POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Nafas Menemukan Ruangnya: Merdeka Adalah Merdeka

RedaksiOleh Redaksi
August 12, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.TM

Bulan Agustus selalu punya caranya sendiri untuk mengetuk pintu ingatan. Bau cat baru di pagar sekolah, riuh suara anak-anak berlatih tarik tambang, hingga lagu perjuangan yang mengalun dari pengeras suara masjid. Semuanya berpadu menjadi latar yang hangat, sekaligus menggetarkan hati. Namun, di tengah gemuruh perayaan itu, ada satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar hilang dari pikiranku: benarkah kita sudah merdeka?

Pertanyaan itu pertama kali muncul pada malam yang sepi di dalam bus ekonomi yang melaju menuju kampung halaman. Lampu-lampu warung kopi di pinggir jalan berkelip redup, dan di tengah kegelapan itu, kulihat seorang bapak tua berjalan sambil memanggul karung berisi botol plastik bekas. Wajahnya letih, langkahnya pelan, tapi matanya memandang lurus ke depan. 

Entah kenapa, sosoknya menancap di kepalaku. Ia membuatku bertanya: apa arti merdeka baginya? Apakah kemerdekaan hanya sebatas tidak dijajah bangsa lain, ataukah ada lapisan makna yang lebih dalam?

Jawaban itu tidak datang sekaligus. Ia muncul sedikit demi sedikit, lewat potongan-potongan peristiwa yang kualami sendiri.

Kemerdekaan pertama yang kualami adalah saat memutuskan meninggalkan pekerjaan kantoran. Setiap bulan, gaji masuk tepat waktu, tapi setiap hari juga aku merasa semakin kehilangan diriku sendiri. Jam kerja yang panjang, ruang kerja tanpa jendela, dan rapat-rapat tanpa akhir membuatku seperti mesin yang diatur tombolnya. Hingga suatu pagi, ketika melihat wajahku sendiri di cermin, aku sadar aku sedang menjalani hidup orang lain.

Keputusan untuk berhenti tidak mudah. Ada yang menasihati dengan nada khawatir, ada pula yang mencibir, seakan aku sedang melakukan kesalahan besar. Tapi ketika pintu kantor itu kututup untuk terakhir kalinya, rasanya seperti menghirup udara segar setelah lama berada di ruang pengap. Saat itu aku tahu, kemerdekaan adalah keberanian memilih jalan sendiri, meski itu berarti berjalan sendirian untuk sementara waktu.

Beberapa bulan kemudian, aku mendapat kesempatan tinggal di sebuah kampung nelayan di pesisir. Di sana, aku belajar bahwa kemerdekaan juga tumbuh dari kebersamaan. Warga saling membantu memperbaiki perahu, berbagi hasil tangkapan dengan tetangga yang sedang sakit, dan menjaga anak-anak bersama. 

Mereka tidak hidup bergelimang harta, tapi ada rasa aman yang lahir dari saling percaya. Aku melihat, kemerdekaan sejati tidak hanya soal kebebasan individu, tetapi juga soal menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk hidup layak.

📚 Artikel Terkait

Life Begins at 50

BATU CINCIN BERKHASIAT

Blunder Yang Dilakukan Prabowo

Pendidikan Memerdekakan – Ulasan Artikel

Tapi ada jenis belenggu lain yang tak terlihat, yaitu belenggu dalam diri sendiri. Bertahun-tahun aku takut mencoba hal-hal baru, khawatir gagal, takut dihakimi. Sampai suatu ketika, aku memutuskan mengikuti lomba menulis. Aku tidak berharap menang, aku hanya ingin membuktikan bahwa rasa takut tidak akan lagi memegang kendali. Saat jari-jariku mulai mengetik, rasanya seperti membuka pintu yang selama ini terkunci rapat. Proses itu membebaskanku, bahkan sebelum hasil lomba diumumkan.

Kemerdekaan juga kadang berarti melepaskan beban yang selama ini kita pelihara. Aku pernah menyimpan dendam bertahun-tahun kepada seseorang yang mengkhianatiku. Rasanya setiap mengingatnya, aku kembali terperangkap dalam kotak sempit berisi amarah dan sakit hati. Hingga suatu hari, aku memutuskan untuk memaafkan not demi dia, tetapi demi diriku sendiri. Dan benar saja, saat itu seperti keluar dari ruangan yang gelap dan sesak menuju udara yang segar.

Bagi sebagian orang, kemerdekaan berarti kebebasan berbicara; bagi yang lain, itu adalah bebas dari utang, bebas dari kekerasan, atau bebas dari diskriminasi. Tapi bagiku, semua bentuk kemerdekaan berpangkal pada satu hal: kemerdekaan adalah ruang untuk menjadi manusia seutuhnya, tanpa harus mengecilkan diri demi muat di cetakan yang dibuat orang lain.

Agustus datang lagi, dan aku tak lagi merayakannya hanya dengan lomba panjat pinang atau makan kerupuk. Aku tetap tersenyum melihat anak-anak tertawa, tapi aku juga mengibarkan pertanyaan di dalam hati:

Apakah aku sudah benar-benar merdeka dalam pikiran dan tindakan?

Apakah kebebasan yang kumiliki bermanfaat untuk orang lain, atau hanya berhenti di lingkaran kecil milikku?

Jujur saja, ada bagian-bagian dari hidupku yang masih terikat: rasa khawatir yang kadang berlebihan, kecenderungan menunda, atau kebiasaan membatasi diri sebelum mencoba. Tapi aku belajar bahwa kemerdekaan bukan tujuan akhir yang bisa kita capai sekali untuk selamanya. Ia adalah perjalanan yang terus diperbarui setiap hari, lewat keputusan-keputusan kecil yang kita ambil.

Hari ini, saat melihat anak-anak berlarian di lapangan sambil membawa bendera kecil, aku mengerti satu hal: kemerdekaan yang sejati bukan hanya diwariskan lewat teks proklamasi atau simbol-simbol negara. Ia tumbuh di hati setiap orang yang berani memilih, berani berkata jujur, dan berani melihat orang lain sebagai manusia yang setara.

Merdeka adalah saat kita merasa punya daya, meski kecil untuk mengubah hidup kita sendiri dan memberi dampak pada dunia di sekitar kita. Merdeka adalah ketika napas menemukan ruangnya, dan hati menemukan jalannya. Dan pada akhirnya, merdeka adalah merdeka itu sendiri.

#bulanmerdeka #potretonline #lombamenulisagustus

Tentang Penulis:

Saya, Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.TMr, berdomisili di Kota Banda Aceh, saya terus mengembangkan diri melalui berbagai sertifikasi dan produktif menulis diberbagai platfrom media. Berpegang pada motto “With hardship, there is ease,” saya berkomitmen untuk berkontribusi dalam pendidikan dan kemajuan masyarakat. Simak kegiatan saya di Instagram @muhammadabrar0212

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Merdeka Adalah Merdeka

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00