POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Noel Terlihat Sedih Memakai Rompi Oranye

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
August 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

KPK gerak cepat. Tak ada takut lagi. Noel beserta kroninya dipamerkan ke publik. Si pemeras perusahaan itu terlihat gagah setelah dipakaikan rompi orange. Mari simak narasinya sambil seruput lemon tea tanpa gula, wak!

Ada hari-hari ketika demokrasi kita terasa seperti sinetron stripping jam sembilan malam, dramatis, penuh air mata, dan selalu ada tokoh utama yang tiba-tiba mengenakan kostum baru. Kali ini, kostum itu bukan jas safari pejabat, bukan pula seragam ASN warna krem. Kostumnya lebih sakral, rompi oranye bertuliskan “Tahanan KPK” dengan nomor 71 di punggung.

Aktornya? Tak lain, tak bukan, Immanuel Ebenezer alias Noel, Wakil Menteri Ketenagakerjaan yang beberapa bulan lalu masih sibuk berorasi tentang kesejahteraan buruh, tapi kini digiring ke panggung publik dengan tangan diborgol, wajah berlinang air mata, mencoba memainkan peran klasik, “Pejabat terdzalimi mencari simpati.”

Rompi oranye itu bukan sembarang kain. Teksturnya tipis, warnanya menyala lebih terang dari traffic light di simpang Gatsu, dan ukurannya selalu agak longgar, seakan-akan sengaja dibuat supaya setiap tubuh yang memakainya terlihat kecil, kerdil, tak berdaya. Logo KPK di dada kiri seolah berkata, “Selamat datang di panggung keadilan, Pak Tersangka.” Sedang nomor di punggung, angka 71, bukan sekadar nomor antrean, tapi simbol bahwa korupsi di negeri ini punya klub eksklusif dengan anggota yang terus bertambah.

Ekspresi Noel ketika pertama kali muncul di publik sungguh epik dan teatrikal. Matanya sembab, wajahnya tertunduk, tangannya yang terborgol digenggam erat seperti Bujang Nadi kehilangan Dara Nandong. Sesekali ia menyeka air mata, entah air mata penyesalan, air mata kepanikan, atau sekadar air mata alergi debu di ruang konferensi pers. Namun kamera jurnalis tetap menyorotinya, menjadikan tangisannya bahan headline, “Wamenaker Noel Menangis di KPK”. Dramatis sekali, nyaris seperti adegan puncak film Bollywood.

Tapi mari kita jangan lupa esensi kisah ini. OTT 20 Agustus 2025 adalah panggung besar. KPK mengamankan 14 orang, termasuk Noel, serta 22 kendaraan mewah, yakni Nissan GTR, BMW, Hyundai Palisade, Pajero Sport, Jeep, Ducati, bahkan Vespa. Ya, Vespa! Karena apa arti hidup pejabat kalau tidak diiringi deru knalpot Eropa? Ironinya, semua kendaraan itu kini terparkir di halaman KPK sebagai bukti, bukan lagi di garasi pribadi sebagai simbol status.

📚 Artikel Terkait

Benturan Peradaban Barat Dengan Agama Akan Membuat Islam Semakin Berjaya dan Berkembang Pesat di Masa Mendatang

SEMANGAT PANTANG MEYERAH CUT NYAK MEUTIA, INSPIRASI BAGI KITA

Tebak-Tebak Buah Manggis untuk Vonis Sambo

MINUMAN SEHAT DAN MURAH YANG MEMBAWA BERKAH

Noel berdiri di barisan depan, rompi oranye berkibar di bawah sorotan lampu kamera. Di belakangnya, 13 orang lain yang juga mengenakan kostum serupa, meski wajah mereka masih disembunyikan dari publik. Mereka seperti figuran dalam drama kolosal. Sementara Noel lah pemeran utama yang harus meneteskan air mata, agar penonton ikut bimbang, apakah dia pelaku atau korban?

Namun publik tak mudah terkecoh. Tangisan itu hanyalah dekorasi, seindah pun ia meneteskan air mata, catatan kasus tetaplah kering dan dingin, dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikat K3 sejak 2019. Bayangkan, sertifikat yang seharusnya menjadi pelindung nyawa buruh, justru dijadikan mesin pungli. Dari janji setinggi gunung Everest untuk membela pekerja, hingga praktik kotor sedalam Lisa, eh salah, Palung Mariana yang menghancurkan harapan.

Di luar gedung KPK, patung manekin berompi oranye yang dipajang Kemnaker beberapa bulan lalu kini terasa seperti lelucon kosmik. Seolah Tuhan sedang bercanda, manekin hanya simbol, tetapi pejabatnya sendiri kini benar-benar mengenakan rompi yang sama. Karma, ternyata, punya selera humor.

Lalu, apakah air mata Noel akan jadi obat? Sejarah mengajarkan, tidak. Air mata pejabat tersangka hanyalah air garam yang cepat kering di bawah sorot kamera. Publik menunggu lebih dari sekadar drama, mereka menunggu pertanggungjawaban, menunggu babak final di pengadilan.

Maka, wahai rompi oranye, teruslah bersinar. Engkaulah busana paling jujur di republik ini, busana yang tak bisa dibeli dengan uang negara, tapi justru datang sebagai penagih hutang moral. Wahai Noel, tak ada lagi membantu. Prabowo sebagai bos mu sudah tak sudi melindungi. Jangan berharap simpati lewat tangisan. Karena publik sudah terlalu sering disuguhi opera sabun air mata pejabat. Kini yang ditunggu hanya satu, apakah keadilan benar-benar akan turun panggung, atau hanya jadi episode lanjutan dari sinetron korupsi yang tak pernah tamat.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Mengenal Menteri Tenaga Kerja yang Mengakui Tidak Terlibat Korupsi Noel

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00