• Latest
Pesan untuk OPM: Teroris Tak Berhak Menuntut Kemerdekaan - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | # Ironi | Potret Online

Pesan untuk OPM: Teroris Tak Berhak Menuntut Kemerdekaan

Agustus 18, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pesan untuk OPM: Teroris Tak Berhak Menuntut Kemerdekaan

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Agustus 18, 2025
in # Ironi, #Kemerdekaan, Analisis, Teroris, Terorisme
Reading Time: 3 mins read
0
Pesan untuk OPM: Teroris Tak Berhak Menuntut Kemerdekaan - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Al Chaidar
Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Pada 12 Juni 2020, saya datang ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Ada janji bertemu untuk membahas tentang dagang produk-produk Indonesia yang bisa dijual di Belanda dan Uni Eropa. Dari Leiden, saya naik kereta api dan sambung dengan bus, turun di Museum Nelson Mandela. Ketika tiba di Tobiaas Asserlaan, saya terkejut karena ada demo OPM (Organisasi Papua Merdeka) di seberang jalan lokasi KBRI. Para pendemo meneriakkan yel-yel merdeka bagi Papua, Aceh dan juga RMS (Republik Maluku Selatan). Sebagai orang Aceh saya senang karena ada sedikit “pembelaan” terhadap kampung saya yang hingga hari ini belum juga merdeka, meski darah para syuhada telah berkali-kali tumpah ruah di sana.
Karena saya tak dibukakan pintu untuk masuk ke kedutaan, saya terus mengikuti narasi kemerdekaan yang diteriakkan oleh para pendemo OPM dengan menggunakan _loud-speaker_ yang dihadiri oleh 11 orang. Tidak ada seorang pun yang peduli dengan demo ini. Dari seberang jalan saya menyaksikan demo tersebut sambil berpikir: bukankah Belanda negara yang menjunjung-tinggi hak-hak asasi manusia, mengapa tak seorang pun dari mereka ikut serta dalam membela OPM? Sebagai antropolog, saya mencoba mencari tahu mengapa tak ada dukungan terhadap OPM di sini. 
Para pendemo itu terus-menerus meneriakkan: _“shame on you Indonesia”,_ karena dianggap telah berlaku zalim terhadap orang Papua. Saya justru berpikir sebaliknya: bukankah seharusnya OPM malu karena telah melakukan kekerasan indiscriminatatif terhadap orang-orang sipil yang sedang membangun jalan untuk rakyat. 

Lihatlah betapa biadab dan primitifnya teroris OPM: Pada 22 Juni 2018, menembak pesawat sipil penumpang Kenyam; kemudian pada 25 Juni 2018 menyerang masyarakat sipil di Kota Kenyam. Tiga orang meninggal dalam peristiwa itu, yakni Hendrik Sattu Kolab (38) dan istrinya, Martha Palin (28) serta teman mereka, Zainal Abidin (20). Sedangkan anak Hendrik yang berusia 6 tahun bernama Arjuna Kola mengalami luka parah di wajah akibat dibacok dengan parang. Ini sungguh-sungguh kebiadaban yang tak seorang Eropa pun sanggup membayangkannya.
Pada 3 hingga 17 Oktober 2018, sebanyak 15 orang guru dan tenaga kesehatan disandera di Distrik Mapenduma. Salah satu di antaranya seorang tenaga kesehatan diperkosa. Perkosaan adalah kejahatan luar biasa. Mungkin perlu ada lokalisasi di sana untuk meredam keberingasan ini.
Pada 1 hingga 2 Desember 2018, sebanyak 25 pekerja pembangunan jembatan dikumpulkan dan dibawa ke Puncak Kabo dan kemudian dieksekusi. Sebanyak 4 orang berhasil melarikan diri dari eksekusi, 2 orang tak diketahui keberadaannya dan 19 orang dipastikan meninggal dunia.
Belum cukup sampai di situ, pada 30 Maret 2019, OPM membunuh warga Selandia Baru di Freeport. Tidak adakah sense of international support bagi pejuang liberalisasi bangsa dalam hal ini? Malah, pada 15 Februari 2020, OPM membunuh 3 guru bakti bergaji rendah di bawah UMR. Semua tindakan ini membuat warga dunia muak atas primitive rebel OPM.
Yoweri Museveni (2001), mengatakan kepada Sidang Umum PBB bahwa perbedaan antara teroris dan pejuang kemerdekaan harus dipahami. Dalam pidatonya di depan Majelis Umum, Museveni membahas pertanyaan yang sering ditanyakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi jarang dijawab dengan cara tertentu, “apa perbedaan antara terorisme dan perjuangan yang sah untuk pembebasan?” Nelson Mandela telah menjadi pejuang kebebasan hingga saat ini. Apakah dia seorang teroris? Tentu saja tidak. Apakah Anda pernah mendengar Nelson Mandela membajak pesawat? Apakah Anda pernah mendengar dia membunuh pekerja sipil, guru dan memperkosa bidan secara keji dan biadab? Nelson Mandela adalah seorang pejuang kemerdekaan, bukan teroris. Terorisme terjadi, kata Museveni, ketika tidak ada perbedaan yang dibuat antara kombatan dan warga sipil. Tindakan teroris adalah kriminal dan harus ditentang oleh semua sebagai prinsip. Sementara di Indonesia, Menkopolhukam Prof Mahfudz MD tak sudi menyebut OPM sebagai teroris. Sebagai ahli hukum tentu beda dengan antropolog yang berbicara agak sedikit kasar tentang teroris. Mungkin bagi Menkopolhukam, OPM adalah generasi muda harapan bangsa.
Sementara bagi saya, secara konseptual sangat jelas: “The difference between a terrorist and a freedom fighter lies in the fact that while a freedom fighter sometimes may be forced to use violence, he can not use indiscriminate violence. The one who uses indiscriminate violence, that is the terrorist.” (Perbedaan antara teroris dan pejuang kemerdekaan terletak pada kenyataan bahwa sementara seorang pejuang kemerdekaan terkadang dipaksa untuk menggunakan kekerasan, dia tidak boleh menggunakan kekerasan terhadap sipil. Orang yang menggunakan kekerasan tanpa pandang bulu (terhadap sipil tak bersenjata), itulah teroris.
Shame on you OPM! Saya jijik mendengar narasi demo itu. Jangan ajak-ajak Aceh untuk melakukan apa yang oleh Eric J. Hobsbawm (1971) sebut sebagai primitive rebel ini. Bangsa Aceh tak seprimitif kalian. Kami masih bisa membedakan antara berperang di jalan Allah sebagai kombatan dengan tindakan memperkosa dan membunuh masyarakat sipil secara buas. Orang-orang Aceh tak sedurjana OPM!***

Share234SendTweet146Share
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Next Post
Pesan untuk OPM: Teroris Tak Berhak Menuntut Kemerdekaan - fdc0b06d 66a7 42f6 a74b 976a8a189cd7 | # Ironi | Potret Online

Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro Muhammad Samandan Syekh Ahmad Khatib

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com