HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk Saudara Kami di Aceh: Ketika Empati Menemukan Jalannya

Redaksi by Redaksi
Desember 24, 2025
in Aceh, Banjir bandang, Bantuan, Bencana, Bima, Citizen reporter, Essay, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Reportase
Reading Time: 4 mins read
0
Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk Saudara Kami di Aceh: Ketika Empati Menemukan Jalannya
595
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhamad Irwan

Bencana tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa rangkaian persoalan yang panjang, berlapis, dan kerap tak terlihat di permukaan. Di Aceh, pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah, derita itu menjelma dalam bentuk yang beragam: rumah yang rusak, lahan yang hancur, arsip-arsip kehidupan yang luluh lantak, serta tekanan psikologis yang membayangi hari-hari para penyintas.

Baca Juga

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

Maret 12, 2026

Di sepanjang lintasan Bireuen, Aceh Utara, Kota Langsa hingga Aceh Tamiang, jejak bencana tampak jelas. Lumpur mengering di dinding rumah, perabotan menumpuk di halaman, dan wajah-wajah lelah menyimpan kisah kehilangan yang belum sempat dituturkan. Bagi sebagian orang, banjir mungkin telah surut. Namun bagi mereka yang tinggal, bencana masih terus berlangsung dalam bentuk keterbatasan, ketidakpastian, dan rasa cemas akan hari esok.

Dalam situasi itulah, empati menemukan jalannya.

Efek Domino Bencana

Hari-hari setelah bencana bukan hanya soal membersihkan lumpur. Aceh menghadapi efek domino yang nyata: listrik padam di banyak tempat, sinyal komunikasi tak menentu, bahan bakar minyak langka, gas elpiji sulit diperoleh, harga kebutuhan pokok merangkak naik, dan tekanan psikologis yang perlahan menggerogoti ketahanan warga. Bencana alam berubah menjadi bencana sosial bila tidak ditangani dengan kepekaan dan kebersamaan.

Di tengah kondisi tersebut, komunikasi dengan dunia luar menjadi terbatas. Namun kabar tentang Aceh tetap sampai kepada sahabat, kerabat, dan kawan lama yang terpisah jarak dan waktu. Dari situlah benih kepedulian tumbuh, berangkat dari percakapan sederhana yang sarat empati.

Beberapa sahabat lama dari Alumni SMANSA Bima, NTB, menghubungi untuk menanyakan kabar: bagaimana keadaan keluarga, bagaimana kondisi Banda Aceh, dan sejauh mana dampak banjir serta longsor yang melanda berbagai daerah. Jawaban yang disampaikan pun apa adanya Aceh sedang berjuang menghadapi efek panjang bencana.

Tak ada keluhan berlebihan. Yang ada hanyalah kejujuran tentang situasi yang dihadapi.

Dari Doa, Lalu Menjadi Ikhtiar

Empati tak selalu lahir dalam bentuk besar. Ia sering bermula dari pertanyaan tulus: “Apa yang bisa kami lakukan?” Jawaban awalnya sederhana: doa. Doa agar Aceh diberi kesabaran, ketabahan, dan kekuatan untuk bangkit.

Namun doa, bagi sebagian orang, adalah pintu menuju ikhtiar. Percakapan itu pun berkembang. Jika memungkinkan, mengapa tidak membantu saudara-saudara yang terdampak secara langsung? Bukan untuk menggantikan peran negara atau lembaga kemanusiaan, melainkan sebagai wujud kepedulian sesama anak bangsa.

Dari situlah penggalangan donasi dimulai. Dengan kesadaran penuh bahwa para alumni telah dan akan terus berbagi melalui banyak jalur lembaga amal, relawan, dan jaringan kemanusiaan lain yang juga membantu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bantuan ini bukan tentang siapa paling banyak memberi, melainkan tentang memastikan tak ada yang merasa sendiri.

Perjalanan di Wilayah Terdampak

Pada saat yang sama, kegiatan pendampingan dan perbaikan arsip-arsip yang rusak akibat banjir tetap berjalan. Arsip dokumen kependudukan, catatan tanah, berkas lembaga, hingga dokumen keluarga adalah memori kolektif yang sering luput dari perhatian saat bencana terjadi. Padahal, tanpa arsip, pemulihan pascabencana akan pincang.

Dalam perjalanan memotoring dari satu wilayah ke wilayah lain, menyusuri daerah terdampak, amanah dari sahabat-sahabat alumni SMANSA Bima itu turut dibagikan. Bantuan disalurkan kepada para pengungsi dan warga terdampak, khususnya di sekitar Aceh Tamiang wilayah yang mengalami kerusakan cukup luas.

Bantuan itu mungkin tak mampu menghapus seluruh luka. Namun ia cukup untuk menguatkan: bahwa ada saudara jauh di Bima, NTB, yang ikut merasakan duka Aceh dan memilih hadir, meski dari kejauhan.

Ketika Bantuan Menjadi Penguat Jiwa

Yang dibagikan bukan semata kebutuhan jasmani. Ada pula sentuhan rohani pengingat bahwa di balik musibah, selalu ada ruang untuk bersandar kepada Yang Maha Kuasa. Di tenda-tenda pengungsian, di rumah-rumah yang setengah rusak, doa-doa dipanjatkan. Nama-nama para donatur tak selalu disebut, tetapi kebaikan mereka dirasakan.

Ucapan yang paling sering terdengar sederhana namun dalam maknanya:
“Terima kasih. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat.”

Di situlah letak kekuatan solidaritas. Ia tidak berisik, tidak memerlukan panggung besar. Ia hadir dalam bentuk yang paling manusiawi: saling menguatkan.

Aceh, Bencana, dan Keteguhan

Aceh bukan daerah asing dengan bencana. Sejarahnya dipenuhi ujian alam dan sosial yang menempa keteguhan warganya. Dari tsunami 2004 hingga berbagai bencana setelahnya, Aceh belajar bahwa bangkit bukan hanya soal membangun kembali rumah, tetapi juga memulihkan martabat, ingatan, dan harapan.

Dalam konteks itulah, bantuan sekecil apa pun menjadi berarti. Ia bukan sekadar logistik, melainkan simbol persaudaraan lintas daerah. Dari Bima ke Aceh, dari satu hati ke hati yang lain.

Merawat Empati, Menjaga Harapan

Kisah ini bukan tentang angka, bukan pula tentang siapa memberi kepada siapa. Ini adalah kisah tentang empati yang dirawat, tentang sahabat lama yang tak melupakan, dan tentang keyakinan bahwa Indonesia dibangun oleh solidaritas warganya.

Bencana boleh datang silih berganti. Namun selama empati masih menemukan jalannya, harapan akan selalu punya tempat untuk tumbuh.

Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk saudara kami di Aceh semoga ikhtiar kecil ini menjadi penguat di tengah ujian besar. Dan semoga kita semua, di mana pun berada, selalu diberi kepekaan untuk hadir bagi sesama, bahkan sebelum diminta.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 156x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 127x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi
#Cerpen

Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Maret 16, 2026
#Ekonomi

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Doa di Bulan Ramadan

Malam Lailatul Qadar

Maret 15, 2026
Agama

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Next Post
Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara

Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com