Dengarkan Artikel
Pendidikan, Budaya, dan Masa Depan Peradaban
Oleh Nyakman Lamjame
Hadirin sekalian,
Bayangkan hutan Leuser yang rimbun, yang selama berabad-abad menahan hujan, menyaring sungai, dan memberi kehidupan. Kini sebagian besar tertutup lumpur, pohon-pohon tumbang, dan satwa-satwa kehilangan rumah mereka. Sungai Peusangan yang dulu tenang kini mengamuk, membawa reruntuhan, memutus jalan, dan menghancurkan sekolah. Danau Lut Tawar yang damai berjuang mempertahankan ikan-ikan yang menjadi nafkah generasi. Di tengah kehancuran ini, muncul pertanyaan yang paling mendasar: bagaimana sebuah generasi dapat tetap belajar ketika dunia di sekelilingnya retak?
Lihatlah anak-anak Aceh yang duduk di tenda darurat, memegang buku basah, menatap guru dengan mata penuh rasa ingin tahu. Mereka tidak menunggu dunia pulih. Mereka belajar di tengah lumpur, di tengah hujan, di tengah ketakutan. Mereka belajar bukan sekadar membaca atau menulis, tetapi belajar menjadi manusia yang tangguh, yang menyembuhkan dirinya, dan yang menjaga warisan peradaban.
Sejarah dunia memberi kita panduan. Setelah tsunami TĹŤhoku, Jepang membangun sekolah darurat dalam hitungan hari untuk menjaga anak-anak tetap belajar sambil memproses trauma. Di Finlandia, kurikulum pascabencana menempatkan pemulihan emosional setara dengan akademik. Di Jerman pascaperang, sekolah adalah simbol rekonsiliasi dan fondasi masyarakat baru. Di Kanada dan New Zealand, pendidikan darurat menjadi mekanisme penyembuhan komunitas, bukan sekadar pengajaran buku dan angka. Aceh hari ini berdiri sejajar dengan pengalaman global tersebut.
📚 Artikel Terkait
Hadirin, bayangkan meunasah dan dayah di desa-desa Aceh, yang telah berabad-abad menjadi pusat pembelajaran, stabilitas sosial, dan spiritualitas. Ilmu diwariskan bersama nilai, etika, dan kebersamaan. Pendidikan berjalan berdampingan dengan doa, cerita, dan gotong royong. Tanpa istilah modern, Aceh telah mempraktikkan pendidikan berbasis trauma dan budaya jauh sebelum konsep internasional itu muncul.
Sejarah Aceh juga mengingatkan kita bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat intelektual dunia Islam. Ulama, pedagang, dan pelajar dari Timur Tengah, India, dan Nusantara datang ke sini, menjadikan ilmu sebagai fondasi diplomasi dan kekuatan peradaban. Dalam masa konflik dan tekanan kolonial, jaringan pendidikan tetap bertahan, membuktikan bahwa pendidikan adalah penopang peradaban ketika segalanya runtuh.
Jejak global pun mengingatkan kita pada Fatimah al-Fihri, yang lebih dari seribu tahun lalu mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin. Ia melakukannya bukan demi kemegahan, tetapi sebagai jawaban etis terhadap kebutuhan masyarakatnya. Pendidikan lahir dari kepedulian, bukan kenyamanan. Di Aceh hari ini, prinsip itu kembali menemukan relevansi: pendidikan tidak menunggu dunia pulih; pendidikanlah yang memulihkan dunia.
Bayangkan anak-anak yang hari ini belajar di tenda-tenda darurat, sambil mendengar gemericik hujan di atap daun, mendengar aliran sungai yang deras, dan aroma tanah basah yang masih menempel di buku mereka. Mereka adalah generasi yang akan menentukan bagaimana manusia merespons krisis abad ke-21. Belajar di tengah lumpur bukan tanda kemunduran. Ia adalah deklarasi peradaban.
Dan lihatlah, sungai, hutan, dan danau yang terluka bukan sekadar ekosistem, tetapi guru yang mengajarkan manusia: bagaimana bersabar, bagaimana menjaga kehidupan, dan bagaimana membangun kembali dari kehancuran. Aceh mengajarkan kita bahwa pendidikan adalah penyembuh luka, penjaga budaya, dan penopang masa depan.
Hadirin sekalian, dunia tidak menunggu. Masa depan peradaban dibangun di atas keberanian generasi yang tetap belajar meski badai melanda. Jika kita mendengar, memahami, dan belajar dari Aceh hari ini, maka kita tidak hanya membangun sekolah, tetapi membangun peradaban global.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






