POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Korban Bencana

Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Redaksi by Redaksi
Desember 31, 2025
in #Korban Bencana, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Puisi Bencana, Puisi Essay
0
Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12) - 3dcc81f5 af9b 44d0 bb75 192955834d7f | #Korban Bencana | Potret Online

LEBIH BERAT DIBANDING TSUNAMI ACEH

Oleh Denny JA

(Dalam bencana Sumatra yang menelan lebih dari seribu nyawa, seorang psikolog di pengungsian menyimpulkan: luka batin para korban lebih berat dibanding korban Tsunami Aceh dua puluh satu tahun sebelumnya.)

Baca Juga
  • Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12) - d3eca075 cb8a 4d8d 9c42 fdc091f7c0bb | #Korban Bencana | Potret Online
    Puisi Essay
    Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan
    17 Mar 2025
  • Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12) - 2025 05 09 13 50 20 | #Korban Bencana | Potret Online
    Antologi Puisi
    Perjalanan yang Tak Pernah Kembali
    10 Mei 2025

–000–

Dewi menangis,
air matanya deras sekali,
seperti tanah yang lama kering,
lupa bagaimana caranya bersuara;
ketika hujan pertama datang,
ia menyerah
tanpa perlawanan.

Baca Juga
  • Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12) - 4dbbd872 5c0a 451b a7f8 88c2b125c7ee | #Korban Bencana | Potret Online
    #Gaza
    Kumpulan Sajak Alkhair Aljohore@
    11 Apr 2025
  • Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12) - 69fbf365 e84b 438c b5ec 2f75a43b6d88 | #Korban Bencana | Potret Online
    Aceh
    Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?
    03 Des 2025

Tangis itu tidak meledak.
Ia tinggal
sebagai garis tipis
di wajah seorang psikolog
yang terlalu lama
mendengar cerita orang lain
tanpa bisa mengubah naskah.

“Aku pernah ke sini,” katanya pelan, seperti orang
yang menyadari kesalahan lama tak pernah benar-benar pergi.

Baca Juga
  • Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12) - 52eed481 425b 40df 85c2 5723a44acd29 | #Korban Bencana | Potret Online
    #Natural Disaster
    Menggali Makna Banjir Aceh
    30 Nov 2025
  • Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12) - IMG_8783 | #Korban Bencana | Potret Online
    Artikel
    Mendorong Lahirnya Engineer Masa Depan di Tengah Keterbatasan Akibat Bencana Aceh
    03 Des 2025

“Aku menangani tsunami Aceh.”

Ia menyeka matanya.
Namun air mata tetap turun—
seolah tubuhnya
lebih jujur
daripada laporan-laporan resmi.

“Yang ini,” katanya lagi,
suara itu hampir pecah
di antara hujan dan kain tenda,
“lebih berat.”

Bukan karena airnya lebih tinggi,
melainkan karena
ia datang
lagi dan lagi,
menjadi sesuatu
yang lama-lama dianggap biasa.

–000–

Hujan kini
tak lagi terasa datang dari langit.
Ia seperti muncul
dari bawah kaki.

Dari peta-peta
yang berubah pelan-pelan,
dari warna hijau hutan,
yang menghilang
tanpa upacara perpisahan.

Setiap tetes membawa cerita kecil:
nama anak yang tak sempat diselamatkan,
buku sekolah yang mengembang basah,
rumah yang hanyut
tanpa tahu
siapa yang lebih dulu
menggunduli hulunya.

Di tenda pengungsian
yang berbau lumpur, plastik,
dan janji yang tak kunjung datang,
Dewi duduk.
Diam.

Ia menjadi lemari tua
penuh berkas,
rapi, berat,
namun jarang dibuka
saat paling dibutuhkan.

Dua puluh satu tahun lalu,
2004,
air tsunami datang
seperti singa.

Ia menyerang sekali,
lalu pergi.

Luka besar,
namun jelas asalnya:
datang dari laut,
kembali ke laut.

Dunia tahu
apa yang harus dilakukan.

–000–

Sekarang berbeda.

Sekarang air datang
seperti tikus kecil:
tak menakutkan,
tak masuk berita besar,
namun tak pernah berhenti
menggerogoti hidup.

Ia datang dari bukit
yang dipotong pelan-pelan,
dari hutan
yang dirayakan saat tumbang,
dari sungai
yang dipersempit
agar kota tampak rapi
di brosur pembangunan.

Setiap hujan
menjadi pertanyaan.
Setiap awan
menjadi peringatan.

“Bu,”
kata seorang gadis kepada Dewi,
“airnya tidak besar.
Tapi kenapa
aku selalu merasa
hidup kami
sebentar lagi
jatuh?”

Dewi tahu jawabannya.
Namun jawaban itu
terlalu besar
untuk ruang terapi.

Ini bukan trauma
yang jatuh dari langit.
Ini trauma
yang disiapkan pelan-pelan
di ruang rapat berpendingin udara.

Trauma yang tidak berteriak,
hanya duduk di dada,
menunggu hujan berikutnya
untuk bangun kembali.

–000–

Di tenda sebelah,
seorang ayah membentak anaknya karena sendok plastik jatuh.

Bukan sendok yang membuatnya marah,
melainkan hidup
yang tak pernah bertanya
apakah ia masih sanggup.

Air bersih datang
tak menentu.
Toilet hanya ada
setengah jadi,
seperti janji
yang takut diwujudkan.

Bahkan
untuk menyendiri pun,
mereka
tak diberi ruang.

Trauma, pikir Dewi,
bukan hanya luka di kepala.
Trauma adalah
dipaksa tinggal
di tempat
yang kita tahu
akan rusak lagi.

–000–

Di sela konseling,
Dewi menatap sungai
yang meluap perlahan,
seperti orang tua
yang terlalu sering
dikhianati.

Ia teringat peta-peta
di meja kebijakan:
hutan dipotong
bagai kalimat yang dianggap tak penting.

Bukit dikupas
menjadi kulit mati,
padahal di situlah
air dulu bisa ditahan.

Air, kini ia mengerti,
tak pernah berniat jahat.
Ia hanya berjalan
mengikuti ruang
yang kita rusak sendiri.

Bencana ini
bukan amarah alam.
Ia hasil dari
keserakahan
yang lupa belajar
berhenti.

–000–

Malam itu,
di buku catatan
yang lembap oleh hujan,
Dewi menulis:

“Ini mungkin tugasku yang terakhir.”

Bukan karena ia tak peduli,
melainkan karena ia lelah
menjahit luka
sementara
luka baru
terus disiapkan.

Ia ingin pulang.
Menjadi manusia biasa,
yang boleh gemetar
tanpa perlu
dihitung
dan diukur.

–000–

Saat Dewi pergi,
hujan turun lagi.
Tidak deras,
hanya cukup
untuk membuat rindu.

Namun hujan kecil
adalah yang paling lama tinggal.
Ia datang berkali-kali,
hingga manusia
belajar hidup
dalam cemas
sebagai kebiasaan.

Dan bumi,
tanpa marah,
tanpa ancaman,
berkata pelan:

Aku tidak sedang menghukummu.
Aku hanya mengikuti
pilihanmu.

Itulah sebabnya,
bagi Dewi,
bagi para pengungsi,
bagi anak-anak
yang tidur dengan sepatu di kaki,

bencana ini
lebih berat
dibanding tsunami.

Karena tsunami
datang sebagai tamu
dan pergi.

Yang ini
adalah rumah
yang runtuh
karena kita menyebut
perusakan
sebagai pembangunan,
dan tak pernah tuntas menyebut
siapa yang harus
bertanggung jawab.***

Jakarta, 31 Desember 2025

1) Psikolog menyebut bencana yang menimpa Aceh tahun 2025 lebih parah dibanding Tsunami tahun 2004.

https://www.bbc.com/indonesia/articles/cm28p1m87zyo.amp

-000-

Berbagai puisi esai dan ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/17SKrwdEtQ/?mibextid=wwXIfr
Previous Post

Membersihkan Sisa Bencana Perlu Juga  Dilakukan Terhadap Aparat Yang Culas

Next Post

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Next Post

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah