Dengarkan Artikel
Oleh Ilhamdi Sulaiman
Puisi tak bisa menghentikan perang,
seperti doa yang jatuh di antara peluru,
tapi ia mampu bertahan di dada luka
sebagai nyala kecil yang tak padam.
Ia tak mampu membungkam deru meriam,
tapi bisa menjadi bisikan lembut
di telinga anak-anak yang tak lagi punya bantal.
Bukan senjata, tapi ia senantiasa hadir
sebagai air di padang luka.
Rumah yang Hilang
Kami pernah punya rumah,
atapnya dari tawa ayah,
lantainya dari cerita ibu,
dindingnya dari tangis yang saling mendekap.
Kini rumah itu hanya bayang
di pasir yang selalu bergerak,
tempat kami menggali malam
dengan tangan telanjang,
mencari mimpi yang tertimbun puing.
Roti di Tengah Ledakan
Ada roti yang tak bisa dimakan,
bukan karena basi,
tapi karena tangannya tak sampai
melewati pagar seng dan laras senapan.
Anak-anak mengunyah angin
dan membayangkan gandum di televisi,
sementara langit menggigil
karena terlalu banyak janji
yang tak turun sebagai hujan.
Perbatasan
Di perbatasan. peta jadi senjata.
Sungai kecil. tempat bermain
kini jadi garis api
memisahkan tangan dari pelukan,
mata dari tatapan,
dan cinta dari pulang.
Perbatasan bukan garis,
tapi lubang yang menganga
di dada para pengungsi.
Di Balik Puing
Ada puisi yang lahir. dari reruntuhan,
bukan dari tinta,
tapi dari darah. mengering di jari.
Ia menulis dengan pecahan kaca,
di dinding-dinding kehilangan nama
meski tak dibaca siapa-siapa,
ia tetap menulis,
itulah satu-satunya cara untuk meneriakan derita.
Nama-Nama yang Hilang
Kami menyebut nama-nama
dalam daftar panjang kehilangan.
Mereka bukan angka,
tapi cahaya yang menyalakan pagi kami.
Setiap nama adalah perahu
karam tanpa laut,
hilang di halaman koran
belum kami baca.
📚 Artikel Terkait
Sekolah Tanpa Jendela
Anak-anak duduk di lantai debu,
membaca huruf dari sisa.
papan tulis
retak seperti langit di atas kepala.
Buku-buku mereka terbakar,
tapi mereka tetap mengeja harapan dari serpihan pelajaran
yang terbang bersama suara meriam.
Lonceng yang Tak Lagi Berdentang
Dulu ada lonceng di menara,
memanggil orang berdamai.
Kini ia dibungkam,
berkarat dalam kesepian waktu.
Lonceng itu masih ada,
tapi nadanya dipenjara
oleh tangan yang lebih suka membunyikan senjata.
Malam Tanpa Tidur
Malam kami bukan untuk tidur,
tapi untuk menunggu
apakah dinding masih sanggup bertahan
jika pagi tak datang?
Kami tidur dengan satu mata terbuka,
dan mimpi-mimpi kami dibungkus
dengan kain kafan suara.
Surat yang Tak Pernah Sampai
Aku menulis surat untuk dunia,
menitipkannya pada burung yang tak punya arah.
Tapi dunia sedang sibuk
menghitung keuntungan dari luka.
Maka suratku hanya jatuh
di pelataran senyap
dibaca oleh tanah
yang tahu bagaimana menahan tangis.
Sungai yang Membawa Mayat
Sungai di desa kami dulu jernih,
tempat kami menyanyi sambil berenang.
Kini ia membawa tubuh
yang tak bisa lagi memeluk pagi.
Airnya masih mengalir,
tapi tak menyuburkan
selain kesedihan mendalam.
Puisi yang Tersisa
Setelah semua hancur,
puisi adalah satu-satunya tersisa
rapuh, terluka,
tapi terus berkata.
Ia tak punya senjata,
tapi punya lidah
yang menolak diam
ketika kemanusiaan dihancurkan.
23 Juni 2025.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





