Dengarkan Artikel
Oleh Muhamad Irwan
Bencana tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa rangkaian persoalan yang panjang, berlapis, dan kerap tak terlihat di permukaan. Di Aceh, pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah, derita itu menjelma dalam bentuk yang beragam: rumah yang rusak, lahan yang hancur, arsip-arsip kehidupan yang luluh lantak, serta tekanan psikologis yang membayangi hari-hari para penyintas.
Di sepanjang lintasan Bireuen, Aceh Utara, Kota Langsa hingga Aceh Tamiang, jejak bencana tampak jelas. Lumpur mengering di dinding rumah, perabotan menumpuk di halaman, dan wajah-wajah lelah menyimpan kisah kehilangan yang belum sempat dituturkan. Bagi sebagian orang, banjir mungkin telah surut. Namun bagi mereka yang tinggal, bencana masih terus berlangsung dalam bentuk keterbatasan, ketidakpastian, dan rasa cemas akan hari esok.
Dalam situasi itulah, empati menemukan jalannya.
Efek Domino Bencana
Hari-hari setelah bencana bukan hanya soal membersihkan lumpur. Aceh menghadapi efek domino yang nyata: listrik padam di banyak tempat, sinyal komunikasi tak menentu, bahan bakar minyak langka, gas elpiji sulit diperoleh, harga kebutuhan pokok merangkak naik, dan tekanan psikologis yang perlahan menggerogoti ketahanan warga. Bencana alam berubah menjadi bencana sosial bila tidak ditangani dengan kepekaan dan kebersamaan.
Di tengah kondisi tersebut, komunikasi dengan dunia luar menjadi terbatas. Namun kabar tentang Aceh tetap sampai kepada sahabat, kerabat, dan kawan lama yang terpisah jarak dan waktu. Dari situlah benih kepedulian tumbuh, berangkat dari percakapan sederhana yang sarat empati.
Beberapa sahabat lama dari Alumni SMANSA Bima, NTB, menghubungi untuk menanyakan kabar: bagaimana keadaan keluarga, bagaimana kondisi Banda Aceh, dan sejauh mana dampak banjir serta longsor yang melanda berbagai daerah. Jawaban yang disampaikan pun apa adanya Aceh sedang berjuang menghadapi efek panjang bencana.
Tak ada keluhan berlebihan. Yang ada hanyalah kejujuran tentang situasi yang dihadapi.
Dari Doa, Lalu Menjadi Ikhtiar
Empati tak selalu lahir dalam bentuk besar. Ia sering bermula dari pertanyaan tulus: “Apa yang bisa kami lakukan?” Jawaban awalnya sederhana: doa. Doa agar Aceh diberi kesabaran, ketabahan, dan kekuatan untuk bangkit.
Namun doa, bagi sebagian orang, adalah pintu menuju ikhtiar. Percakapan itu pun berkembang. Jika memungkinkan, mengapa tidak membantu saudara-saudara yang terdampak secara langsung? Bukan untuk menggantikan peran negara atau lembaga kemanusiaan, melainkan sebagai wujud kepedulian sesama anak bangsa.
📚 Artikel Terkait
Dari situlah penggalangan donasi dimulai. Dengan kesadaran penuh bahwa para alumni telah dan akan terus berbagi melalui banyak jalur lembaga amal, relawan, dan jaringan kemanusiaan lain yang juga membantu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bantuan ini bukan tentang siapa paling banyak memberi, melainkan tentang memastikan tak ada yang merasa sendiri.
Perjalanan di Wilayah Terdampak
Pada saat yang sama, kegiatan pendampingan dan perbaikan arsip-arsip yang rusak akibat banjir tetap berjalan. Arsip dokumen kependudukan, catatan tanah, berkas lembaga, hingga dokumen keluarga adalah memori kolektif yang sering luput dari perhatian saat bencana terjadi. Padahal, tanpa arsip, pemulihan pascabencana akan pincang.
Dalam perjalanan memotoring dari satu wilayah ke wilayah lain, menyusuri daerah terdampak, amanah dari sahabat-sahabat alumni SMANSA Bima itu turut dibagikan. Bantuan disalurkan kepada para pengungsi dan warga terdampak, khususnya di sekitar Aceh Tamiang wilayah yang mengalami kerusakan cukup luas.
Bantuan itu mungkin tak mampu menghapus seluruh luka. Namun ia cukup untuk menguatkan: bahwa ada saudara jauh di Bima, NTB, yang ikut merasakan duka Aceh dan memilih hadir, meski dari kejauhan.
Ketika Bantuan Menjadi Penguat Jiwa
Yang dibagikan bukan semata kebutuhan jasmani. Ada pula sentuhan rohani pengingat bahwa di balik musibah, selalu ada ruang untuk bersandar kepada Yang Maha Kuasa. Di tenda-tenda pengungsian, di rumah-rumah yang setengah rusak, doa-doa dipanjatkan. Nama-nama para donatur tak selalu disebut, tetapi kebaikan mereka dirasakan.
Ucapan yang paling sering terdengar sederhana namun dalam maknanya:
“Terima kasih. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat.”
Di situlah letak kekuatan solidaritas. Ia tidak berisik, tidak memerlukan panggung besar. Ia hadir dalam bentuk yang paling manusiawi: saling menguatkan.
Aceh, Bencana, dan Keteguhan
Aceh bukan daerah asing dengan bencana. Sejarahnya dipenuhi ujian alam dan sosial yang menempa keteguhan warganya. Dari tsunami 2004 hingga berbagai bencana setelahnya, Aceh belajar bahwa bangkit bukan hanya soal membangun kembali rumah, tetapi juga memulihkan martabat, ingatan, dan harapan.
Dalam konteks itulah, bantuan sekecil apa pun menjadi berarti. Ia bukan sekadar logistik, melainkan simbol persaudaraan lintas daerah. Dari Bima ke Aceh, dari satu hati ke hati yang lain.
Merawat Empati, Menjaga Harapan
Kisah ini bukan tentang angka, bukan pula tentang siapa memberi kepada siapa. Ini adalah kisah tentang empati yang dirawat, tentang sahabat lama yang tak melupakan, dan tentang keyakinan bahwa Indonesia dibangun oleh solidaritas warganya.
Bencana boleh datang silih berganti. Namun selama empati masih menemukan jalannya, harapan akan selalu punya tempat untuk tumbuh.
Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk saudara kami di Aceh semoga ikhtiar kecil ini menjadi penguat di tengah ujian besar. Dan semoga kita semua, di mana pun berada, selalu diberi kepekaan untuk hadir bagi sesama, bahkan sebelum diminta.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






