HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Anak-anak (belajar) Jujur

Redaksi by Redaksi
Juni 12, 2025
in Artikel, Pendidikan insklusif, Pendidikan POTRET Sekolah
Reading Time: 2 mins read
0
Anak-anak (belajar) Jujur
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Menjelang kenaikan kelas, ada kebiasaan yang tampak sederhana bagi anak-anak sekolahan di Kota Denpasar, namun sejatinya sarat makna: mereka mengembalikan buku paket ke sekolah.

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Maret 13, 2026

Hari-hati ini anak-anak ke sekolah membawa buku yang dulu dipinjamkan negara melalui sekolah, dan menyerahkannya kembali dalam keadaan utuh.

Tidak ada keluh, tidak ada pamrih. Anak-anak ini tak pernah tahu betul apakah mereka wajib mengganti bila buku rusak atau hilang, karena bagi mereka, sudah cukup jika amanat itu dikembalikan dengan baik.

Tapi yang luput disadari banyak orang dewasa adalah pengembalian buku oleh siswa berarti penghematan nyata. Efisiensi yang tak didengung-dengungkan. Buku adalah salah satu pos belanja terbesar dari Dana BOS—Biaya Operasional Sekolah.

Ketika buku dikembalikan dengan layak, maka tak perlu lagi sekolah membeli banyak untuk pengadaan buku baru. Dana BOS bisa difokuskan untuk membiayai kebutuhan lain: listrik yang terus menyala, air yang terus mengalir, toilet yang layak, pelatihan guru, kegiatan siswa, hingga perbaikan fasilitas yang nyaris runtuh.

Namun justru di tengah semangat penghematan itulah, paradoks menampar wajah publik: mengapa masih ada pungutan komite? Mengapa sekolah di kota pariwisata yang katanya “gratis” masih mengetuk hati orang tua/wali untuk menyumbang dengan dalih uang komite?

Ini bukan soal besaran rupiahnya. Ini soal kejujuran sistemik. Soal kenapa pemerintah bersusah payah menyusun regulasi, menetapkan anggaran, dan mengikrarkan pendidikan gratis—lalu dikhianati oleh mekanisme semi-formal bernama “komite sekolah”.

Kita tahu, dalam praktiknya, sumbangan komite sering tak lagi sukarela. Banyak yang mengeluh, tapi takut bersuara. Banyak yang tahu, tapi memilih diam. Banyak pejabat pendidikan yang tahu, tapi memilih memalingkan wajah, karena pungutan itu—konon—untuk “menutup kekurangan anggaran”.

Tapi bukankah Dana BOS ada untuk itu? Bukankah BOS dirancang agar tidak ada lagi beban di pundak orang tua? Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab atas pembiaran ini? Siapa yang menutup mata ketika niat baik negara dicemari oleh praktik yang menyesakkan?

Yang lebih menyakitkan adalah anak-anak kecil dengan polos mengembalikan buku paket dalam kondisi baik, para pengelola sekolah—yang seharusnya jadi teladan moral—menyusupkan celah pungutan dalam aturan. Mereka yang seharusnya mengajarkan kejujuran, justru menormalkan kebijakan yang abu-abu.

Kita sedang hidup di dunia paradoks: anak-anak lebih jujur dari orang dewasa. Negara lebih berniat baik daripada sebagian aparatur pelaksananya. Pendidikan dijanjikan gratis, tapi dalam praktiknya tetap saja berbayar, hanya namanya yang diganti menjadi “sumbangan”.

Jika dunia pendidikan terus dibiarkan seperti ini, maka jangan heran bila suatu hari kelak anak-anak yang kini jujur mengembalikan buku, akan tumbuh menjadi generasi yang belajar satu pelajaran pahit: bahwa sistem bisa dimanipulasi, dan kejujuran hanya milik mereka yang tak berkuasa.

Kuta, 12 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 187x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 108x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post
Amanah yang Berat

Amanah yang Berat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com