POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

Ilhamdi SulaimanOleh Ilhamdi Sulaiman
June 27, 2025
Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Ilhamdi Sulaiman

Puisi tak bisa menghentikan perang,
seperti doa yang jatuh di antara peluru,
tapi ia mampu bertahan di dada luka
sebagai nyala kecil yang tak padam.
Ia tak mampu membungkam deru meriam,
tapi bisa menjadi bisikan lembut
di telinga anak-anak yang tak lagi punya bantal.
Bukan senjata, tapi ia senantiasa hadir
sebagai air di padang luka.
Rumah yang Hilang
Kami pernah punya rumah,
atapnya dari tawa ayah,
lantainya dari cerita ibu,
dindingnya dari tangis yang saling mendekap.
Kini rumah itu hanya bayang
di pasir yang selalu bergerak,
tempat kami menggali malam
dengan tangan telanjang,
mencari mimpi yang tertimbun puing.
Roti di Tengah Ledakan
Ada roti yang tak bisa dimakan,
bukan karena basi,
tapi karena tangannya tak sampai
melewati pagar seng dan laras senapan.
Anak-anak mengunyah angin
dan membayangkan gandum di televisi,
sementara langit menggigil
karena terlalu banyak janji
yang tak turun sebagai hujan.

Perbatasan
Di perbatasan. peta jadi senjata.
Sungai kecil. tempat bermain
kini jadi garis api
memisahkan tangan dari pelukan,
mata dari tatapan,
dan cinta dari pulang.
Perbatasan bukan garis,
tapi lubang yang menganga
di dada para pengungsi.

Di Balik Puing
Ada puisi yang lahir. dari reruntuhan,
bukan dari tinta,
tapi dari darah. mengering di jari.
Ia menulis dengan pecahan kaca,
di dinding-dinding kehilangan nama
meski tak dibaca siapa-siapa,
ia tetap menulis,
itulah satu-satunya cara untuk meneriakan derita.

Nama-Nama yang Hilang
Kami menyebut nama-nama
dalam daftar panjang kehilangan.
Mereka bukan angka,
tapi cahaya yang menyalakan pagi kami.
Setiap nama adalah perahu
karam tanpa laut,
hilang di halaman koran
belum kami baca.

📚 Artikel Terkait

Puisi – puisi Anies Septivirawan

EMPAT BAHAYA LATIN DOSA TERHADAP KEHIDUPAN UMAT ISLAM

Puisi-Puisi Mengenang Tsunami Aceh

Modus Operandi Penjajahan Baru

Sekolah Tanpa Jendela
Anak-anak duduk di lantai debu,
membaca huruf dari sisa.
papan tulis
retak seperti langit di atas kepala.
Buku-buku mereka terbakar,
tapi mereka tetap mengeja harapan dari serpihan pelajaran
yang terbang bersama suara meriam.

Lonceng yang Tak Lagi Berdentang
Dulu ada lonceng di menara,
memanggil orang berdamai.
Kini ia dibungkam,
berkarat dalam kesepian waktu.
Lonceng itu masih ada,
tapi nadanya dipenjara
oleh tangan yang lebih suka membunyikan senjata.

Malam Tanpa Tidur
Malam kami bukan untuk tidur,
tapi untuk menunggu
apakah dinding masih sanggup bertahan
jika pagi tak datang?
Kami tidur dengan satu mata terbuka,
dan mimpi-mimpi kami dibungkus
dengan kain kafan suara.

Surat yang Tak Pernah Sampai
Aku menulis surat untuk dunia,
menitipkannya pada burung yang tak punya arah.
Tapi dunia sedang sibuk
menghitung keuntungan dari luka.
Maka suratku hanya jatuh
di pelataran senyap
dibaca oleh tanah
yang tahu bagaimana menahan tangis.

Sungai yang Membawa Mayat
Sungai di desa kami dulu jernih,
tempat kami menyanyi sambil berenang.
Kini ia membawa tubuh
yang tak bisa lagi memeluk pagi.
Airnya masih mengalir,
tapi tak menyuburkan
selain kesedihan mendalam.

Puisi yang Tersisa
Setelah semua hancur,
puisi adalah satu-satunya tersisa
rapuh, terluka,
tapi terus berkata.
Ia tak punya senjata,
tapi punya lidah
yang menolak diam
ketika kemanusiaan dihancurkan.
23 Juni 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00