Saya justru melihat gejala lain. Kemarahan kita sepertinya bukan semata-mata lahir dari kepedulian terhadap alam secara utuh, melainkan dari kehilangan sesuatu yang terlihat dan terpotret. Satu pohon yang estetik ditebang, kita ramai, heboh bukan kepalang. Tapi saat ratusan bahkan ribuan hektar hutan kita di Aceh yang terus-menerus dibabat setiap tahun: kita malah diam tak peduli. Tak ada video menangis di lokasi, tak ada tangisan netizen, dan sangat jarang kita melihat anggota dewan bersuara keras soal itu. Baca selengkapnya : Pohon “Jeju”, Hutan yang Tak Estetik, dan Kemarahan yang Tebang Pilih
