HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Belajar di Saat Dunia Berguncang

Nyakman Lamjame by Nyakman Lamjame
Januari 9, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Banjir bandang, Bencana, Esai, Hutan, Hutan Nanggroe, Kebencanaan, kerusakan hutan, Mitigasi bencana, pendidikan Aceh, Penebangan hutan
Reading Time: 3 mins read
0
Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo
595
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Pendidikan, Budaya, dan Masa Depan Peradaban

Oleh Nyakman Lamjame

Baca Juga

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
ADVERTISEMENT

Hadirin sekalian,

Bayangkan hutan Leuser yang rimbun, yang selama berabad-abad menahan hujan, menyaring sungai, dan memberi kehidupan. Kini sebagian besar tertutup lumpur, pohon-pohon tumbang, dan satwa-satwa kehilangan rumah mereka. Sungai Peusangan yang dulu tenang kini mengamuk, membawa reruntuhan, memutus jalan, dan menghancurkan sekolah. Danau Lut Tawar yang damai berjuang mempertahankan ikan-ikan yang menjadi nafkah generasi. Di tengah kehancuran ini, muncul pertanyaan yang paling mendasar: bagaimana sebuah generasi dapat tetap belajar ketika dunia di sekelilingnya retak?

Lihatlah anak-anak Aceh yang duduk di tenda darurat, memegang buku basah, menatap guru dengan mata penuh rasa ingin tahu. Mereka tidak menunggu dunia pulih. Mereka belajar di tengah lumpur, di tengah hujan, di tengah ketakutan. Mereka belajar bukan sekadar membaca atau menulis, tetapi belajar menjadi manusia yang tangguh, yang menyembuhkan dirinya, dan yang menjaga warisan peradaban.

Sejarah dunia memberi kita panduan. Setelah tsunami TĹŤhoku, Jepang membangun sekolah darurat dalam hitungan hari untuk menjaga anak-anak tetap belajar sambil memproses trauma. Di Finlandia, kurikulum pascabencana menempatkan pemulihan emosional setara dengan akademik. Di Jerman pascaperang, sekolah adalah simbol rekonsiliasi dan fondasi masyarakat baru. Di Kanada dan New Zealand, pendidikan darurat menjadi mekanisme penyembuhan komunitas, bukan sekadar pengajaran buku dan angka. Aceh hari ini berdiri sejajar dengan pengalaman global tersebut.

Hadirin, bayangkan meunasah dan dayah di desa-desa Aceh, yang telah berabad-abad menjadi pusat pembelajaran, stabilitas sosial, dan spiritualitas. Ilmu diwariskan bersama nilai, etika, dan kebersamaan. Pendidikan berjalan berdampingan dengan doa, cerita, dan gotong royong. Tanpa istilah modern, Aceh telah mempraktikkan pendidikan berbasis trauma dan budaya jauh sebelum konsep internasional itu muncul.

Sejarah Aceh juga mengingatkan kita bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat intelektual dunia Islam. Ulama, pedagang, dan pelajar dari Timur Tengah, India, dan Nusantara datang ke sini, menjadikan ilmu sebagai fondasi diplomasi dan kekuatan peradaban. Dalam masa konflik dan tekanan kolonial, jaringan pendidikan tetap bertahan, membuktikan bahwa pendidikan adalah penopang peradaban ketika segalanya runtuh.

Jejak global pun mengingatkan kita pada Fatimah al-Fihri, yang lebih dari seribu tahun lalu mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin. Ia melakukannya bukan demi kemegahan, tetapi sebagai jawaban etis terhadap kebutuhan masyarakatnya. Pendidikan lahir dari kepedulian, bukan kenyamanan. Di Aceh hari ini, prinsip itu kembali menemukan relevansi: pendidikan tidak menunggu dunia pulih; pendidikanlah yang memulihkan dunia.

Bayangkan anak-anak yang hari ini belajar di tenda-tenda darurat, sambil mendengar gemericik hujan di atap daun, mendengar aliran sungai yang deras, dan aroma tanah basah yang masih menempel di buku mereka. Mereka adalah generasi yang akan menentukan bagaimana manusia merespons krisis abad ke-21. Belajar di tengah lumpur bukan tanda kemunduran. Ia adalah deklarasi peradaban.

Dan lihatlah, sungai, hutan, dan danau yang terluka bukan sekadar ekosistem, tetapi guru yang mengajarkan manusia: bagaimana bersabar, bagaimana menjaga kehidupan, dan bagaimana membangun kembali dari kehancuran. Aceh mengajarkan kita bahwa pendidikan adalah penyembuh luka, penjaga budaya, dan penopang masa depan.

Hadirin sekalian, dunia tidak menunggu. Masa depan peradaban dibangun di atas keberanian generasi yang tetap belajar meski badai melanda. Jika kita mendengar, memahami, dan belajar dari Aceh hari ini, maka kita tidak hanya membangun sekolah, tetapi membangun peradaban global.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 280x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 158x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238
Nyakman Lamjame

Nyakman Lamjame

Baca Juga

Artikel

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Hari Buruh

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026
Cerpen

Aku Merindu

Maret 17, 2026
Next Post
Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com