HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

TA Khalid dan Krue Seumangat dari Rantau: Nyala Harapan dari Negeri yang Pernah Berdarah

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
September 14, 2025
in #Resolusi Konflik, Aceh, Artikel, Konflik
Reading Time: 3 mins read
0
What is Scholasticide?
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026

Sudah dua puluh tahun berlalu sejak MoU Helsinki ditandatangani. Dua dekade penuh harapan, namun juga penuh kekecewaan. Di kampus-kampus, di warung kopi, di ruang-ruang diskusi diaspora Aceh di Denmark, Norwegia, Swedia, Jerman, dan Belanda, satu pertanyaan terus bergema: Mengapa UUPA belum direvisi sesuai dengan semangat perdamaian?Mengapa tidak ada satu pun manok agam yang berani bersuara lantang di Senayan?

Kini, nama TA Khalid muncul sebagai satu-satunya “Singa Aceh” yang berani mencetuskan revisi UUPA secara terbuka dan tegas. Ia tidak bicara dengan suara gemetar. Ia tidak menyembunyikan niatnya di balik jargon politik. Ia berdiri di tengah ruang Badan Legislasi DPR RI dan menyatakan bahwa revisi UUPA harus masuk Prolegnas Prioritas Kumulatif Terbuka tahun 2025. Ini bukan sekadar usulan teknis. Ini adalah panggilan sejarah.

Dukungan dari Rantau: Krue Seumangat yang Membara

Saya menerima pesan-pesan dari sahabat-sahabat Aceh eksil di Eropa. Mereka yang dulu terpaksa meninggalkan tanah kelahiran karena konflik, kini menyuarakan dukungan penuh terhadap perjuangan TA Khalid. Di Denmark, para mantan aktivis GAM yang kini menjadi akademisi menulis surat terbuka. Di Swedia, komunitas Aceh diaspora menggelar diskusi daring bertajuk “UUPA dan Masa Depan Perdamaian Aceh.”Di Jerman dan Belanda, mahasiswa Aceh menggalang petisi digital yang mendesak DPR RI untuk mendengarkan suara rakyat Aceh.

Mereka menyebut perjuangan ini sebagai Krue Seumangat—nyala semangat yang tidak pernah padam, meski jauh dari tanah rencong. Mereka tahu bahwa jika UUPA gagal direvisi sesuai MoU Helsinki, maka luka lama akan menganga kembali. Mereka tahu bahwa konflik Aceh telah menelan ratusan ribu nyawa, dan bahwa nyawa orang Aceh pernah dianggap murah, seolah-olah hanya angka dalam laporan militer.

Nyawa, Konstitusi, dan Harga Diri

Sebagai antropolog Aceh, saya tidak bisa menutup mata. Saya tahu bahwa UUPA bukan sekadar dokumen hukum. Ia adalah simbol harga diri, pengakuan atas sejarah, dan janji bahwa darah yang tumpah dulu tidak sia-sia. Jika janji ini diingkari, maka kita sedang bermain-main dengan bara yang belum padam.

Boyd R. Compton pernah menulis dalam Kemelut Demokrasi Liberal:

“Demokrasi yang gagal memahami aspirasi lokal akan selalu berhadapan dengan resistensi yang tak kunjung padam.”

TA Khalid memahami ini. Ia tidak bicara atas nama partai, tapi atas nama rakyat Aceh yang menanti keadilan. Ia adalah suara yang selama ini hilang. Ia adalah manok agam yang akhirnya berani terbang melawan angin.

Saya menulis ini dengan harapan bahwa suara-suara dari rantau, dari kampus, dari eksil, dan dari tanah Aceh sendiri akan bersatu. Bahwa Krue Seumangat akan menjadi api yang menerangi jalan revisi UUPA. Dan bahwa kita tidak akan membiarkan sejarah Aceh kembali berdarah karena kelalaian politik.

Aceh tidak butuh janji. Aceh butuh keberanian. TA Khalid telah memulainya. Jangan biarkan ia berjalan sendiri.

Leiden, 14 September 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 201x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 193x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 127x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 112x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 101x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post

Menjelaskan Di Balik Aksi Protes Dan Kerusuhan 2025 (1)

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com