HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam

Redaksi by Redaksi
Juli 2, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
0
Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kadang merasa sedih, daerah sendiri kok gini, sih. Sebelumnya, ada pengaruh Ponpes yang “menggitukan” ya gitu deh, santriwatinya. Padahal, ia baru lulus P3K. Sekarang giliran pengelola Panti Asuhan, gitu lagi. Pelakunya oknum PNS lagi. Oknum ya, bulan semua. Duh, sang predator, tak bisa lihat bening dikit, main tancap. Ingat umur, anak bini di rumah, dan ingat Tuhan. Mari kita ungkap kasus yang lagi heboh di Pontianak ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak.

Baca Juga

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026

Pada Minggu malam, 29 Juni 2025, di saat langit Pontianak mulai beranjak gelap dan warga sibuk menikmati akhir pekan dengan mancing di tepian Sungai Kapuas, nonton Dracin, dan doa-doa sebelum tidur, satu operasi senyap dilakukan oleh Unit Jatanras Satreskrim Polresta Pontianak. Bukan operasi biasa. Bukan pula penggerebekan tikus-tikus berdasi. Ini tentang seorang laki-laki, berstatus Pegawai Negeri Sipil, penjaga panti sosial, yang seharusnya melindungi anak-anak terlantar, tapi justru menjelma menjadi predator paling menjijikkan yang pernah ada.

Dialah pagar makan tanaman. Bukan hanya makan, tapi mencabik-cabik, menyesap dengan rakus kepolosan anak-anak yang mempercayainya. “Ayap ye,” kata orang Sambas.

Bayangkan, wak! Di tempat yang mestinya menjadi pelukan terakhir dari dunia yang menelantarkan, seorang oknum malah menjadikan panti sosial sebagai panggung bejatnya. Ia tidak hanya mencederai fisik korban, ia menghancurkan kepercayaan anak-anak pada manusia.

ADVERTISEMENT

Ia bukan tamu tak diundang. Ia adalah staf tetap di instansi pemerintahan, yang seharusnya mengabdi pada rakyat, pada bangsa, pada kemanusiaan. Tapi yang terjadi, ia malah mengabdi pada iblis di kepalanya. Seorang predator berseragam, yang mendekat bukan untuk menolong, tapi untuk memangsa.

Korban? Seorang anak di bawah umur. Anak yang semestinya bermain bola, belajar membaca, dan tertawa di sore hari. Kini, ia malah harus belajar tentang trauma, tentang ketakutan, tentang luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Luka yang mungkin akan dibawanya sampai dewasa, sampai usia pensiun, bahkan sampai liang kubur.

Perbuatan ini tidak hanya biadab, ia melampaui batas kata “jahat”. Ini bukan kejahatan biasa. Ini adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab, pengkhianatan terhadap manusia kecil yang tidak bisa melawan. Saat tindakan ini terendus dan mulai viral, pelaku tidak gentar. Ia malah berusaha membungkam. Mengintimidasi. Menutup mulut korban, agar aibnya terkubur bersama rasa takut.

Tapi tidak semudah itu, Ferguso.

Unit Jatanras dan Unit PPA Satreskrim Polresta Pontianak bekerja senyap, tapi tajam. Mereka bukan sekadar polisi, mereka pagar baja di tengah runtuhnya kepercayaan publik. Mereka melawan tekanan, menembus kabut intimidasi, dan akhirnya menangkap pelaku. Tidak dengan tepuk tangan, tapi dengan gigi gemeretak dan dada membara. Karena siapa pun yang tahu kasus ini, pasti ingin menggenggam keadilan dan menghantamkan palu hukum berkali-kali ke kepala pelaku.

Kini, kasus sedang didalami. Karena dugaan awal, ini bukan aksi pertama. Bukan kejahatan tunggal. Mungkin sudah ada korban-korban lain, yang lebih muda, lebih diam, lebih terluka.

Kita harus bertanya,
di mana sistem pengawasan?
Bagaimana bisa pelaku bergerak selama ini tanpa terendus?
Apa SOP panti sosial kita, bila seorang predator bisa bebas berkeliaran di dalamnya?

Peribahasa “pagar makan tanaman” kini bukan lagi sindiran lembut. Ia telah berubah menjadi jerit ngeri anak-anak yang dikhianati oleh orang dewasa. Sebuah tragedi kemanusiaan yang harus dicatat, disorot, dan dikutuk habis-habisan.

Tak ada alasan, tak ada pembenaran, tak ada ruang maaf.

Siapa pun yang menyentuh anak-anak dengan niat bejat, adalah musuh bersama umat manusia. Negara, bila masih punya nurani, wajib memvonis pelaku dengan hukuman paling berat yang bisa diakomodasi undang-undang, karena jika hukum gagal memberi rasa takut, maka bangsa ini hanya menunggu giliran berikutnya, ketika serigala berkaki dua kembali menyamar sebagai pelindung.

Semoga keadilan bukan hanya kata-kata. Semoga anak-anak, yang kini menangis dalam diam, tahu… bahwa dunia belum sepenuhnya gelap. Bahwa masih ada yang berdiri untuk mereka.

Meski terlambat. Meski tidak semua luka bisa sembuh.

Foto Ai, bukan yang sebenarnya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 319x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 285x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 243x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 206x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 162x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan
Esai

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan

Maret 18, 2026
Artikel

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Hari Buruh

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026
Next Post
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com