Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Dari kemarin kita membahas Amerika, Venezuela, Iran. “Luar negeri tolen,” kata orang Sambas. Sekarang, kita kembali ke tanah air. Tanah air tercinta. Biasanya kalau bicara negeri sendiri tak lari dari korupsi, gosip, represif aparat, tumpul ke atas tajam ke bawah. Serasa negeri ini tak ada lagi dibanggakan. Tunggu dulu, kali ini kita patut bangga. Anak ini hanya siswa SMK agribisnis tapi bisa menembus pertahanan NASA. Siapkan lagi Koptagulnya, simak narasinya, wak!
Namanya Aan Rehan. Nak Rehan itu ibarat kopi robusta dari Purbalingga. Tidak glamor seperti kopi kafe ibu kota, tapi kuat, jujur, dan bikin melek. Umurnya 18 tahun. Lulusan SMK jurusan agribisnis. Ya, agribisnis, bukan teknik informatika, bukan sains komputer. Namun justru dari ladang yang tak disangka itu, ia memanen sesuatu yang jarang, kesadaran bahwa dunia digital kita bocor, dan seseorang harus menambalnya.
Perjalanannya bukan arabika premium yang tumbuh di brosur wisata. Ia pernah ditolak sekolah negeri. Pernah belok arah. Tapi seperti kopi Toraja yang difermentasi lama, rasa Rehan matang oleh proses. Dari kebiasaan membaca berita teknologi, mengikuti isu kebocoran data, sampai tergelitik saat kasus Bjorka ramai, ia memilih menjadi penikmat yang kritis, bukan penonton yang ribut. Tahun 2022, di usia 17, ia mulai belajar otodidak. Internet dan YouTube jadi kedai kecilnya. Malam-malamnya diisi pemetaan aset website, ekstraksi tautan, dan memahami data sensitif yang seharusnya tak dipajang. Enam bulan ia menyeduh pengetahuan, pelan tapi konsisten.
Lalu datang seruput pertama, praktik. Rehan menemukan data PDF berisi NIK, KK, nomor telepon, nama lengkap yang bisa diakses publik. Ia tidak menjualnya, tidak memamerkannya. Ia melapor. Lewat CSIRT, Diskominfo, hingga BSSN. Seperti kopi Kintamani yang bersih asamnya, niatnya jernih. Di Mesuji, Lampung, ia menemukan celah SQL Injection yang serius, bisa menguras database, membuka dashboard admin. Dilaporkan. Ditindaklanjuti. Sertifikat datang. Negara yang sering kita anggap tuli, ternyata bisa mendengar jika disuguhi laporan benar.
Rasanya makin kompleks ketika ia terus berburu. Di Purbalingga, sekitar seribu data warga bocor, kembali ia laporkan. Hingga 2026, Rehan mengoleksi sekitar 25 sertifikat pengakuan. Mulai dari pemerintah daerah, universitas, media nasional, hingga lembaga internasional. Puncaknya, seperti single origin Gayo yang mendunia, namanya masuk Hall of Fame NASA. Bug bounty lewat VDP Bugcrowd mengantarnya ke panggung global. Anak desa, jurusan agribisnis, diakui badan antariksa.
Yang bikin kita makin terdiam, hampir semua ia lakukan lewat ponsel. Bukan mesin espresso mahal, hanya manual brew seadanya. Orang tuanya, ayah kuli bangunan, ibu rumah tangga, menambah fasilitas karena percaya. Ia pernah mendapat fee 300 dolar dari luar negeri, bahkan untuk kerentanan level rendah. Di dalam negeri? Masih jarang. Mungkin kita memang masih minum kopi instan, padahal bijinya ada.
📚 Artikel Terkait
Kini Rehan gap year, membantu orang tua, belajar bersama komunitas, bermimpi kuliah Teknik Informatika dan mengabdi di siber kepolisian. Ia tahu sistem kita rentan, jarang diperbarui, pengelolaannya lemah. Ia ingin menambal, bukan mencela.
Maka lain kali kita menyesap Indonesia, jangan buru-buru bilang pahit. Cium dulu aromanya. Di antara robusta, arabika, gayo, toraja, ada satu seduhan bernama Rehan, membuat kita terjaga, dan, untuk sekali ini, bangga.
“Hebat nak Rehan ya, Bang. Ia pasti suka begadang belajar internet itu. Orang begadang biasanya suka ngopi. Benar ndak, Bang.”
“Biasanya gitu, wak. Kalau nak Rehan itu minum kopi liberika khas Kayong Utara, pasti lebih bergeliga lagi otaknya. Encer dan waras macam para pengopi kelas berat di Pontianak.” Ups
Sumber foto: TRIBUN JATENG/Farah Anis Rahmawati
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





