HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Jeritan Korban Bencana Dianggap Berisik: Peran Akademisi sebagai Jembatan dari Desa ke Donor

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Januari 9, 2026
in # Nature, #Akademisi, #Gerakan Menulis, #Iklim Ilmiah, #Korban Bencana, #Kritik, #Natural Disaster, #Rakyat Menjerit, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana, POTRET Utama
Reading Time: 4 mins read
0
Jangan Salahkan Hujan
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman
Pemerhati Kebencanaan

Bencana tidak hanya menghadirkan kerusakan fisik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana suara korban diperlakukan. Di banyak wilayah rawan bencana di Indonesia, khususnya Sumatra, jeritan korban sering kali terdengar keras di tingkat lokal, namun memudar bahkan menghilang ketika memasuki ruang kebijakan dan kemanusiaan yang lebih luas. Ironisnya, suara-suara ini kerap dianggap sebagai keluhan yang berisik, emosional, dan tidak sistematis, sehingga gagal diterjemahkan sebagai pengetahuan yang layak ditindaklanjuti.

Baca Juga

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Bersyukur Dapat Ikut Menangani Logistik di Lanud SIM Bersama TNI

Maret 9, 2026
Ketika Sumatera Menangis, Sastra Menjadi Saksi

Ketika Sumatera Menangis, Sastra Menjadi Saksi

Maret 8, 2026

Ketika korban bencana berulang kali menyampaikan pengalaman mereka—banjir tahunan yang merendam rumah, longsor yang memutus jalan desa, abrasi yang menggerus pemukiman pesisir—yang muncul bukan respons struktural, melainkan kelelahan mendengar. Dalam kondisi seperti ini, penderitaan manusia justru mengalami delegitimasi. Ia hadir sebagai kebisingan, bukan sebagai peringatan. Padahal, suara korban adalah bentuk paling awal dari sistem peringatan dini yang hidup.

Korban bencana berbicara melalui pengalaman langsung. Mereka tidak membawa istilah teknis, indikator risiko, atau kerangka kerja logis sebagaimana yang digunakan lembaga donor dan organisasi kemanusiaan internasional. Mereka berbicara tentang hujan yang tidak lagi bisa diprediksi, sungai yang dangkal akibat sedimentasi, hutan yang hilang, dan ladang yang gagal panen. Bahasa ini jujur, tetapi tidak selalu diakui sebagai “bahasa kebijakan”. Di sinilah persoalan mendasar bermula.

Dunia donor dan lembaga kemanusiaan bekerja dalam sistem yang menuntut bukti tertulis, data terverifikasi, peta risiko, dan analisis dampak. Tanpa semua itu, jeritan korban sulit melampaui batas desa. Bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak kompatibel dengan sistem pengambilan keputusan. Akibatnya, terjadi kesenjangan serius antara realitas di lapangan dan respons kemanusiaan yang tersedia.

Dalam konteks inilah peran akademisi menjadi sangat penting. Akademisi tidak boleh hanya berdiri sebagai pengamat yang netral dan berjarak. Pengetahuan yang diproduksi tanpa keberpihakan etis pada korban berisiko menjadi bagian dari pembiaran. Akademisi memiliki tanggung jawab moral dan ilmiah untuk menjadi jembatan antara pengalaman korban dan dunia donor—antara jeritan dan kebijakan, antara desa dan pusat pengambilan keputusan global.

Peran akademisi pertama-tama adalah melakukan pendokumentasian yang adil dan akurat. Banyak bencana di tingkat lokal tidak tercatat secara sistematis karena keterbatasan kapasitas masyarakat terdampak. Akademisi dapat hadir untuk menghimpun data berbasis lapangan: kronologi kejadian, pola berulang, kerentanan ekologis, dan dampak sosial-ekonomi yang dialami warga. Pendokumentasian ini bukan sekadar pengumpulan data, tetapi pengakuan bahwa pengalaman korban layak menjadi dasar pengetahuan.

Namun, pendokumentasian saja tidak cukup. Tantangan utama terletak pada penerjemahan. Akademisi harus mampu menerjemahkan bahasa pengalaman menjadi bahasa kebijakan tanpa menghilangkan makna kemanusiaannya. Cerita tentang sawah yang rusak harus dihubungkan dengan data kehilangan mata pencaharian. Kisah tentang jalan desa yang terputus harus diterjemahkan menjadi analisis aksesibilitas dan kerentanan logistik. Dengan demikian, suara korban tidak lagi dipandang sebagai keluhan, melainkan sebagai argumen berbasis bukti.

Di sinilah etika kemanusiaan memainkan peran sentral. Akademisi tidak boleh mengambil alih suara korban atau “memolesnya” demi kepentingan akademik atau proyek. Korban harus tetap menjadi subjek, bukan objek. Proses produksi pengetahuan harus melibatkan masyarakat terdampak, baik dalam verifikasi data maupun dalam penyusunan narasi. Tanpa etika ini, jembatan yang dibangun justru berisiko merampas suara yang hendak diperjuangkan.

Akademisi juga memiliki peran strategis dalam membuka akses ke jaringan kemanusiaan dan donor. Dengan legitimasi keilmuan yang dimiliki, akademisi dapat menyampaikan temuan lapangan ke forum-forum yang tidak dapat dijangkau masyarakat desa. Policy brief, laporan tematik, artikel opini, dan forum diskusi internasional menjadi ruang penting untuk memastikan bahwa bencana di tingkat lokal tidak tenggelam dalam narasi nasional yang terlalu optimistis.

Dalam konteks Indonesia, persoalan ini semakin kompleks karena dominasi narasi negara dalam pengelolaan kebencanaan. Data resmi sering kali menjadi satu-satunya rujukan yang diakui, sementara pengalaman warga yang tidak sesuai dengan angka statistik dianggap anomali. Akademisi memiliki posisi unik untuk menghadirkan perspektif alternatif yang berbasis pada kenyataan di lapangan, sekaligus tetap menjaga kredibilitas ilmiah.

Sumatra dan Aceh memberikan contoh nyata bagaimana kerentanan ekologis berlangsung secara struktural. Kerusakan hutan, perubahan tata guna lahan, sedimentasi sungai, dan pembangunan yang abai terhadap daya dukung lingkungan telah menciptakan siklus bencana yang berulang. Namun, tanpa advokasi berbasis pengetahuan, siklus ini diterima sebagai keniscayaan. Jeritan korban pun kembali dianggap sebagai kebisingan yang mengganggu stabilitas.

Ketika suara korban terus-menerus diabaikan, yang terjadi bukan hanya kegagalan teknis, tetapi kegagalan etis. Kemanusiaan tidak diukur dari seberapa cepat bantuan datang setelah bencana besar, melainkan dari seberapa serius peringatan dini dari warga diperlakukan sebelum bencana membesar. Akademisi, dalam hal ini, dituntut untuk berpihak pada pencegahan, bukan sekadar respons.

Menjadi jembatan dari desa ke donor berarti menjaga keseimbangan yang sulit: antara empati dan analisis, antara keberpihakan dan ketelitian, antara suara lokal dan standar global. Ini bukan peran yang ringan, tetapi justru di sinilah makna sosial dari kerja akademik diuji. Pengetahuan yang tidak mampu menyelamatkan atau setidaknya mengurangi penderitaan manusia adalah pengetahuan yang kehilangan relevansinya.

Akhirnya, ketika jeritan korban bencana dianggap berisik dan melelahkan, akademisi tidak boleh ikut menutup telinga. Sebaliknya, akademisi harus membantu menjernihkan suara tersebut, menyusunnya secara bermartabat, dan mengantarkannya ke ruang-ruang di mana keputusan dapat diambil. Bukan untuk menggantikan suara korban, tetapi untuk memastikan bahwa suara itu didengar, dipahami, dan ditindaklanjuti.

Dengan demikian, peran akademisi dalam kebencanaan bukan sekadar produksi ilmu pengetahuan, melainkan praktik etika kemanusiaan. Sebuah komitmen untuk memastikan bahwa penderitaan tidak berhenti sebagai kebisingan, tetapi menjadi dasar perubahan. Dari desa ke donor, dari jeritan ke kebijakan, dari pengalaman ke tindakan nyata.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 153x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 127x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Doa di Bulan Ramadan

Malam Lailatul Qadar

Maret 15, 2026
Agama

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Next Post

Mengenal Zeus, Tuhan yang Dulu Disembah, Sekarang Jadi Logo Judi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com