HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hanami Terakhir di Ueno

Redaksi by Redaksi
Juni 20, 2025
in #Cerpen, Cerpen
Reading Time: 6 mins read
0
Hanami Terakhir di Ueno
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dikdik Sadikin

Namanya Aoi Takamura. Seperti warna laut saat senja: teduh, tenang, dan samar menyimpan duka.

Baca Juga

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026
Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Maret 14, 2026
Laki-Laki dari Tanah Zamrud

Laki-Laki dari Tanah Zamrud

Maret 10, 2026

Kami bertemu di Ueno, ketika sakura sedang jatuh satu-satu, seperti rahasia yang tak sempat terucap. Ueno adalah sebuah kawasan di distrik Tait, Tokyo, Jepang . Di sanalah terletak Ueno Park, taman kota yang sangat indah, terutama saat musim semi. Ribuan pohon sakura mekar, menjadi lokasi klasik untuk hanami atau piknik bunga sakura.

Aoi duduk di bangku kayu, membaca “Norwegian Wood” sambil menyesap teh hangat dari termos kecil yang dibawanya dari rumah. Tak banyak orang di sekelilingnya, hanya pasangan lansia dengan kursi roda dan burung-burung pipit yang mencari remah onigiri.

“Aku suka bunga yang gugur sebelum layu,” katanya saat kami pertama kali bicara. Bahasa Inggrisnya tertata rapi, seperti kalimat-kalimat dalam novel Jepang.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena mereka tahu kapan harus pergi.”

Aku tidak tahu apakah itu puisi, atau luka yang sedang ia sembunyikan. Tapi ada kesedihan yang samar di balik senyumnya. Seperti Jepang sendiri.

“Ayahku pensiun di usia 75, tapi dua hari setelahnya dia meninggal,” desah Aoi. “Katanya ia tak tahu lagi harus hidup untuk siapa.”

Aku menatapnya, tapi ia tak memandang balik. Ada yang tak bisa disentuh dari perempuan seperti Aoi: luka yang tak berdarah, tapi terus mengalir.


Kami jadi sering bertemu setelah itu, menyusuri musim semi seperti menapaki kenangan.

Aoi ternyata editor lepas di sebuah penerbit kecil di Kanda. Ia tinggal sendirian di apartemen mungil dekat Yanaka, dan tiap malam membaca puisi sambil menyeduh teh hojicha. Usianya 29. Terlalu muda untuk lelah, tapi terlalu tua untuk berharap.

Ia pernah bercita-cita menjadi guru, tapi sekolah tempat ia mengajar ditutup karena tak ada murid.

Ia kemudian bekerja di kafe, lalu di toko buku. Lalu akhirnya menyerah pada dunia yang tak memberinya tempat.

Suatu kali kami duduk di rooftop kafe Piccole Lampare & Rooftop Sky Bar, yang terletak di bangunan kaca di depan Tokyo Skytree, persis di tepi Sungai Sumida. Kami meneguk kopi hangat dan menyaksikan senja Tokyo yang tak pernah benar-benar gelap.

Aoi menunjuk ke kejauhan, ke arah Skytree yang cahayanya memantul lembut di permukaan sungai. Di situ aku melihat sebuah kota yang perlahan kehilangan kejayaan masa mudanya. Lampu-lampu gedung berpendar, sungai yang setia mengalir, dan gedung tertinggi Jepang itu menjadi saksi diam senjakala yang tidak pernah usai.

“Aku merasa hidup di negeri yang sedang menua,” katanya. “Orang-orang di sekelilingku berjalan cepat, tapi sebenarnya sedang mundur.”

“Kau tahu,” matanya menatapku, “di Jepang sekarang, popok lansia lebih banyak terjual daripada popok bayi.”

Aku mengangkat alis.

“Dan itu bukan metafora. Itu statistik,” lanjut Aoi sambil tertawa kecil.

“Dulu kita punya Sony, Panasonic, Sanyo,” lanjutnya. “Sekarang mereka tertinggal. Karena yang memutuskan desain adalah para eksekutif usia 70-an yang tak mau mengubah selera.”

Ia menunjuk ponselku.

“Lihat, itu buatan Korea. Dan jam tanganmu? China. Orang-orang tua di sini tidak mengerti kenapa anak muda ingin semuanya serba cepat dan ringan. Mereka pikir dunia tetap seperti tahun 1980.”

Kami berjalan menyusuri jalanan kosong.

Di peron, tak ada suara anak-anak, hanya dengkitan robot penyapu dan pengumuman otomatis. Jepang tak kekurangan uang. Tapi kekurangan suara tangis bayi.

“Dulu,” gumam Aoi, “sekolah di sini penuh anak-anak. Sekarang kelas dibubarkan karena tak ada murid.”

Aku mulai merasa, Aoi bukan hanya seorang perempuan. Ia personifikasi Jepang itu sendiri. Indah, tapi menyembunyikan sunyi. Teratur, tapi kehilangan arah. Punya teknologi canggih, tapi terlalu lelah untuk bermimpi. Masyarakatnya bekerja 80 jam seminggu, meminum bir bersama bos, lalu pulang ke apartemen mungil tanpa ada yang menyapa. Ada banyak uang di bank, tapi tak ada harapan untuk dibeli.

“Kau tahu kenapa aku senang mendengarkan ceritamu tentang Indonesia?” tanyanya di sebuah izakaya tua di Nippori.

Aku menatapnya.

“Karena kalian masih ribut. Masih berisik. Masih punya anak-anak yang berlari di gang-gang. Masih percaya bahwa hidup bisa berubah.”

Aku terdiam. Ia tak sedang memuji. Ia sedang merindukan sesuatu yang telah hilang di negerinya sendiri.


Hari-hari berlalu seperti kereta cepat Shinkansen.

Kami berbicara tentang Indonesia, tentang gunung dan hujan, tentang keluarga yang makan malam bersama.

Ia mendengarkan dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang tak pernah diajak bermain.

“Kau beruntung,” katanya suatu sore di Asakusa. “Negaramu masih punya suara anak-anak di pagi hari.”

“Jepang pun bisa,” kataku.

Ia tertawa. Ringan. Tapi getir.

“Tidak semudah itu. Di sini, kita diajarkan untuk tidak merepotkan. Bahkan saat ingin menangis, kita harus diam.”

“Menurutmu,” tanyanya tiba-tiba, “Indonesia akan seperti Jepang juga nanti?”

Aku menghela napas. “Bisa saja. Kalau kami terjebak dalam mengejar angka pertumbuhan, tapi lupa pada manusia.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi kalian masih punya waktu. Masih punya orang muda. Kalau pemerintahmu pandai mengelola, kalian bisa melompat jauh,” Aoi mendesah. “Jangan seperti kami yang berjalan mundur sambil menatap ke depan.”


Kami kembali ke Ueno di hari terakhirku.

Sakura hampir habis. Tanah tertutup kelopak, seperti karpet kenangan. Aoi membawa bekal—onigiri, telur dadar, dan teh.

Kami duduk tanpa banyak bicara. Hanya melihat orang-orang lewat: kebanyakan lansia, beberapa turis, nyaris tak ada anak-anak.

Angin berembus. Kelopak terakhir jatuh ke telapak tangannya. Ia mengepalkan tangan itu pelan, seolah menyimpan musim semi dalam genggaman.

“Aku ingin tinggal di negeri yang masih punya harapan,” bisik Aoi.

Aku menatapnya lama. Dan tahu, ini bukan sekadar perpisahan. Ini adalah penanda antara yang masih bisa berubah, dan yang telah terlalu jauh melangkah dalam kelelahan.

Tiga bulan setelah aku kembali ke Jakarta, aku menerima email darinya.

Aku pindah ke desa kecil di Hokkaido. Mengajar anak-anak petani. Muridku hanya lima. Tapi mereka tertawa. Aku mulai percaya: negeri ini belum sepenuhnya sunyi.

Aku membalas:

Indonesia menunggumu, bila kau ingin mendengar suara anak-anak di pagi hari lagi.

Karena cinta, seperti negara, membutuhkan regenerasi. Bukan hanya tubuh muda, tapi semangat untuk percaya pada hari esok.

Dan mungkin, kelak di musim yang lain, kami bisa kembali bertemu.

Bukan di bawah pohon sakura yang gugur. Tapi di antara teriakan anak-anak yang berlari, menanam harapan di tanah yang belum lelah.

Bogor, 17 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 208x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 150x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 121x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 109x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com