Dengarkan Artikel
Oleh: Hanif
Kamis dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB, saat sebagian warga Aceh masih terlelap dalam tidur, air bah tiba-tiba datang menghantam. Keruh, berlumpur, dan melaju kencang bagai tsunami kecil, banjir bandang menerjang sejumlah kecamatan di wilayah aliran Sungai Jambo Aye. Kepanikan tak terelakkan. Ribuan orang berlari menyelamatkan diri, namun sebagian lain tak sempat luput dari maut.
Sumber bencana berasal dari bendungan irigasi Langkahan yang meluap di luar kendali. Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga membuka tabir rapuhnya kesiapsiagaan kita dalam menghadapi risiko alam. Terlebih, wilayah terdampak—khususnya Kecamatan Jambo Aye—nyaris tidak pernah mengalami banjir bandang selama lebih dari tujuh dekade. Rasa aman yang terlalu lama dipelihara tanpa kewaspadaan akhirnya runtuh dalam satu malam.
Bencana yang Tidak Sepenuhnya Alamiah
Banjir bandang sering disebut sebagai musibah alam. Namun, jujur harus diakui, banyak bencana hari ini lahir dari campur tangan manusia sendiri. Kerusakan hutan di hulu sungai, alih fungsi lahan, penyempitan sempadan sungai, serta lemahnya pengawasan infrastruktur air telah mempercepat datangnya malapetaka.
Kawasan resapan yang sejatinya menjadi benteng alami justru tergerus oleh kepentingan jangka pendek. Air hujan yang semestinya meresap ke tanah kini berubah menjadi limpasan besar yang meluncur tanpa kendali ke permukiman warga. Bendungan yang dibangun untuk kesejahteraan, ketika tidak dikelola dengan kehati-hatian, justru menjelma sumber ancaman.
Inilah potret krisis ekologis yang tidak bisa lagi disangkal: ketika alam dirusak, maka alam akan menagih kembali dengan cara yang paling menyakitkan.
Literasi Kebencanaan yang Terlupakan
Fakta bahwa masyarakat di wilayah terdampak tidak siap menghadapi banjir bandang menunjukkan rendahnya literasi kebencanaan. Karena bencana serupa tak pernah terjadi selama puluhan tahun, ancaman dianggap mustahil. Tidak ada simulasi evakuasi, tidak ada jalur penyelamatan yang dipahami bersama, bahkan tidak ada kesadaran bahwa wilayah tersebut sejatinya berada di jalur risiko.
Padahal, dalam perspektif Islam, ikhtiar menjaga diri dari bahaya adalah bagian dari tawakal itu sendiri. Rasulullah SAW mengajarkan agar umatnya tidak bersikap pasrah tanpa usaha. Namun yang terjadi hari ini, kita sering baru tersadar setelah bencana datang.
📚 Artikel Terkait
Dampak Sosial yang Berlapis
Banjir bandang tidak hanya merusak rumah dan harta benda. Ia melumpuhkan sendi-sendi kehidupan: ekonomi terhenti, pendidikan terganggu, kesehatan terancam, dan trauma psikologis membekas dalam-dalam, terutama pada anak-anak.
Lebih jauh, bencana juga menguji solidaritas sosial. Di satu sisi, kita melihat gelombang empati dan tolong-menolong yang menguatkan. Namun di sisi lain, kita juga dihadapkan pada fakta bahwa tanpa sistem mitigasi yang kuat, masyarakat kecil selalu menjadi pihak yang paling menderita.
Sosialisakan Mitigasi Kebencanaan kepada Masyrakat
Sudah saatnya arah mitigasi bencana tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik seperti tanggul, normalisasi sungai, atau perkuatan bendungan. Upaya tersebut penting, tetapi tidak akan cukup tanpa pendekatan non-struktural yang menyentuh akar persoalan.
Penataan ruang berbasis risiko harus menjadi kebijakan utama, bukan sekadar dokumen perencanaan. Kawasan hutan, rawa, dan sempadan sungai wajib dilindungi sebagai bagian dari “infrastruktur alam” yang menjaga keseimbangan air. Data geospasial dan pemodelan banjir juga harus diperbarui secara akurat agar pembangunan tidak lagi berjalan di atas wilayah rawan.
Di sisi lain, sistem peringatan dini harus dibangun bukan hanya untuk memenuhi standar teknologi, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan warga secara praktis. Informasi bencana harus sederhana, jelas, dan mudah dipahami: kapan bahaya datang, di mana titik rawan, dan apa yang harus dilakukan dalam hitungan menit.
Literasi kebencanaan mesti masuk ke sekolah, meunasah, dan ruang-ruang publik. Edukasi tidak boleh bersifat insidental, tetapi menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.
Mengembalikan Etika dalam Mengelola Alam
Banjir bandang Langkahan hendaknya kita maknai sebagai teguran keras agar manusia kembali menempatkan alam secara arif. Dalam ajaran agama, manusia adalah khalifah yang bertugas menjaga, bukan merusak. Ketika amanah ini diabaikan, maka kerusakan akan datang sebagai konsekuensinya.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan perguruan tinggi menjadi ikhtiar penting untuk membangun sistem mitigasi yang berbasis sains sekaligus berakar pada nilai kemanusiaan. Namun pada akhirnya, semua itu harus ditopang oleh kesadaran kolektif bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Banjir bandang ini bukan semata musibah, tetapi juga peringatan. Pertanyaannya, apakah kita akan kembali lalai setelah air surut, atau benar-benar belajar sebelum bencana berikutnya datang?
(Saya selaku warga yang terkena dampak banjir bandang)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






