Dengarkan Artikel
Sebuah stasiun televisi swasta menayangkan acara yang mengungkap fakta tentang makanan. Demi meraup keuntungan, seorang pria yang diwawancarai mengaku menjual roti berjamur yang diolah menjadi sejenis roti bakar. Dalam tayangan sebelumnya, seorang penjual bakso juga melakukan kecurangan. Hasil kecurangannya ternyata cukup besar. Setidaknya, ia sudah memiliki beberapa rumah di kampung halamannya.
Pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu.” Selama ini kita memahami pepatah ini seolah hanya berlaku pada ucapan. Faktanya, apa yang masuk melalui mulut juga memengaruhi tubuh secara jasmani. Bahkan, makanan yang tidak dicurangi pun tetap bisa berdampak buruk jika kita tidak menjaga pola makan. Penyakit bisa datang—sebentar atau selamanya.
Kini, otak manusia mengalami gejala serupa. Era post-truth, digitalisasi, dan rendahnya daya kritis menyebabkan otak sering teracuni—oleh konsumsi berlebihan atas informasi yang tidak diverifikasi.
Sama seperti penjual roti dan bakso yang curang, para pengemas informasi pun melakukan kecurangan demi menumpuk pundi-pundi. Anda bisa membuktikannya sendiri dari berita atau konten yang Anda baca setiap hari. Banyak informasi yang disajikan tampak masuk akal, namun sesungguhnya menyesatkan. Kita pun dengan mudah mempercayainya, lalu menyebarkannya secara lisan. Sadar atau tidak, informasi yang keliru itu keluar dari mulut kita.
Bayangkan jika yang menyebarkannya adalah seorang publik figur—atau dalam era sekarang, disebut influencer. Dampaknya bisa sistemik. Berdasarkan berbagai riset, sekitar 85 persen pengguna media sosial mengaku terpengaruh oleh influencer. Bisa dibayangkan bila seseorang dengan pengaruh besar tidak memverifikasi informasi yang disampaikannya.
Pada titik ini, kita perlu bertanya, “Apakah kita memiliki filter yang berkualitas?” Filter itu adalah seperangkat pengetahuan, akal sehat, dan nalar yang terus berevolusi saat berhadapan dengan beragam informasi. Pisau bisa digunakan untuk memotong bawang, tapi juga bisa digunakan untuk menyakiti orang lain—termasuk diri sendiri. Pengetahuan pun demikian. Ia bisa mencerdaskan, tapi juga bisa menyesatkan. Di sinilah kebijaksanaan menjadi kunci.
Internet tumbuh menjadi kebutuhan, dan dari sana lahir berbagai kebutuhan baru yang dijalankan melalui internet. Sama seperti pisau, yang terpenting adalah bagaimana internet digunakan: untuk kebaikan dan kebenaran, atau sebaliknya. Mari kita evaluasi bersama.
📚 Artikel Terkait
Waktu terus berjalan. Detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari, minggu, bulan, bahkan tahun. “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian,” begitu peringatan dari Surat Al-‘Ashr. Kecuali mereka yang menggunakan internet dengan bijak, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Substansi Surat Al-‘Ashr relevan dengan kehidupan digital kita. Secara logis dan ilmiah, kandungannya sangat masuk akal. Misalnya, jika kita menggunakan internet hanya untuk hiburan tanpa arah, kita sesungguhnya sedang memperkaya kelompok tertentu tanpa memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Mungkin itu urusan pribadi, tapi dampaknya tidak sesederhana itu.
Kita sering lupa bahwa setiap detik penggunaan internet berdampak pada sumber daya alam, termasuk air. Internet tidak bekerja tanpa infrastruktur yang terus-menerus didinginkan dengan air—terutama pusat data (data center). Di Indonesia, diperkirakan pada tahun 2025 dibutuhkan sekitar 37,5 miliar liter air per tahun hanya untuk mendinginkan data center. Itu pun dengan asumsi rata-rata penggunaan internet hanya 28 menit per hari per pengguna. Jika lebih, tentu angka tersebut melonjak drastis hingga ratusan miliar liter.

Dari sisi ekonomi, platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube meraup keuntungan sangat besar. Dengan asumsi nilai tukar Rp16.000 per dolar AS, dan pengguna aktif internet Indonesia sekitar 200 juta orang, pendapatan mereka bisa mencapai Rp24 juta per menit, atau lebih dari Rp12,6 triliun per tahun, jika setiap orang hanya menggunakan satu jam per hari. Itu pun belum termasuk iklan, transaksi digital, dan monetisasi data.
Mengapa informasi seperti ini tidak viral? Jawabannya sederhana: ia tidak menguntungkan algoritma. Ia mengganggu iklim bisnis platform digital. Maka pertanyaannya: apa yang bisa kita lakukan?
Salah satu tindakan sederhana namun bermakna adalah mematikan paket data saat tidur. Biarkan bumi beristirahat bersama kita. Jangan biarkan mesin-mesin data center terus bekerja tanpa henti hanya demi kebiasaan kita yang tak sadar. Tindakan kecil ini adalah bentuk kesadaran kolektif demi generasi mendatang.
Setuju?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






