Dengarkan Artikel
Oleh Andi Kurniawan
Bayangkan bumi adalah rumah bersama. Ketika atap bocor di satu ruangan, penghuni ruangan lain tidak boleh berkata, “itu bukan kamar saya.” Krisis Ekologis mengajarkan empati karena kerusakan alam di satu tempat seperti banjir, kekeringan dan polusi, cepat atau lambat akan berdampak pada semua. Belajar empati berarti merasa bertanggung jawab atas penderitaan yang belum kita alami secara langsung.
Di tengah krisis ekologis, empati bukan lagi sekadar konsep yang dipelajari di ruang kelas, melainkan sikap yang diuji oleh kenyataan. Bumi ibarat rumah bersama; ketika satu ruangan bocor akibat banjir bandang, tidak adil jika penghuni ruangan lain berpaling dan berkata, “Itu bukan masalah saya.” Kesadaran inilah yang diwujudkan oleh Siswa Kelas XI DKV SMK Negeri 1 Tanah Jambo Aye.
Sebanyak 20 siswa melakukan kunjungan kemanusiaan kepada teman sekelas mereka yang terdampak berat pasca banjir bandang 26 November 2025. Pada Sabtu, 10 Januari 2026, setelah memperoleh izin sekolah dan didampingi guru, mereka bergerak menuju tiga titik lokasi terdampak: Gampong Paya Demam 1, Kecamatan Pante Bidari, Gampong Alu Ie Dua, Kecamatan Langkahan, dan Gampong Geudumbak Kecamatan Langkahan.
Kunjungan ini menjadi praktik nyata belajar empati ekologis. Para siswa tidak hanya mendengar cerita dari jauh, tetapi menyaksikan langsung dampak bencana yang mengubah kehidupan teman mereka. Salah satunya adalah Nadia Ulfa, yang kini tinggal di hunian sementara setelah kehilangan rumah. Meski demikian, Nadia tetap hadir ke sekolah. Semangatnya menunjukkan daya lenting (resiliensi) untuk bangkit pascabencana.
📚 Artikel Terkait
Semangat Nadia ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua, terutama bagi teman-teman yang ikut dalam kunjungan ini. Dalam analogi demam dalam tubuh, Nadia adalah bukti bahwa luka tidak selalu mematikan harapan. Ia justru menjadi sinyal untuk pulih dan saling menguatkan.
Sebagai wujud kepedulian, para siswa secara swadaya mengumpulkan dana sebesar Rp500.000 dari uang pribadi. Dana tersebut dibelanjakan menjadi kebutuhan pokok seperti beras, air minum, telur, dan minyak goreng. Tindakan sederhana ini mencerminkan kesadaran bahwa manusia sesungguhnya minum dari gelas yang sama bernama bumi ketika satu pihak kekurangan, pihak lain tidak pantas berlebihan.
Pihak sekolah melalui wali kelas juga telah melakukan pendataan siswa yang rumahnya rusak berat atau hilang akibat banjir. Data ini diteruskan ke Dinas Pendidikan Aceh agar para korban memperoleh bantuan yang lebih layak. Langkah ini menunjukkan bahwa empati tidak berhenti pada rasa iba, tetapi berlanjut pada tanggung jawab institusional.
Bagi siswa DKV, kegiatan ini sekaligus menjadi pembelajaran visual dan sosial: melihat langsung bagaimana krisis ekologis memengaruhi manusia, lalu menerjemahkannya menjadi kepedulian, solidaritas, dan aksi nyata. Sebab pada akhirnya, menjaga empati di tengah krisis ekologis berarti menjaga kemanusiaan itu sendiri.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






