HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia

Hanif Arsyad by Hanif Arsyad
Desember 6, 2025
in Aceh, Aceh Utara, Artikel, Banjir, Banjir bandang
Reading Time: 4 mins read
0
Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif

Kamis dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB, saat sebagian warga Aceh masih terlelap dalam tidur, air bah tiba-tiba datang menghantam. Keruh, berlumpur, dan melaju kencang bagai tsunami kecil, banjir bandang menerjang sejumlah kecamatan di wilayah aliran Sungai Jambo Aye. Kepanikan tak terelakkan. Ribuan orang berlari menyelamatkan diri, namun sebagian lain tak sempat luput dari maut.

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Maret 13, 2026

Sumber bencana berasal dari bendungan irigasi Langkahan yang meluap di luar kendali. Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga membuka tabir rapuhnya kesiapsiagaan kita dalam menghadapi risiko alam. Terlebih, wilayah terdampak—khususnya Kecamatan Jambo Aye—nyaris tidak pernah mengalami banjir bandang selama lebih dari tujuh dekade. Rasa aman yang terlalu lama dipelihara tanpa kewaspadaan akhirnya runtuh dalam satu malam.

Bencana yang Tidak Sepenuhnya Alamiah

Banjir bandang sering disebut sebagai musibah alam. Namun, jujur harus diakui, banyak bencana hari ini lahir dari campur tangan manusia sendiri. Kerusakan hutan di hulu sungai, alih fungsi lahan, penyempitan sempadan sungai, serta lemahnya pengawasan infrastruktur air telah mempercepat datangnya malapetaka.

Kawasan resapan yang sejatinya menjadi benteng alami justru tergerus oleh kepentingan jangka pendek. Air hujan yang semestinya meresap ke tanah kini berubah menjadi limpasan besar yang meluncur tanpa kendali ke permukiman warga. Bendungan yang dibangun untuk kesejahteraan, ketika tidak dikelola dengan kehati-hatian, justru menjelma sumber ancaman.

Inilah potret krisis ekologis yang tidak bisa lagi disangkal: ketika alam dirusak, maka alam akan menagih kembali dengan cara yang paling menyakitkan.

Literasi Kebencanaan yang Terlupakan

Fakta bahwa masyarakat di wilayah terdampak tidak siap menghadapi banjir bandang menunjukkan rendahnya literasi kebencanaan. Karena bencana serupa tak pernah terjadi selama puluhan tahun, ancaman dianggap mustahil. Tidak ada simulasi evakuasi, tidak ada jalur penyelamatan yang dipahami bersama, bahkan tidak ada kesadaran bahwa wilayah tersebut sejatinya berada di jalur risiko.

Padahal, dalam perspektif Islam, ikhtiar menjaga diri dari bahaya adalah bagian dari tawakal itu sendiri. Rasulullah SAW mengajarkan agar umatnya tidak bersikap pasrah tanpa usaha. Namun yang terjadi hari ini, kita sering baru tersadar setelah bencana datang.

Dampak Sosial yang Berlapis

Banjir bandang tidak hanya merusak rumah dan harta benda. Ia melumpuhkan sendi-sendi kehidupan: ekonomi terhenti, pendidikan terganggu, kesehatan terancam, dan trauma psikologis membekas dalam-dalam, terutama pada anak-anak.

Lebih jauh, bencana juga menguji solidaritas sosial. Di satu sisi, kita melihat gelombang empati dan tolong-menolong yang menguatkan. Namun di sisi lain, kita juga dihadapkan pada fakta bahwa tanpa sistem mitigasi yang kuat, masyarakat kecil selalu menjadi pihak yang paling menderita.

Sosialisakan Mitigasi Kebencanaan kepada Masyrakat

Sudah saatnya arah mitigasi bencana tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik seperti tanggul, normalisasi sungai, atau perkuatan bendungan. Upaya tersebut penting, tetapi tidak akan cukup tanpa pendekatan non-struktural yang menyentuh akar persoalan.

Penataan ruang berbasis risiko harus menjadi kebijakan utama, bukan sekadar dokumen perencanaan. Kawasan hutan, rawa, dan sempadan sungai wajib dilindungi sebagai bagian dari “infrastruktur alam” yang menjaga keseimbangan air. Data geospasial dan pemodelan banjir juga harus diperbarui secara akurat agar pembangunan tidak lagi berjalan di atas wilayah rawan.

Di sisi lain, sistem peringatan dini harus dibangun bukan hanya untuk memenuhi standar teknologi, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan warga secara praktis. Informasi bencana harus sederhana, jelas, dan mudah dipahami: kapan bahaya datang, di mana titik rawan, dan apa yang harus dilakukan dalam hitungan menit.

Literasi kebencanaan mesti masuk ke sekolah, meunasah, dan ruang-ruang publik. Edukasi tidak boleh bersifat insidental, tetapi menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.

Mengembalikan Etika dalam Mengelola Alam

Banjir bandang Langkahan hendaknya kita maknai sebagai teguran keras agar manusia kembali menempatkan alam secara arif. Dalam ajaran agama, manusia adalah khalifah yang bertugas menjaga, bukan merusak. Ketika amanah ini diabaikan, maka kerusakan akan datang sebagai konsekuensinya.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan perguruan tinggi menjadi ikhtiar penting untuk membangun sistem mitigasi yang berbasis sains sekaligus berakar pada nilai kemanusiaan. Namun pada akhirnya, semua itu harus ditopang oleh kesadaran kolektif bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.

Banjir bandang ini bukan semata musibah, tetapi juga peringatan. Pertanyaannya, apakah kita akan kembali lalai setelah air surut, atau benar-benar belajar sebelum bencana berikutnya datang?

(Saya selaku warga yang terkena dampak banjir bandang)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 208x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 147x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 119x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 109x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post
Menggores Asa Pemimpin Politik Baru Aceh

Tontonan Konyol Menolak Bantuan Internasional

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com