramadan, seorang anak di Gaza bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kenapa kita selalu diserang?” Sang ayah tidak menjawab panjang. Ia hanya memeluk anaknya dan berkata, “Kita harus kuat.”
Kalimat itu sederhana. Tapi pertanyaannya tidak sederhana.
Di belahan dunia lain, seorang Muslim minoritas di Eropa berusaha menjelaskan identitasnya setiap hari—bahwa ia bukan teroris, bukan ancaman, hanya warga biasa yang ingin hidup tenang. Sementara di Asia Tenggara, termasuk Aceh yang pernah mengalami konflik panjang dan trauma kolektif, masyarakat belajar bahwa kekuatan bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal posisi tawar, struktur, dan kapasitas.
Pertanyaannya menjadi semakin relevan: mengapa umat Islam sering berada pada posisi defensif? Mengapa banyak wilayah Muslim menjadi arena konflik, intervensi, atau tekanan global? Dan lebih jauh lagi—apa yang kurang dari kita?
Antara Spiritualitas Tinggi dan Kerapuhan Struktural
Tidak bisa dipungkiri, umat Islam memiliki energi spiritual yang luar biasa. Ramadan membuktikannya. Masjid penuh. Sedekah meningkat. Doa dipanjatkan tanpa henti. Ini modal moral yang sangat besar.
Namun di saat yang sama, banyak komunitas Muslim masih lemah secara struktural—dalam pendidikan, riset, teknologi, ekonomi, dan diplomasi global.
Inilah paradoks yang jarang kita bicarakan secara jujur.
Kita menghargai orang yang paling lama tahajudnya. Kita memuliakan yang paling fasih tilawahnya. Itu baik. Tapi apakah kita juga menghargai ilmuwan Muslim? Inovator Muslim? Diplomat Muslim yang cerdas dan strategis? Atau ekonom Muslim yang mampu membangun kemandirian bangsa? Kalau belum, di situlah persoalannya.
Dari Kolonialisme hingga Ketergantungan Modern
Sejarah mencatat dengan jelas: banyak wilayah Muslim di Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara pernah dijajah dan dieksploitasi oleh kekuatan Eropa. Sumber daya diambil. Struktur pendidikan dirusak. Elite lokal dilemahkan atau dikendalikan.
Kolonialisme mungkin secara formal telah berakhir. Tetapi bentuk ketergantungan baru muncul: utang, dominasi pasar, kontrol teknologi, intervensi politik, bahkan tekanan militer.
Beberapa negara Muslim di Timur Tengah menjadi sasaran intervensi terbuka. Sebagian lain ditekan melalui embargo, sanksi, atau permainan geopolitik. Sementara negara-negara Muslim yang kaya sumber daya sering kali tetap bergantung pada teknologi, pasar, dan keamanan dari luar.
Pertanyaannya bukan sekadar “mengapa Barat melakukan itu?” Dunia global memang digerakkan oleh kepentingan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa kita tidak cukup kuat untuk berdiri sejajar?
Palestina dan Simbol Kerapuhan Kolektif
Kasus Palestina menjadi simbol yang paling menyakitkan bagi banyak Muslim di seluruh dunia. Bukan hanya soal konflik, tetapi soal posisi tawar global. Bertahun-tahun, isu itu bergulir di forum internasional. Resolusi dibuat. Kecaman disuarakan. Tapi realitas di lapangan sering tidak berubah signifikan.
Mengapa?
Karena dalam sistem global, moralitas tanpa kekuatan struktural sering tidak cukup. Suara tanpa daya tawar jarang menentukan arah.
Ini bukan berarti kita meninggalkan nilai spiritual atau moral. Justru sebaliknya—nilai itu harus diperkuat dengan kapasitas intelektual, ekonomi, dan diplomasi yang nyata.
Pelajaran dari Aceh dan Minoritas Muslim Dunia
Aceh memberi pelajaran penting: ketika konflik terjadi dan struktur politik goyah, masyarakat menjadi rentan. Perdamaian bukan hanya hasil doa, tetapi hasil negosiasi, strategi, dan kecerdasan politik.
📚 Artikel Terkait
Begitu juga umat Islam minoritas di berbagai negara. Mereka yang berhasil bertahan bukan hanya karena iman, tetapi karena pendidikan tinggi, profesionalisme, dan kemampuan beradaptasi dengan sistem tanpa kehilangan identitas.
Artinya jelas: spiritualitas harus disertai kompetensi.
Mengapa Kita Terlalu Lama Defensif?
Ada kecenderungan dalam sebagian komunitas Muslim untuk memisahkan dunia agama dari dunia kekuasaan. Ulama dianggap suci jika jauh dari politik. Santri dianggap lebih murni jika tidak menyentuh urusan negara.
Niatnya baik: menjaga kesucian agama.
Namun konsekuensinya berat. Ketika kebijakan publik tidak adil, ketika ekonomi timpang, ketika pendidikan tidak diperbaiki—agama dan umat ikut terkena dampaknya. Ulama tidak bisa menghindar dari struktur, karena struktur itu tetap memengaruhi kehidupan umat.
Islam pada masa kejayaannya tidak memisahkan ilmu, spiritualitas, dan tata kelola negara. Ilmuwan adalah ulama. Ulama terlibat dalam kebijakan. Perdagangan, riset, dan diplomasi berjalan berdampingan dengan ibadah.
Mengapa sekarang kita merasa harus memilih salah satu?
Ramadan sebagai Titik Balik Kesadaran
Ramadan seharusnya bukan hanya bulan kesalehan pribadi. Ia adalah bulan pembentukan karakter kolektif.
Coba kita bayangkan jika di setiap pesantren, selain kajian kitab, ada diskusi tentang ekonomi global. Selain tafsir, ada pelatihan riset dan teknologi. Selain ceramah, ada pelatihan kepemimpinan publik.
Bukankah itu lebih dekat dengan semangat Islam yang menyeluruh?
Kita tidak perlu mendominasi dunia. Itu bukan tujuan. Tetapi kita perlu mandiri dan sejajar. Diplomasi tetap penting. Kerja sama global tetap diperlukan. Namun ketergantungan yang berlebihan hanya akan membuat kita terus dalam posisi lemah.
Revolusi Intelektual yang Elegan
Revolusi yang dibutuhkan umat Islam bukan revolusi emosional. Bukan kemarahan. Bukan retorika perlawanan semata.
Yang dibutuhkan adalah revolusi intelektual yang elegan.
Reformasi pendidikan.
Penguatan riset dan teknologi.
Ekonomi yang produktif, bukan konsumtif.
Ulama yang memahami geopolitik.
Politisi yang memiliki integritas moral.
Jika kekuatan struktural ini dibangun, maka tekanan global tidak mudah menjatuhkan. Kalau pun tidak mendominasi, setidaknya kita tidak lagi menjadi sasaran empuk.
Bersanding, Bukan Membenci
Yang perlu ditegaskan: tujuan kita bukan membenci Barat. Dunia bukan hitam putih. Banyak nilai positif lahir dari peradaban Barat: sains, tata kelola, manajemen, riset.
Masalahnya bukan pada peradaban tertentu. Masalahnya adalah ketimpangan kekuatan.
Karena itu, umat Islam harus belajar, berinovasi, dan bersaing secara sehat. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kapasitas.
Bersanding bahu sejajar—bukan sebagai pengikut, bukan sebagai korban, tetapi sebagai mitra setara.
Penutup: Dari Doa ke Daya
Ketika anak di Gaza bertanya, “Kenapa kita selalu diserang?” mungkin jawaban terbaik di masa depan bukan hanya “kita harus sabar.”
Jawaban itu bisa menjadi: “Karena dulu kita lemah secara struktur. Tapi sekarang kita sedang membangun kekuatan.”
Ramadan adalah waktu terbaik untuk memulai itu. Dari doa menuju daya. Dari ibadah menuju inovasi. Dari kesalehan pribadi menuju kemandirian kolektif.
Karena umat yang hanya kuat secara spiritual akan mudah ditekan.
Tetapi umat yang kuat secara spiritual dan intelektual akan sulit ditundukkan.
Dan mungkin, di situlah titik balik sejarah kita dimulai.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






