Dengarkan Artikel
Oleh Dikdik Sadikin
Namanya Aoi Takamura. Seperti warna laut saat senja: teduh, tenang, dan samar menyimpan duka.
Kami bertemu di Ueno, ketika sakura sedang jatuh satu-satu, seperti rahasia yang tak sempat terucap. Ueno adalah sebuah kawasan di distrik Tait, Tokyo, Jepang . Di sanalah terletak Ueno Park, taman kota yang sangat indah, terutama saat musim semi. Ribuan pohon sakura mekar, menjadi lokasi klasik untuk hanami atau piknik bunga sakura.
Aoi duduk di bangku kayu, membaca “Norwegian Wood” sambil menyesap teh hangat dari termos kecil yang dibawanya dari rumah. Tak banyak orang di sekelilingnya, hanya pasangan lansia dengan kursi roda dan burung-burung pipit yang mencari remah onigiri.
“Aku suka bunga yang gugur sebelum layu,” katanya saat kami pertama kali bicara. Bahasa Inggrisnya tertata rapi, seperti kalimat-kalimat dalam novel Jepang.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena mereka tahu kapan harus pergi.”
Aku tidak tahu apakah itu puisi, atau luka yang sedang ia sembunyikan. Tapi ada kesedihan yang samar di balik senyumnya. Seperti Jepang sendiri.
“Ayahku pensiun di usia 75, tapi dua hari setelahnya dia meninggal,” desah Aoi. “Katanya ia tak tahu lagi harus hidup untuk siapa.”
Aku menatapnya, tapi ia tak memandang balik. Ada yang tak bisa disentuh dari perempuan seperti Aoi: luka yang tak berdarah, tapi terus mengalir.
Kami jadi sering bertemu setelah itu, menyusuri musim semi seperti menapaki kenangan.
Aoi ternyata editor lepas di sebuah penerbit kecil di Kanda. Ia tinggal sendirian di apartemen mungil dekat Yanaka, dan tiap malam membaca puisi sambil menyeduh teh hojicha. Usianya 29. Terlalu muda untuk lelah, tapi terlalu tua untuk berharap.
Ia pernah bercita-cita menjadi guru, tapi sekolah tempat ia mengajar ditutup karena tak ada murid.
Ia kemudian bekerja di kafe, lalu di toko buku. Lalu akhirnya menyerah pada dunia yang tak memberinya tempat.
Suatu kali kami duduk di rooftop kafe Piccole Lampare & Rooftop Sky Bar, yang terletak di bangunan kaca di depan Tokyo Skytree, persis di tepi Sungai Sumida. Kami meneguk kopi hangat dan menyaksikan senja Tokyo yang tak pernah benar-benar gelap.
Aoi menunjuk ke kejauhan, ke arah Skytree yang cahayanya memantul lembut di permukaan sungai. Di situ aku melihat sebuah kota yang perlahan kehilangan kejayaan masa mudanya. Lampu-lampu gedung berpendar, sungai yang setia mengalir, dan gedung tertinggi Jepang itu menjadi saksi diam senjakala yang tidak pernah usai.
“Aku merasa hidup di negeri yang sedang menua,” katanya. “Orang-orang di sekelilingku berjalan cepat, tapi sebenarnya sedang mundur.”
“Kau tahu,” matanya menatapku, “di Jepang sekarang, popok lansia lebih banyak terjual daripada popok bayi.”
Aku mengangkat alis.
“Dan itu bukan metafora. Itu statistik,” lanjut Aoi sambil tertawa kecil.
“Dulu kita punya Sony, Panasonic, Sanyo,” lanjutnya. “Sekarang mereka tertinggal. Karena yang memutuskan desain adalah para eksekutif usia 70-an yang tak mau mengubah selera.”
Ia menunjuk ponselku.
“Lihat, itu buatan Korea. Dan jam tanganmu? China. Orang-orang tua di sini tidak mengerti kenapa anak muda ingin semuanya serba cepat dan ringan. Mereka pikir dunia tetap seperti tahun 1980.”
📚 Artikel Terkait
Kami berjalan menyusuri jalanan kosong.
Di peron, tak ada suara anak-anak, hanya dengkitan robot penyapu dan pengumuman otomatis. Jepang tak kekurangan uang. Tapi kekurangan suara tangis bayi.
“Dulu,” gumam Aoi, “sekolah di sini penuh anak-anak. Sekarang kelas dibubarkan karena tak ada murid.”
Aku mulai merasa, Aoi bukan hanya seorang perempuan. Ia personifikasi Jepang itu sendiri. Indah, tapi menyembunyikan sunyi. Teratur, tapi kehilangan arah. Punya teknologi canggih, tapi terlalu lelah untuk bermimpi. Masyarakatnya bekerja 80 jam seminggu, meminum bir bersama bos, lalu pulang ke apartemen mungil tanpa ada yang menyapa. Ada banyak uang di bank, tapi tak ada harapan untuk dibeli.
“Kau tahu kenapa aku senang mendengarkan ceritamu tentang Indonesia?” tanyanya di sebuah izakaya tua di Nippori.
Aku menatapnya.
“Karena kalian masih ribut. Masih berisik. Masih punya anak-anak yang berlari di gang-gang. Masih percaya bahwa hidup bisa berubah.”
Aku terdiam. Ia tak sedang memuji. Ia sedang merindukan sesuatu yang telah hilang di negerinya sendiri.
Hari-hari berlalu seperti kereta cepat Shinkansen.
Kami berbicara tentang Indonesia, tentang gunung dan hujan, tentang keluarga yang makan malam bersama.
Ia mendengarkan dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang tak pernah diajak bermain.
“Kau beruntung,” katanya suatu sore di Asakusa. “Negaramu masih punya suara anak-anak di pagi hari.”
“Jepang pun bisa,” kataku.
Ia tertawa. Ringan. Tapi getir.
“Tidak semudah itu. Di sini, kita diajarkan untuk tidak merepotkan. Bahkan saat ingin menangis, kita harus diam.”
“Menurutmu,” tanyanya tiba-tiba, “Indonesia akan seperti Jepang juga nanti?”
Aku menghela napas. “Bisa saja. Kalau kami terjebak dalam mengejar angka pertumbuhan, tapi lupa pada manusia.”
Ia tersenyum tipis.
“Tapi kalian masih punya waktu. Masih punya orang muda. Kalau pemerintahmu pandai mengelola, kalian bisa melompat jauh,” Aoi mendesah. “Jangan seperti kami yang berjalan mundur sambil menatap ke depan.”
Kami kembali ke Ueno di hari terakhirku.
Sakura hampir habis. Tanah tertutup kelopak, seperti karpet kenangan. Aoi membawa bekal—onigiri, telur dadar, dan teh.
Kami duduk tanpa banyak bicara. Hanya melihat orang-orang lewat: kebanyakan lansia, beberapa turis, nyaris tak ada anak-anak.
Angin berembus. Kelopak terakhir jatuh ke telapak tangannya. Ia mengepalkan tangan itu pelan, seolah menyimpan musim semi dalam genggaman.
“Aku ingin tinggal di negeri yang masih punya harapan,” bisik Aoi.
Aku menatapnya lama. Dan tahu, ini bukan sekadar perpisahan. Ini adalah penanda antara yang masih bisa berubah, dan yang telah terlalu jauh melangkah dalam kelelahan.
Tiga bulan setelah aku kembali ke Jakarta, aku menerima email darinya.
Aku pindah ke desa kecil di Hokkaido. Mengajar anak-anak petani. Muridku hanya lima. Tapi mereka tertawa. Aku mulai percaya: negeri ini belum sepenuhnya sunyi.
Aku membalas:
Indonesia menunggumu, bila kau ingin mendengar suara anak-anak di pagi hari lagi.
Karena cinta, seperti negara, membutuhkan regenerasi. Bukan hanya tubuh muda, tapi semangat untuk percaya pada hari esok.
Dan mungkin, kelak di musim yang lain, kami bisa kembali bertemu.
Bukan di bawah pohon sakura yang gugur. Tapi di antara teriakan anak-anak yang berlari, menanam harapan di tanah yang belum lelah.
Bogor, 17 Juni 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





