POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Merayakan Hal-Hal Kecil sebagai Bentuk Penghargaan Diri

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
January 4, 2026
Merayakan Hal-Hal Kecil sebagai Bentuk Penghargaan Diri
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

Awal tahun 2026 datang tanpa ritual lama.
Kali ini, saya tidak lagi menuliskan harapan di secarik kertas. Tidak ada daftar target, tidak ada barisan resolusi yang dulu saya susun rapi sebagai penanda ambisi dan pencapaian hidup. Padahal, selama bertahun-tahun, menulis harapan adalah kebiasaan yang nyaris sakral, cara halus sekaligus keras untuk memaksa diri bergerak lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih cepat.

Namun, ritual itu berhenti di awal 2026.

Bukan karena saya kehabisan mimpi. Bukan pula karena hidup kehilangan arah. Tidak ada peristiwa besar yang menjadi pemicunya. Perubahan ini lahir dari refleksi yang sunyi. Saya mulai menyadari bahwa target besar yang terus dikejar tanpa ruang bernapas, perlahan menjelma ambisi yang menekan, bukan lagi penunjuk jalan.

Harapan yang terlalu tinggi, ketika tak terpenuhi, rasanya seperti terlempar dari gedung tinggi. Jatuhnya bukan sekali atau dua kali, melainkan berulang. Di antara harapan dan pencapaian, terbentang jarak yang semakin terasa mustahil dijangkau. Di sanalah saya memilih berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengubah cara memandang hidup.

Saya masih memiliki mimpi. Saya tetap menyimpan target. Tetapi kali ini, saya menempuh jalan yang berbeda. Saya tidak lagi menjadikan pencapaian besar sebagai satu-satunya tolak ukur nilai diri. Saya mulai belajar menghargai proses, sekecil apa pun langkahnya, sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Sebab tidak semua nilai harus dibuktikan lewat piala, jabatan, atau deretan angka.

Disadari atau tidak, kita sering terlalu keras pada diri sendiri. Kita menekan diri dengan perbandingan yang melelahkan, dengan pertanyaan yang terus berulang: “Mengapa setiap tahun berlalu, aku masih berada di posisi yang sama?”
Pertanyaan itu membuat kita merasa gagal, hanya karena standar yang kita tetapkan terlalu tinggi dan kerap menyiksa diri.

📚 Artikel Terkait

Guru Bahasa Inggris di Aceh: Menjadi Lentera Perubahan Ilmiah dan Ruhani

Tetangga Depan Rumah

Isoman Produktif

APA ARTI PUISI

Padahal dunia tidak selalu bekerja sesuai rencana. Kadang kita harus menerima kegagalan. Kadang pula menyadari bahwa kebahagiaan hanyalah jeda singkat di antara masalah berikutnya. Hidup memang tidak selalu adil, dan tidak semua kerja keras berbuah sesuai harapan. Menerima kenyataan itu bukan tanda menyerah, melainkan bentuk kedewasaan.

Ketika sampai pada pemahaman tersebut, kita akan belajar satu hal penting: mencintai diri sendiri adalah syarat utama untuk bisa tetap bertahan dan bahagia.

Mulailah dari yang paling sederhana. Rayakan bahwa sepanjang 2025 kita diberi kesehatan. Rayakan bahwa kita masih bisa menyisihkan uang untuk menikmati jajanan enak, meski dengan gaji yang sangat terbatas. Rayakan obrolan dan tawa receh bersama teman-teman, meski hanya bisa kumpul di warung pecel lele pinggir jalan. Rayakan upaya kita menerapkan pola hidup sehat, meski nyatanya timbangan belum juga bersahabat. Rayakan hal-hal kecil sebagai penghargaan atas upaya yang sering luput kita akui.

Rayakan juga semua hal kecil yang membuat kita tetap berdiri kuat hingga hari ini.

Jika kita tidak meraih hal besar di tahun lalu, bukan berarti kita adalah pecundang. Kita tetap hebat, bahkan sangat hebat, karena mampu bertahan tanpa panggung, tanpa sorotan, dan tanpa tepuk tangan. Kita adalah mereka yang tetap hidup meski babak belur.

Maka, rayakan awal 2026 dengan penuh rasa syukur dan bahagia, meski nyatanya tahun lalu tak membawa pencapaian apa-apa. Karena penghargaan tidak selalu berbentuk piala. Kadang, cukup dengan mengakui bahwa diri kita berharga, hidup sudah menjadi jauh lebih bermakna.

POTRET Gallery Banda Aceh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Pohon Industri Penghancur Negeri: Warisan Kolonialisme Ekonomi di Balik Sawit Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00