POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pesan untuk OPM: Teroris Tak Berhak Menuntut Kemerdekaan

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
August 18, 2025
What is Scholasticide?
🔊

Dengarkan Artikel

Al Chaidar
Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Pada 12 Juni 2020, saya datang ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Ada janji bertemu untuk membahas tentang dagang produk-produk Indonesia yang bisa dijual di Belanda dan Uni Eropa. Dari Leiden, saya naik kereta api dan sambung dengan bus, turun di Museum Nelson Mandela. Ketika tiba di Tobiaas Asserlaan, saya terkejut karena ada demo OPM (Organisasi Papua Merdeka) di seberang jalan lokasi KBRI. Para pendemo meneriakkan yel-yel merdeka bagi Papua, Aceh dan juga RMS (Republik Maluku Selatan). Sebagai orang Aceh saya senang karena ada sedikit “pembelaan” terhadap kampung saya yang hingga hari ini belum juga merdeka, meski darah para syuhada telah berkali-kali tumpah ruah di sana.
Karena saya tak dibukakan pintu untuk masuk ke kedutaan, saya terus mengikuti narasi kemerdekaan yang diteriakkan oleh para pendemo OPM dengan menggunakan _loud-speaker_ yang dihadiri oleh 11 orang. Tidak ada seorang pun yang peduli dengan demo ini. Dari seberang jalan saya menyaksikan demo tersebut sambil berpikir: bukankah Belanda negara yang menjunjung-tinggi hak-hak asasi manusia, mengapa tak seorang pun dari mereka ikut serta dalam membela OPM? Sebagai antropolog, saya mencoba mencari tahu mengapa tak ada dukungan terhadap OPM di sini. 
Para pendemo itu terus-menerus meneriakkan: _“shame on you Indonesia”,_ karena dianggap telah berlaku zalim terhadap orang Papua. Saya justru berpikir sebaliknya: bukankah seharusnya OPM malu karena telah melakukan kekerasan indiscriminatatif terhadap orang-orang sipil yang sedang membangun jalan untuk rakyat. 

Lihatlah betapa biadab dan primitifnya teroris OPM: Pada 22 Juni 2018, menembak pesawat sipil penumpang Kenyam; kemudian pada 25 Juni 2018 menyerang masyarakat sipil di Kota Kenyam. Tiga orang meninggal dalam peristiwa itu, yakni Hendrik Sattu Kolab (38) dan istrinya, Martha Palin (28) serta teman mereka, Zainal Abidin (20). Sedangkan anak Hendrik yang berusia 6 tahun bernama Arjuna Kola mengalami luka parah di wajah akibat dibacok dengan parang. Ini sungguh-sungguh kebiadaban yang tak seorang Eropa pun sanggup membayangkannya.
Pada 3 hingga 17 Oktober 2018, sebanyak 15 orang guru dan tenaga kesehatan disandera di Distrik Mapenduma. Salah satu di antaranya seorang tenaga kesehatan diperkosa. Perkosaan adalah kejahatan luar biasa. Mungkin perlu ada lokalisasi di sana untuk meredam keberingasan ini.
Pada 1 hingga 2 Desember 2018, sebanyak 25 pekerja pembangunan jembatan dikumpulkan dan dibawa ke Puncak Kabo dan kemudian dieksekusi. Sebanyak 4 orang berhasil melarikan diri dari eksekusi, 2 orang tak diketahui keberadaannya dan 19 orang dipastikan meninggal dunia.
Belum cukup sampai di situ, pada 30 Maret 2019, OPM membunuh warga Selandia Baru di Freeport. Tidak adakah sense of international support bagi pejuang liberalisasi bangsa dalam hal ini? Malah, pada 15 Februari 2020, OPM membunuh 3 guru bakti bergaji rendah di bawah UMR. Semua tindakan ini membuat warga dunia muak atas primitive rebel OPM.
Yoweri Museveni (2001), mengatakan kepada Sidang Umum PBB bahwa perbedaan antara teroris dan pejuang kemerdekaan harus dipahami. Dalam pidatonya di depan Majelis Umum, Museveni membahas pertanyaan yang sering ditanyakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi jarang dijawab dengan cara tertentu, “apa perbedaan antara terorisme dan perjuangan yang sah untuk pembebasan?” Nelson Mandela telah menjadi pejuang kebebasan hingga saat ini. Apakah dia seorang teroris? Tentu saja tidak. Apakah Anda pernah mendengar Nelson Mandela membajak pesawat? Apakah Anda pernah mendengar dia membunuh pekerja sipil, guru dan memperkosa bidan secara keji dan biadab? Nelson Mandela adalah seorang pejuang kemerdekaan, bukan teroris. Terorisme terjadi, kata Museveni, ketika tidak ada perbedaan yang dibuat antara kombatan dan warga sipil. Tindakan teroris adalah kriminal dan harus ditentang oleh semua sebagai prinsip. Sementara di Indonesia, Menkopolhukam Prof Mahfudz MD tak sudi menyebut OPM sebagai teroris. Sebagai ahli hukum tentu beda dengan antropolog yang berbicara agak sedikit kasar tentang teroris. Mungkin bagi Menkopolhukam, OPM adalah generasi muda harapan bangsa.
Sementara bagi saya, secara konseptual sangat jelas: “The difference between a terrorist and a freedom fighter lies in the fact that while a freedom fighter sometimes may be forced to use violence, he can not use indiscriminate violence. The one who uses indiscriminate violence, that is the terrorist.” (Perbedaan antara teroris dan pejuang kemerdekaan terletak pada kenyataan bahwa sementara seorang pejuang kemerdekaan terkadang dipaksa untuk menggunakan kekerasan, dia tidak boleh menggunakan kekerasan terhadap sipil. Orang yang menggunakan kekerasan tanpa pandang bulu (terhadap sipil tak bersenjata), itulah teroris.
Shame on you OPM! Saya jijik mendengar narasi demo itu. Jangan ajak-ajak Aceh untuk melakukan apa yang oleh Eric J. Hobsbawm (1971) sebut sebagai primitive rebel ini. Bangsa Aceh tak seprimitif kalian. Kami masih bisa membedakan antara berperang di jalan Allah sebagai kombatan dengan tindakan memperkosa dan membunuh masyarakat sipil secara buas. Orang-orang Aceh tak sedurjana OPM!***

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

AKU ORANG TUHAN

Happy Birthday yang ke 22 tahun, Majalah POTRET

Rahasia Di Balik Pulau Terpencil

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at

Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro Muhammad Samandan Syekh Ahmad Khatib

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00